
Pemkot Semarang tekankan kerja sama antardaerah untuk menangani banjir

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Kota Semarang menekankan pentingnya kerja sama antardaerah dalam penanganan banjir dan rob di wilayah pesisir yang masih menjadi tantangan klasik bagi Kota Atlas.
Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, di Kabupaten Grobogan, Jumat, secara khusus menyoroti Sungai Babon yang hulunya berada di wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal.
Ia menjelaskan bahwa karakteristik Sungai Babon sangat ganas karena memiliki sudut kemiringan yang besar.
Akibatnya, kata dia, jika terjadi hujan deras di wilayah hulu, debit air akan mengalir dengan kecepatan sangat tinggi dan memicu banjir parah di wilayah hilir, seperti di kawasan Genuk dan Muktiharjo.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri acara Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Kabupaten Grobogan.
Forum strategis tersebut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, jajaran Kepala OPD Pemprov Jateng, serta para kepala daerah se-Kedungsepur.
"Ini adalah keprihatinan yang harus kita tangkap bersama sebagai persoalan besar. Anggaran fiskal Kota Semarang tidak akan pernah cukup jika hanya dihabiskan untuk menangani persoalan klasik ini secara sepihak," katanya.
Banyak persoalan lingkungan, seperti penurunan muka tanah (land subsidence) sebesar 10-12 sentimeter per tahun di kawasan Pantura tetap memerlukan penanganan yang komprehensif.
"Sebagai kota yang berada di wilayah hilir, Kota Semarang berkomitmen menjadi 'resilient city' atau kota yang berketahanan. Namun, beban yang kami hadapi sangat besar karena dipengaruhi oleh kondisi di wilayah hulu," katanya.
Bahkan, Iswar mencatat adanya anomali cuaca yang signifikan pada tahun ini yang jika biasanya genangan besar di wilayah Muktiharjo hanya terjadi satu hingga dua kali dalam setahun, pada tahun ini tercatat sudah lima kali terjadi banjir.
Iswar menambahkan penanganan secara teknis, seperti normalisasi sungai atau pengerukan, memang bisa dilakukan, namun biaya konstruksi fisik tersebut jauh lebih besar dibandingkan komitmen memperbaiki lingkungan dari sektor hulu.
Menanggapi usulan Bupati Demak dalam forum tersebut, Pemkot Semarang sepakat untuk menggalakkan kembali aksi reboisasi dan penanaman pohon di wilayah atas guna menahan laju air.
Langkah tersebut dinilai selaras dengan visi jangka panjang untuk mewujudkan kawasan Kedungsepur sebagai pusat "sustainable tourism" pariwisata yang berkelanjutan.
"Kami berharap forum ini dapat melahirkan pemikiran jangka panjang agar kita bisa bareng-bareng kembali mengelola dan menjaga lingkungan dengan baik demi kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah," pungkasnya.
Baca juga: Pria hanyut di Kanal Banjir Barat Semarang ditemukan tim SAR
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
