Dampak COVID-19, puluhan kapal nelayan di Batang memilih tak melaut

id Nelayan Batang, tidak melaut

Dampak COVID-19, puluhan kapal nelayan di Batang  memilih tak melaut

Puluhan kapal nelayan di Kabupaten Batang tidak melaut karena terdampak COVID-19. (ANTARA/Kutnadi)

Batang (ANTARA) - Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang Teguh Tarmujo mengatakan puluhan kapal nelayan berbobot 80 Gross Ton (GT) di Batang memilih tidak melaut seiring dengan adanya COVID-19. 

"Saat ini, para nelayan memilih menyandarkan kapalnya di dermaga karena banyak perusahaan pengolahan ikan yang tidak beroperasi," katanya di Batang, Selasa.

Menurut dia, selama ini, hasil tangkapan ikan disetorkan ke sejumlah perusahaan pengolahan ikan, namun pelaku usaha itu sudah tidak beraktivitas karena adanya wabah tersebut.

Meski demikian, kata dia, kondisi ini berbeda dengan para nelayan yang mempunyai kapal berbobot 40 GT, karena mereka memutuskan untuk tetap melaut.

"Bagi kapal nelayan berbobot 40 GT tetap melaut karena surat izin melaut sudah keluar sehingga mereka tetap mencari ikan meski saat ini harga ikan turun hingga 30 persen," katanya.

Ia mengatakan wabah virus corona memang mempengaruhi aktivitas para nelayan sehingga mereka mulai kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Para nelayan nekad mencari ikan di laut karena hasil tangkapan ikan hanya untuk mengembalikan modal mengingat harga ikan juga anjlok. Jika tidak berangkat melaut, surat izin melaut yang diurus sebelumnya sudah keluar sehingga mereka dilematis," katanya.

Tokoh nelayan Kabupaten Batang, Nur Untung Slamet mengatakan bahwa sebagian warga di pelabuhan Klidang Lor mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan.

"Akan tetapi dengan adanya pandemi corona maka kini kondisi para nelayan memprihatinkan. Jika nelayan melaut selama 25 hari biasanya mendapatkan hasil Rp3 juta. Namun, karena pandemi COVID-19 maka harga ikan turun drastis sehingga pendapatan yang diperoleh hanya sekitar Rp1 juta," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar