
Program SPRING di PKD Sumingkir perkuat stimulasi tumbuh kembang anak usia dini

Slawi (ANTARA) - Pos Kesehatan Desa (PKD) Sumingkir, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, menggelar kelas stimulasi anak usia dini melalui Program SPRING (Early Stimulation in Primary Health Service Integration) yang terintegrasi dengan kegiatan posyandu dan skema Integrasi Layanan Primer (ILP).
Kelas stimulasi tersebut ditujukan untuk mendukung tumbuh kembang anak usia 0-6 tahun secara optimal melalui deteksi dini dan stimulasi yang tepat pada masa golden age, ketika perkembangan otak berlangsung sangat pesat.
Ruangan PKD yang biasanya digunakan untuk rapat disulap menjadi area stimulasi anak. Pada hari pelaksanaan, suasana tampak ramai oleh aktivitas belajar sambil bermain, seperti menyusun puzzle dan permainan bola kecil dengan pendampingan orang tua.
Fasilitator dalam kelas tersebut menjelaskan pola pengasuhan yang sesuai dengan tahapan usia anak. Para orang tua tampak duduk melingkar, menyimak penjelasan, mencatat, lalu mempraktikkan langsung cara mendampingi anak bermain.
"Setiap usia beda perlakuannya. Stimulasi tidak harus mahal, bisa lewat bermain sederhana seperti menyusun puzzle atau permainan bola. Yang penting ada interaksi dan pendampingan," ujar Bidan Desa Sumingkir, Siti Mafruroh, yang juga merupakan Koordinator Desa Program SPRING di Desa Sumingkir.
Siti mengatakan Program SPRING merupakan kolaborasi Tanoto Foundation dengan Pemerintah Kabupaten Tegal. Program tersebut melengkapi layanan posyandu yang selama ini berfokus pada penimbangan, pengukuran tinggi badan, lingkar kepala, hingga pemberian vitamin.
"Dengan Program SPRING, layanan di PKD tidak hanya memantau fisik anak, tetapi juga perkembangan otak, bahasa, motorik, dan sosialnya. Ini bagian dari penguatan ILP," katanya.
Sebelum program berjalan di PKD dan Posyandu, sebanyak 35 peserta yang terdiri atas kader posyandu dan tenaga kesehatan mengikuti pelatihan intensif selama lima hari pada Desember 2025. Mereka mendapatkan materi stimulasi perkembangan anak usia 0-6 tahun, teknik komunikasi, serta pemanfaatan Buku KIA dan Alat Permainan Edukatif (APE).
Sejak Januari 2026, kelas stimulasi rutin digelar di PKD Sumingkir setiap Senin, Rabu, dan Sabtu. Setiap kelas diikuti sekitar 10-12 pasangan ibu dan anak sebagai percontohan.
Menurut Siti, hasil awal program mulai terlihat dari perubahan perilaku anak dan keterlibatan orang tua. Anak-anak yang sebelumnya cenderung pasif mulai lebih aktif bermain dan bersosialisasi, sedangkan orang tua lebih aktif bertanya serta memahami pentingnya stimulasi sejak dini.
"Anak yang awalnya pasif sekarang mulai aktif bermain dan mencoba APE sesuai usianya. Orang tua juga punya 'PR' untuk melanjutkan stimulasi di rumah," tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), pendekatan Integrasi Layanan Primer (ILP) dirancang menyeluruh dan berkesinambungan, mencakup seluruh siklus kehidupan ibu dan anak, mulai dari masa kehamilan, persalinan, bayi, balita, hingga usia sekolah.
Pendekatan tersebut, kata dia, menekankan pentingnya kesinambungan layanan promotif dalam satu sistem pelayanan terpadu. Dalam konteks stimulasi tumbuh kembang, stimulasi otak untuk usia 0-12 bulan berfokus pada sensorik hingga ikatan emosional.
Ia mencontohkan, orang tua perlu menatap mata bayi saat berbicara, mengajaknya berbicara, mengulangi ocehan anak, hingga memutar musik lembut untuk menguatkan koneksi saraf sensorik.
Untuk anak usia 1-2 tahun, stimulasi pertumbuhan otak diarahkan pada bahasa dan eksplorasi, antara lain melalui membacakan buku bergambar, bermain sebab-akibat dengan menyusun balok untuk melatih logika dasar, serta mengenalkan warna.
Sementara pada usia 2-4 tahun, fokus stimulasi diarahkan pada pengembangan imajinasi dan emosi, misalnya melalui permainan peran sebagai penjual dan pembeli, bermain masak-masakan, serta puzzle untuk melatih kemampuan pemecahan masalah.
Adapun pada usia 4-6 tahun, stimulasi otak difokuskan pada kemampuan anak mengontrol diri, mengingat instruksi, dan menyelesaikan tugas. Pada tahap ini, orang tua dapat mulai mengenalkan kegiatan membaca, menulis, dan berhitung untuk memperkuat logika anak.
"Masa golden age ini sangat penting, jadi tumbuh kembang anak di usia ini benar-benar harus diperhatikan," ujar Siti.
Salah satu peserta kelas, Nur Sopiyatun, mengaku rutin mengikuti kegiatan stimulasi bersama anak keduanya, Affan, yang berusia hampir enam tahun. Ia menyebut harus berjalan sekitar 15 menit dari rumah untuk mengikuti kelas di PKD Sumingkir.
Saat ditemui, Affan tampak bermain puzzle bersama ibunya. Selain itu, ia juga berlatih mengenali warna, bermain bola kecil, serta belajar membaca dan menulis, sementara Sopiyatun mendapatkan pendampingan mengenai pola pengasuhan anak.
"Di sini diajari banyak pola pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Misalnya, kalau ngomong sama anak harus lembut dan nggak boleh pakai kata-kata 'jangan', karena itu tidak baik," kata Nur Sopiyatun.
Perempuan 48 tahun itu menilai program tersebut membantu dirinya memahami parenting sekaligus mendampingi anak belajar dengan cara yang lebih menyenangkan.
"Anaknya senang belajar di sini, bisa sambil main. Saya juga dapat ilmu tentang parenting," ujarnya.
Ia mengaku mulai merasakan perubahan pada anaknya setelah sekitar sebulan mengikuti kelas, antara lain anak menjadi lebih aktif, lebih mudah diajak berkomunikasi, lebih perhatian, dan lebih percaya diri.
"Kalau perbedaannya, anak kedua ini lebih aktif dan percaya diri dibanding kakaknya dulu. Dia juga lebih penurut, saya selalu memberikan pemahaman yang mudah ditangkap oleh pemikirannya," katanya.
Nur Sopiyatun juga mengatakan dirinya kini lebih sabar dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Jika sebelumnya mudah terpancing emosi saat anak rewel, kini ia memilih menenangkan diri dan mengajak anak berbicara pelan-pelan.
"Di rumah sering ngobrol sama anak. Jadi kalau saya lagi marah, anak tidak saya perlakukan kasar, lebih bisa sabar untuk ngurus anak," tandasnya.
Pewarta: Rilis
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
