Wonosobo (ANTARA) - Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ikut membantu menekan angka putus sekolah dan meningkatkan motivasi melanjutkan pendidikan dengan melibatkan penyuluh agama dari Kantor Urusan Agama setempat.
Penyuluh Agama Islam KUA Selomerto A. Muzaki di Wonosobo, Kamis, menyampaikan keterlibatan penyuluh agama dalam Asa Cita merupakan bentuk kepedulian terhadap persoalan sosial yang masih dihadapi Wonosobo, khusus tingginya angka anak tidak sekolah.
Tahap pertama, sebanyak 287 fasilitator diterjunkan ke 287 kelas, terdiri atas ASN (67 orang), Non ASN (12 orang), guru (12 orang), mahasiswa (41 orang), masyarakat umum (36 orang), serta 120 penyuluh agama.
"Angka putus sekolah di Wonosobo masih cukup tinggi. Karena itu pemerintah daerah hadir memberikan motivasi agar anak-anak jangan sampai berhenti sekolah. Kalau putus sekolah, peluang masa depan mereka menjadi sangat terbatas," katanya.
Ia menambahkan, program ini juga selaras dengan tugas penyuluh agama dalam menyosialisasikan pencegahan pernikahan dini serta membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan formal.
Setiap penyuluh agama di KUA Selomerto mendapat tanggung jawab mendampingi tiga sekolah, sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih intensif dan berkelanjutan.
Menurut dia, peran tokoh agama dan para kiai sangat strategis dalam menyukseskan Asa Cita. Dengan basis jamaah dan majelis taklim yang kuat, pesan-pesan tentang pentingnya pendidikan dapat disisipkan dalam setiap pengajian.
"Pesan-pesan baik ini harus digaungkan oleh semua lini. Misalnya, saat kiai mengisi pengajian, bisa diselipkan motivasi agar orang tua mendukung anak-anaknya menyelesaikan pendidikan," katanya.
Ia juga mengakui bahwa tantangan terbesar di lapangan adalah masih kuatnya orientasi pendidikan nonformal dan pesantren salaf tanpa diimbangi pendidikan formal. Oleh karena itu, Asa Cita tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga kedepannya bisa menyasar orang tua dan lingkungan sekitar.
"Di era sekarang, ijazah formal tetap penting. Program Asa Cita akan berhasil jika didukung semua pihak, tidak hanya anak sekolah, tetapi juga orang tua dan masyarakat," katanya.
Humas MTs Takhasus Al-Qur’an Selomerto Kuat Susanto, menegaskan pendidikan merupakan hak sekaligus kebutuhan dasar bagi setiap anak.
"Bagaimanapun juga, anak adalah generasi penerus bangsa. Mereka harus sekolah. Ini tidak bisa ditawar. Sekolah itu sangat penting," katanya.
Menurutnya, konsep sekolah plus mondok menjadi pilihan ideal dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan akhlak.
"Sekolah memberi bekal pengetahuan duniawi, sedangkan mondok membentuk akhlak. Anak yang pintar tapi tidak dibarengi akhlak yang baik justru bisa menjadi perusak, baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, Program Asa Cita sangat relevan untuk memotivasi siswa agar tidak berhenti sekolah, mengingat kualitas sumber daya manusia sangat berpengaruh terhadap cara berpikir, berkomunikasi, dan berkontribusi di masyarakat.