
OJK dan penyuluh agama tingkatkan literasi keuangan syariah di wilayah Jateng-DIY

Purwokerto (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng penyuluh agama Islam untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di wilayah Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) .
Kegiatan yang digelar secara hibrida di Aula Kantor OJK Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu, dihadiri Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti serta Kepala Kantor OJK Purwokerto Haramain Billady, dan diikuti para penyuluh agama dari berbagai daerah di Jateng-DIY.
Kepala Kantor OJK Purwokerto Haramain Billady mengatakan kegiatan tersebut menandai dimulainya rangkaian program Gerak Syariah 2026 yang ditujukan untuk memperkuat pemahaman dan penggunaan produk serta layanan keuangan syariah di tengah masyarakat.
“Angka literasi keuangan syariah masih sekitar 45 persen, tertinggal dibandingkan literasi keuangan umum yang sudah mencapai sekitar 60 persen,” katanya.
Ia mengatakan tingkat inklusi atau penggunaan produk keuangan syariah juga masih berada di kisaran belasan persen, sedangkan inklusi keuangan umum telah mendekati 80 persen, sehingga diperlukan upaya edukasi yang lebih masif dan berkelanjutan.
Menurut dia, penyuluh agama memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat dan menjadi figur yang dipercaya, sehingga dinilai efektif untuk menyampaikan edukasi keuangan syariah dalam kegiatan pembinaan dan dakwah.
“OJK tidak bisa bergerak sendirian. Kami membutuhkan bantuan para penyuluh agama sebagai tokoh yang bertemu langsung dengan masyarakat untuk mendorong pertumbuhan keuangan syariah,” katanya.
Ia mengatakan peningkatan literasi juga penting untuk menekan maraknya penipuan keuangan dan praktik scam yang kerap terjadi akibat rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan.
Dalam program Gerak Syariah 2026, pihaknya menyiapkan sejumlah agenda dan kompetisi, di antaranya lomba kultum keuangan syariah, lomba reels Instagram, lomba seni hadroh, serta pemilihan penyuluh agama terbaik yang aktif melakukan edukasi keuangan syariah.
“Sepanjang 2025, OJK telah melaksanakan sekitar 115 kegiatan edukasi keuangan, dan pada 2026 jangkauan program ditargetkan semakin luas dengan pelibatan penyuluh agama dan berbagai komunitas,” kata Haramain.
Sementara itu, Wakil Bupati Banyumas mengatakan perkembangan layanan keuangan digital yang pesat membawa kemudahan sekaligus risiko bagi masyarakat apabila tidak diimbangi pemahaman yang memadai.
“Meskipun teknologi mempermudah akses perbankan dan pendidikan, masyarakat kini dihadapkan pada risiko terjebak dalam pinjaman ilegal serta edukasi keuangan yang menyesatkan,” katanya.
Dia mengatakan edukasi tata kelola keuangan keluarga sangat krusial untuk membantu masyarakat menentukan skala prioritas, mengelola pengeluaran, dan menghindari gaya hidup konsumtif berlebihan.
Menurut dia, pesan yang disampaikan penyuluh agama memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku ekonomi warga, sehingga diharapkan dapat meningkatkan literasi, mendorong pengambilan keputusan keuangan yang bijak, serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga hingga tingkat desa.
“Sinergi antara pemerintah daerah, otoritas keuangan, dan penyuluh agama menjadi langkah strategis agar literasi keuangan tidak hanya menjadi pengetahuan, juga fondasi kekuatan ekonomi masyarakat,” kata Wabup.
Baca juga: OJK Purwokerto: UMKM masih jadi penopang kinerja jasa keuangan di Banyumas Raya
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
