Ganjar buka peluang Stadion Jatidiri Semarang dikelola swasta

id ganjar stadion jatidiri

Ganjar buka peluang Stadion Jatidiri Semarang dikelola swasta

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (tengah) didampingi Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jateng Sinoeng N. Rachmadi (kanan) mengecek lintasan atletik di kompleks Stadion Jatidiri Semarang. ANTARA/HO/Humas Pemprov Jateng

Semarang (ANTARA) - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membuka peluang Stadion Jatidiri, Kota Semarang, dikelola secara profesional oleh pihak swasta sehingga bisa menjadi ecosport tourism.

"Nanti pengelolaannya kita harapkan bukan dari pemda tapi kita carikan profesional untuk mengelola sehingga mereka yang mengelola punya pengalaman untuk bisnis properti, dia bisa menjual, merawat," katanya saat mengecek pengerjaan lintasan atletik di Stadion Jatidiri, Semarang, Jumat.

Menurut Ganjar, dengan sistem pengelolaan seperti itu diharapkan Stadion Jatidiri tidak terus-menerus bergantung pada pembiayaan dari negara, dan publik juga bisa menyewa.

Baca juga: Pembangunan stadion utama Olimpiade Tokyo 2020 rampung

Stadion Jatidiri yang saat ini masih dalam tahap revitalisasi mempunyai kapasitas 45 ribu tempat duduk yang terdiri dari tiga lantai tribun dan ditunjang dua lift.

Eksterior dan interior Stadion Jatidiri didesain merepresentasikan budaya Jawa dan digadang-gadang menjadi stadion termegah ketiga di Indonesia setelah Stadion Gelora Bung Karno dan Stadion Jakabaring.

Stadion Jatidiri itu menggunakan rumput dari Italia dan ditunjang lampu yang dipakai Stadion Gelora Bung Karno.
Dengan segala kelebihan itu, Ganjar berharap Stadion Jatidiri dapat dikelola secara profesional.

Saat ini pembangunan Stadion Jatidiri telah merampungkan tahap keempat yang meliputi atap stadion, aluminium composite panel (ACP), trek lintasan atletik standar Intenational Association of Athletics Federations (IAAF), dan "mechanical electric".

Secara total stadion yang menyerap anggaran mencapai Rp1,1 triliun itu bakal rampung akhir 2020.

Gubernur Ganjar yang meninjau beberapa pengerjaan tampak takjub dengan beberapa kelebihan yang dimiliki.

"Kita melihat perkembangan pembangunan GOR Jatidiri yang publik banyak menunggu. Dengan segala banyak ceritanya dan perkembangannya sangat menarik, sangat bagus. Untuk joging trek seperti ini katanya di Indonesia ada tiga, di GBK, Jatidiri dan Papua. Ternyata membuatnya tidak gampang," ujarnya.

Terkait dengan besarnya biaya pembangunan stadion dan kompleks Stadion Jatidiri, Ganjar berharap kontraktor tidak main-main dan meminta masyarakat untuk turut mengawal guna mengantisipasi penyelewengan.

"Saya pesan kepada kontraktor, tolong bangun dengan kualitas paling bagus. Saya minta masyarakat ikut mengawal, integritasnya dijaga. Jangan sampai ada yang mengganggu pembangunan Jatidiri ini," katanya.

Selain stadion, di komplek Stadion Jatidiri juga tengah dibangun fasilitas GOR, kolam renang indoor, lapangan tenis standar internasional, lapangan voli pasir, kemudian sepatu roda.

Selain itu juga asrama, Sekolah Khusus Olahraga (SKO), gedung terpadu untuk tempat latihan cabang olahraga perorangan seperti silat, dan gedung penunjang parkir vertikal.

"Ini biayanya mahal, ini duitnya rakyat mari kita jaga bersama-sama. Ini pesan paling penting, makanya tadi kita cek satu persatu. Kursinya bagus atau tidak, toiletnya sistemnya bekerja bagus atau tidak. Lapangannya ini belum selesai," katanya.

Seluruh pengerjaan komplek tersebut memiliki satu desain besar yaitu penggabungan antara olahraga, penghijauan, dan kebudayaan dengan desain seperti itu Ganjar mengatakan ke depan komplek Stadion Jatidiri bukan hanya sebagai fasilitas olahraga, namun juga wisata.

"Stadion ini adalah yang kita desain menuju 'ecosport tourism'. Mereka semua yang ada di area Stadion Jatidiri akan mendapatkan kenyamanan dan bisa piknik. Dan akan kita bangun terus," ujarnya.(LHP)

Baca juga: Gubernur bangga Manahan Solo tempat Piala Dunia U-20
Baca juga: Stadion Manahan Solo siap gelar Piala Dunia U-20
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar