Pengendalian plastik jangan sekadar retorika "go green"

id pengendalian plastik, go green, ganjar pranowo

Pengendalian plastik jangan sekadar retorika "go green"

Pemulung mencari sampah plastik yang bisa dimanfaatkan pada tumpukan sampah di tepian banjir kanal Purus, Padang, Sumbar, Selasa (22/5). ANTARA/Iggoy el Fitra

Semarang (ANTARA) - Jangan pernah suguhkan air minum kemasan plastik kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar serta merta bakal menolaknya.

Sejak beberapa bulan lalu orang nomor wahid di Jateng ini memang membuat kebijakan radikal dengan menghilangkan minuman kemasan plastik di lingkungan Pemerintah Provinsi Jateng.

Penggemar olah raga bersepeda ini menganggap ekses penggunaan plastik memang sudah kelewatan. Nyaris tidak ada benda terdekat kita yang steril dari material yang membutuhkan ratusan tahun untuk bisa terurai tersebut.

Makanan dan minuman kemasan termasuk yang paling boros menggunakan plastik karena sifatnya sekali pakai lalu dibuang.

Miliaran gelas dan botol minuman menjadi limbah yang menggunung di tempat pembuangan sampah. Ini pemandangan yang seolah lazim di setiap kota. 

Bahkan perilaku boros mengonsumsi plastik juga menjalar ke warga perdesaan karena gaya konsumsi mereka tidak beda jauh dengan penduduk kota.

Konsumsi plastik nasional -- yang melaju seiring dengan pertumbuhan ekonomi --  saat ini mencapai sekitar 6 juta ton. Ia akan terus bertambah bersamaan dengan pertumbunan ekonomi nasional sehingga tanpa pengendalian, terutama untuk yang sekali pakai, limbah plastik bakal mengancam keselamatan lingkungan.

Kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan menambah pelik pengelolaannya. Ruang terbuka, sungai, bahkan laut jadi sasaran pembuangan plastik bekas kemasan makanan/minuman.

Di tengah kian merosotnya kualitas lingkungan, konsumsi plastik sekali pakai justru kian menggila. Pada tahun ini diperkirakan mencapai 6 juta ton dengan pertumbuhan sekitar enam persen/tahun. Plastik seolah menjadi jawaban praktis dan murah sebagai wadah berbagai barang termasuk makanan dan minuman kemasan.

Namun, karena sifatnya yang amat sulit terurai maka konsumsinya harus dikendalikan. Mungkin sudah agak terlambat beberapa puluh tahun. Oleh karena itu, setiap orang harus mau mengubah kebiasaan secara radikal seperti dilakukan Ganjar agar Bumi tetap memiliki masa depan.

Sikap tegas Ganjar menolak minuman kemasan plastik sekali pakai patut diapresiasi. Sebagai pemimpin politik, langkah Ganjar tentu akan merembes ke khalayak.

Hasilnya, bukan hanya pejabat dan lingkungan Pemprov Jateng yang mulai membiasakan minum air di gelas. Hobi bersepeda Ganjar yang ke mana-mana membawa botol minuman (tumbler) kian menegaskan pemihakannya pada pengendalian pemakaian plastik dalam kemasan minuman/makanan. 

Pemihakan yang konkret tersebut dibutuhkan agar kampanye kurangi plastik tidak berhenti di tataran slogan atau sekadar retorika go green.

Sepanjang pengamatan di toko modern, pengenaan biaya Rp200 untuk setiap kantong plastik tidak efektif. Nilai kepraktisannya mengalahkan harga yang cuma Ro200.

Langkah penting lain yang perlu diambil ketika gunungan sampah di hadapan kita adalah bagaimana merekayasanya agar limbah plastik punya nilai tambah.

Beragam upaya kreatif dilakukan, misalnya, merajut limbah plastik menjadi karya seni hingga merekayasanya menjadi paving, bata, atau ecobrick.

Kendati pemanfaatan limbah plastik tersebut mampu mengurangi volume sampah plastik, itu tetap tidak seberapa dibanding konsumsi plastik.

Oleh karena itu, perlu kiranya ditempuh langkah radikal di bagian hulu hingga hilir. Di bagian hilir, perlu pengenaan cukai plastik untuk kemasan sekali pakai. 

Sedangkan di bagian hulu, pemerintah perlu memberi insentif berupa keringanan pajak bagi industri makanan yang meninggalkan kemasan plastik sekali pakai.

Tanpa kebijakan yang komprehensif dan pemihakan yang kuat terhadap masa depan Bumi, bisa jadi upaya kurangi konsumsi plastik sekadar retorika go green. ***



 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar