14 kasus demam berdarah dengue terjadi di Batang

id Pemeberatasan DB, batang

14 kasus demam berdarah dengue terjadi di Batang

Salah satu upaya pemberatasan Demam Berdarah Dengue dengan menggunakan foging. Meski begitu Dinkes menyatakan aktivitas PSN merupakan cara yang lebih ampuh dalam meminimalisasi DBD. (Foto: Kutnadi)

Batang (Antaranews Jateng) - Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Jawa Tengah, sejak awal Januari 2019 hingga tiga pekan terakhir ini menemukan 14 kasus demam berdarah sehingga masyarakat diimbau waspada terhadap serangan penyakit itu.

Kepala Dinkes Batang Hidayah Basbeth di Batang, Selasa, mengatakan bahwa untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinkes telah melakukan berbagai upaya seperti kampanye dan sosialisasi pemberatasan sarang nyamuk (PSN) dan foging.

"Meski jumlah kasus DBD cenderung meningkat namun belum sampai menimbulkan korban jiwa. Target kami pada 2019 ini sebisa mungkin tidak ada korban yang meninggal karena kasus DB," katanya.

Ia yang didampingi Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (P2PM) Farikhun Asror mengatakan berdasar data, Dinkes menerima 154 laporan dengan 82 kasus positif DBD dan 2 orang meninggal. 

Saat ini, kata dia, Dinkes terus melakukan sosialisalisasi mengenai gerakan PSN pada  masyarakat karena program tersebut dirasa sangat efektif dalam mencegah adanya DBD dan gencar menggelar pelatihan kader jumantik. 

"Kami berharap melalui pelatihan itu, setiap rumah punya minimal satu kader yang bisa menjaga kebersihan rumah dan keluarga serta lingkungannya. Langkah ini lebih efektif dan mengurangi dampaknya daripada dilakukan fogging," katanya.

Menurut dia, program PSN dengan cara 3M plus yaitu menguras, mengubur, menutup) dan memakai obat nyamuk perlu dilakukan secara berkelanjutan khususnya pada musim penghujan seperti saat ini.

"Selama ini masyarakat cenderung pasif dalam melakukan PSN dan masih bergantung pada kader kesehatan desa. Oleh karena itu, kami berharap ke depan masyarakat lebih sadar dan mawas diri, salah satunya dengan menjaga kebersihan lingkungan." katanya.
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar