
Pemerintah tegaskan pendidikan hak semua warga negara tanpa kecuali

Purwokerto (ANTARA) - Pemerintah menegaskan pendidikan merupakan hak semua warga negara tanpa pengecualian sebagai bagian dari komitmen menghadirkan layanan pendidikan yang setara dan inklusif di seluruh Indonesia.
“Kami menyampaikan bahwa sesuai konstitusi Pasal 33 UUD 1945, negara hadir untuk masyarakat, untuk semua. Bahwa pendidikan itu semuanya memiliki hak dan tidak ada perbedaan, semuanya setara,” kata Asisten Deputi Bidang Penyelenggaraan Sidang Kabinet Sekretariat Negara Sjahriati Rochmah di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu.
Dia mengatakan prinsip kesetaraan tersebut sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika serta menjadi dasar penguatan pendidikan inklusif di Indonesia.
Menurut dia, forum nasional tersebut menjadi momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk melalui pendekatan multibahasa dan pengenalan budaya.
“Kami di sini akan memberikan dukungan penuh agar pembelajarannya, pendidikan dan pengenalan budaya baik Indonesia maupun negara sahabat menjadi lebih kuat,” katanya usai menghadiri Forum Nasional Sekolah 3 Bahasa se-Indonesia yang diisi Deklarasi “Pendidikan Tanpa Perbedaan” di Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua School) Purwokerto.
Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Beijing periode 2022-2025, Yudil Chatim menekankan pentingnya sinergi akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media (ABGCM) dalam mendorong kemajuan pendidikan.
“Akademik tidak bisa berjalan sendiri, harus bermitra dengan dunia usaha, pemerintah, komunitas, dan media. Kerja sama ini sudah berjalan melalui kemitraan antarkampus dan dengan berbagai provinsi di Tiongkok,” katanya.
Ia menilai kerja sama tersebut perlu terus ditingkatkan, terutama untuk mendukung alih teknologi dan peningkatan daya saing sumber daya manusia Indonesia.
“Perkembangan Tiongkok sangat cepat, sehingga kita perlu belajar, termasuk melalui penguasaan bahasa dan budaya,” katanya.
Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia di Surabaya, Mr Ye Su menilai sekolah tiga bahasa memiliki peran penting dalam meningkatnya minat pembelajaran bahasa Mandarin di Indonesia.
“Sekolah trilingual merupakan model penting untuk pendidikan bahasa Mandarin di Indonesia, seiring meningkatnya hubungan historis, investasi, dan kerja sama perdagangan kedua negara,” katanya.
Ia mengatakan kebutuhan tenaga kerja yang menguasai bahasa Mandarin juga meningkat seiring berkembangnya perusahaan Tiongkok di Indonesia.
“Semakin banyak pemuda Indonesia yang belajar bahasa Mandarin akan memperkuat hubungan kedua negara,” katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Dewan Pengembangan Puhua yang juga Sekretaris Yayasan Putera Harapan Banyumas Shanti K Nugroho mengatakan kegiatan tersebut digelar dalam rangka peringatan 20 tahun Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan.
“Sejak berdiri, kami meyakini pendidikan harus berakar pada nilai kebangsaan sekaligus terbuka pada dunia global melalui penguasaan bahasa,” katanya.
Dia mengatakan sekolah tiga bahasa menggabungkan Bahasa Indonesia, bahasa daerah, serta bahasa asing sebagai bekal generasi muda menghadapi tantangan global.
Menurut dia, konsep “Pendidikan Tanpa Perbedaan” menjadi landasan dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mencerminkan keberagaman Indonesia.
“Sekolah ini menjadi miniatur Indonesia, tempat anak-anak dari berbagai latar belakang belajar bersama dan saling menghargai,” katanya.
Dia mengatakan model pendidikan tersebut juga relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional, terutama dalam menyiapkan generasi yang siap kerja dan mampu bersaing secara global.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Sekolah Tiga Bahasa Indonesia (Perstibi) Yudi Susanto mengatakan sekolah tiga bahasa terus berkembang sebagai bagian dari transformasi pendidikan nasional yang semakin inklusif.
“Sekolah tiga bahasa ini adalah model pendidikan yang terus berkembang dan menunjukkan kontribusinya bagi Indonesia, terutama dalam memperkuat kompetensi bahasa dan keterbukaan global,” katanya.
Menurut dia, tantangan ke depan adalah memperluas partisipasi serta memperkuat kualitas pendidikan, termasuk dalam pemenuhan tenaga pendidik.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
