Kabupaten Pekalongan masuk ranking 10 berisiko bencana
Minggu, 29 April 2018 21:39 WIB
Ilustrasi-Bencana tanah longsor dari tebing lahan tanaman sayuran warga akibat hujan deras di Jalur Solo-Selo-Boyolali (SSB) tepatnya di Dukuh Candi Betak Desa Genting Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali, Jumat siang. (Foto: Bambang Dwi Marwoto)
Pekalongan (Antaranews Jateng) - Wilayah Kabupaten Pekalongan, masuk ranking 10 berisiko bencana dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, kata Ketua Palang Merah Indonesia Kabupaten Pekalongan, Arini.
"Oleh karena, kami memandang perlu untuk melatih masyarakat di wilayah dataran tinggi menjadi anggota `Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) agar dapat berperan sebagai ujung tombak dalam penanganan bencana," katanya di Pekalongan, Minggu.
Menurut dia, pelatihan "Siaga Bencana Berbasis Masyarakat" merupakan salah satu program prioritas PMI untuk memberdayakan masyarakat dalam penanggulangan bencana.
"Urusan PMI kini tidak lagi hanya sekadar urusan donor darah melainkan juga pada permasalahan sosial dan kemanusiaan," katanya.
Ia mengatakan bahwa dengan adanya anggota Sibat maka masyarakat dapat lebih memiliki inovasi dan kreasi untuk pengembangan kapasitasnya dalam menjalankan fungsi pelayanan.
PMI, kata dia, membutuhkan para relawan yang sigap membantu program kerja lembaga sosial ini, khususnya pada penanganan bencana alam yang belakangan ini terjadi di wilayah setempat, seperti longsor, banjir, dan kebakaran.
"Saya berharap dengan pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas relawan `sibat` dalam pengetahuan, sikap, dan ketrampilan secara terintegrasi pada lingkungan tempat tinggal masing-masing," katanya.
Ia menambahkan Propinsi Jawa Tengah menempati ranking 13 risiko tinggi bencana di Indonesia.
"Oleh karena, kami memandang perlu untuk melatih masyarakat di wilayah dataran tinggi menjadi anggota `Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) agar dapat berperan sebagai ujung tombak dalam penanganan bencana," katanya di Pekalongan, Minggu.
Menurut dia, pelatihan "Siaga Bencana Berbasis Masyarakat" merupakan salah satu program prioritas PMI untuk memberdayakan masyarakat dalam penanggulangan bencana.
"Urusan PMI kini tidak lagi hanya sekadar urusan donor darah melainkan juga pada permasalahan sosial dan kemanusiaan," katanya.
Ia mengatakan bahwa dengan adanya anggota Sibat maka masyarakat dapat lebih memiliki inovasi dan kreasi untuk pengembangan kapasitasnya dalam menjalankan fungsi pelayanan.
PMI, kata dia, membutuhkan para relawan yang sigap membantu program kerja lembaga sosial ini, khususnya pada penanganan bencana alam yang belakangan ini terjadi di wilayah setempat, seperti longsor, banjir, dan kebakaran.
"Saya berharap dengan pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas relawan `sibat` dalam pengetahuan, sikap, dan ketrampilan secara terintegrasi pada lingkungan tempat tinggal masing-masing," katanya.
Ia menambahkan Propinsi Jawa Tengah menempati ranking 13 risiko tinggi bencana di Indonesia.
Pewarta : Kutnadi
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPBD Banjarnegara-Cilacap tandatangani PKS perkuat sinergi penanggulangan bencana
02 June 2026 18:31 WIB
Undip-BRIN-Griffith University Australia luncurkan buku tantangan iklim Pantura
25 May 2026 19:43 WIB
Muhammadiyah ingatkan resiliensi bencana penting bagi pangan-ekonomi Jateng selatan
15 May 2026 14:14 WIB