Kemkominfo ajak milenial Semarang bijak bermedia sosial

id kominfo ajak milenia,bijam bersosial media

Kemkominfo ajak milenial Semarang bijak bermedia sosial

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Widodo Muktiyo (berdiri depan tiga dari kiri) berfoto bersama para peserta Forum Dialog dan Literasi Media. ANTARA/Wisnu Adhi

Semarang (ANTARA) - Kementerian Komunikasi dan Informatika yang bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Semarang mengajak kalangan milenial di ibu kota Provinsi Jawa Tengah untuk bijak dalam menggunakan gawai dan bersosial media sebagai salah satu upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Gawai (yang bisa digunakan untuk mengakses berbagai sosial media) memang telah menjembatani lompatan dalam kehidupan manusia, namun demikian sebagai alat, mestinya dapat dimanfaatkan dengan tepat," kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Widodo Muktiyo di Semarang, Sabtu.

Menurut dia, perkembangan teknologi, khususnya gawai dinilai telah menjadi candu dalam kehidupan karena hampir sebagian besar waktu kini digunakan masyarakat dengan menggunakan gawai.

Baca juga: Kementerian Kominfo luncurkan Tanda Tangan Elektronik

Dirinya juga menyayangkan kebiasaan orang tua yang memberikan gawai kepada anak dari usia yang sangat dini sehingga dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif terhadap anak, terutama dalam hal kesehatan.

"Dampak buruknya tidak akan terjadi pada kita, terlebih kepada bangsa dan negara. 'Gadget' memang menjadi godaan paling besar saat ini," ujarnya.

Hal tersebut disampaikan Widodo Muktiyo saat membuka Forum Dialog dan Literasi Media Bijak Bersosial Media Jaga Keutuhan Bangsa di Kampus 1 UIN Walisongo Semarang.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Walisongo Semarang Mukhsin Jamil mengatakan bahwa pada era globalisasi ini, perkembangan teknologi setidaknya telah memunculkan tiga fenomena yang harus diperhatikan yakni deteritorialisasi, deotoritasi, dan komersialisasi.

Deteritorialisasi, lanjut dia, hilangnya batas geografis, ideologi dan yang lainnya karena difasilitasi kemudahan komunikasi melalui media sosial.

"Media sosial kini menjadi sasaran komersialisasi. Ini memang menjadi tantangan, namun juga bisa menjadi kesempatan kalau pemanfaatannya dilakukan dengan tepat," ujarnya.

Terkait dengan hal itu, dirinya berharap penggunaan gawai dilakukan berdasar tujuan untuk kemaslahatan manusia agar memberikan dampak positif terhadap semua pihak.

Sementara itu, Ketua Keluarga Alumni UIN Walisongo Semarang Lukman Khakim menambahkan, persoalan gawai terutama media sosial, memang perlu disikapi serius karena pemanfaatan yang tidak sesuai semestinya dapat memberikan dampak yang sangat berbahaya.

"Harusnya media sosial ini dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Untuk kebaikan negeri kita agar tetap aman dan damai. Sayangnya tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk membuat kegaduhan, ujaran kebencian," katanya.

Baca juga: Pakar: Kominfo perlu siapkan regulasi terkait masyarakat produsen konten
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar