Dinkes Boyolali imbau warga waspadai batuk-flu dampak cuaca ekstrem
Kamis, 13 Oktober 2022 10:08 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali dokter Puji Astuti saat memberikan keterangan di Kantor Dinkes Kabupaten Boyolali, Kamis (13/10/2022). ANTARA/Bambang Dwi Marwoto.
Boyolali (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah mengimbau masyarakat setempat untuk waspadai penyakit batuk dan flu (pilek) akibat cuaca ekstrem di wilayah itu.
"Penyakit batuk dan pilek di Boyolali saat cuaca ekstrem memang mendominasi atau kasusnya tertinggi dibanding kasus-kasus lainnya. Kami mencatat memasuki musim hujan ekstrem ini ada peningkatan jumlah kunjungan masyarakat ke seluruh puskesmas dan pasien yang paling banyak karena batuk dan pilek (Common Cold)," kata Kepala Dinkes Kabupaten Boyolali Puji Astuti di Boyolali, Kamis.
Ia menjelaskan data yang dilaporkan dari seluruh puskesmas di Boyolali, kasus batuk pilek mencapai 21.570 laporan sepanjang Januari hingga September 2022.
Dari data kasus penyakit batuk pilek sejak Juli hingga September 2022, mengalami kenaikan. Pada Juli penyakit batuk pilek di Boyolali mencapai 2.372 kasus, Agustus terjadi penambahan dengan total 3.804 kasus. Jumlah kasus batuk pilek pada September bertambah menjadi 4.070 kasus.
"Sedangkan pada bulan ini, hingga Senin (10/10), kasus batuk pilek sudah mencapai 1.025 pasien," katanya.
Baca juga: Warga batuk pilek diminta tetap pakai masker
Selain batuk pilek, kata dia, yang mendominasi kunjungan masyarakat ke puskesmas Boyolali secara umum meliputi hipertensi, myalgia, ispa, kunjungan hamil, dispepsi atau gangguan lambung, dan sakit kepala.
Dinkes Boyolali mengimbau masyarakat agar meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kebersihan lingkungan dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Dinkes mengingatkan masyarakat menjaga daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang baik bisa melindungi masyarakat dari virus.
"Langkah-langkah menguatkan imunitas tubuh bisa dimulai dengan makan teratur, istirahat atau tidur cukup, konsumsi vitamin, mencukupi kebutuhan buah dan sayur, serta jaga kebersihan protokol kesehatan," katanya.
Selain itu, lanjut dia, kebersihan lingkungan termasuk faktor penting yang mesti dijaga saat memasuki cuaca ekstrem, antara lain perbaikan sanitasi, menjaga kebersihan, dan kesehatan lingkungan.
Baca juga: Vaksin influenza bisa diberikan 1 tahun sekali
Baca juga: Warga berusia 60 tahun di Indonesia jadi prioritas vaksin influenza
"Penyakit batuk dan pilek di Boyolali saat cuaca ekstrem memang mendominasi atau kasusnya tertinggi dibanding kasus-kasus lainnya. Kami mencatat memasuki musim hujan ekstrem ini ada peningkatan jumlah kunjungan masyarakat ke seluruh puskesmas dan pasien yang paling banyak karena batuk dan pilek (Common Cold)," kata Kepala Dinkes Kabupaten Boyolali Puji Astuti di Boyolali, Kamis.
Ia menjelaskan data yang dilaporkan dari seluruh puskesmas di Boyolali, kasus batuk pilek mencapai 21.570 laporan sepanjang Januari hingga September 2022.
Dari data kasus penyakit batuk pilek sejak Juli hingga September 2022, mengalami kenaikan. Pada Juli penyakit batuk pilek di Boyolali mencapai 2.372 kasus, Agustus terjadi penambahan dengan total 3.804 kasus. Jumlah kasus batuk pilek pada September bertambah menjadi 4.070 kasus.
"Sedangkan pada bulan ini, hingga Senin (10/10), kasus batuk pilek sudah mencapai 1.025 pasien," katanya.
Baca juga: Warga batuk pilek diminta tetap pakai masker
Selain batuk pilek, kata dia, yang mendominasi kunjungan masyarakat ke puskesmas Boyolali secara umum meliputi hipertensi, myalgia, ispa, kunjungan hamil, dispepsi atau gangguan lambung, dan sakit kepala.
Dinkes Boyolali mengimbau masyarakat agar meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kebersihan lingkungan dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Dinkes mengingatkan masyarakat menjaga daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang baik bisa melindungi masyarakat dari virus.
"Langkah-langkah menguatkan imunitas tubuh bisa dimulai dengan makan teratur, istirahat atau tidur cukup, konsumsi vitamin, mencukupi kebutuhan buah dan sayur, serta jaga kebersihan protokol kesehatan," katanya.
Selain itu, lanjut dia, kebersihan lingkungan termasuk faktor penting yang mesti dijaga saat memasuki cuaca ekstrem, antara lain perbaikan sanitasi, menjaga kebersihan, dan kesehatan lingkungan.
Baca juga: Vaksin influenza bisa diberikan 1 tahun sekali
Baca juga: Warga berusia 60 tahun di Indonesia jadi prioritas vaksin influenza
Pewarta : Bambang Dwi Marwoto
Editor : M Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pupuk Indonesia catat serapan pupuk subsidi di Boyolali tertinggi di Jawa Tengah
30 January 2026 18:49 WIB
Pemkab Boyolali tingkatkan layanan kesehatan dengan alat general monitor diagnostic
22 January 2026 19:08 WIB
Deklarasi Boyolali digaungkan bersama pada puncak peringatan Hari Desa Nasional 2026
15 January 2026 16:11 WIB
Lima finalis Festival Film Desa HDN 2026 ditonton bareng lewat layar tancap
15 January 2026 14:29 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Pemkot Semarang imbau warga tak panik soal penonaktifan puluhan ribu peserta PBI
06 February 2026 20:58 WIB
UMS kembangkan sistem pengelolaan limbah plastik medis di RS PKU Karanganyar
03 February 2026 16:53 WIB
RSUD Loekmono Hadi Kudus bebaskan biaya perawatan siswa keracunan naik kelas ke VIP
03 February 2026 13:11 WIB
Penyakit jantung dan kanker masih jadi penyebab kematian tertinggi, gaya hidup disebut faktor utama
02 February 2026 16:03 WIB
Dinkes: Mayoritas siswa SMAN 2 Kudus yang rawat inap sudah sembuh dan diperbolehkan pulang
02 February 2026 9:35 WIB