Festival Komukino, USM lestarikan budaya lokal

id festival komukino

Festival Komukino, USM lestarikan budaya lokal

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka Festival Komukino yang berlangsung di Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang, Minggu (16-12-2018). (Foto: Dok. USM)

Festival ini merupakan ajang untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya, tradisi, kuliner, ....
     Semarang (Antaranews Jateng) - Universitas Semarang (USM) sukses menggelar 7th Festival Komukino sebagai sarana memperkukuh eksistensi kesenian dan kebudayaan lokal.

     Bertempat di Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang, Minggu (16/12), ketujuh kalinya Festival Komukino digelar Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) USM dengan tema Jateng Remen.

     Berdasarkan pernyataan tertulis yang diterima Antara, Kamis, Rektor USM Andi Krida Susila menjelaskan bahwa Festival Komukino sebenarnya menunjukkan mahasiswa telah mampu mencapai fase keempat pendidikan, yakni learn to live together.

     Artinya, kata dia, bagaimana mahasiswa bisa bersinergi bersama dan mengajak lingkungan eksternal untuk bersama dengan semangat Jateng Remen melestarikan kebudayaan lokal.

     "Kami berkomitmen untuk lebih peduli terhadap budaya dengan mengintegrasikan bidang akademik dengan persoalan di sekitar sehingga mahasiswa lebih peka," katanya.

     Dipilihnya Hutan Wisata Tinjomoyo, diakuinya, sekaligus untuk lebih mengenalkan potensi wisata alam yang dimiliki Kota Semarang itu kepada masyarakat secara lebih luas.

     Dipadukan dengan inovasi kuliner dari 35 kabupaten/kota di Jateng dan kreasi kuliner mahasiswa Ilmu Komunikasi FTIK USM, Festival Komukino berlangsung pukul 10.00 s.d. 21.00 WIB.

     "Festival ini merupakan ajang untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya, tradisi, kuliner, dan menjadi upaya memperkukuh eksistensi kesenian dan kebudayaan lokal, khususnya Jateng," katanya.

     Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang hadir menyampaikan mahasiswa bukan cukup pintar secara intelektual, melainkan juga harus sadar terhadap persoalan sosial budaya di sekitarnya.

     Dengan belajar memahami fungsi sosial, kata Hendi, sapaan akrabnya, mahasiswa bisa menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan dan ikut membantu mereka yang membutuhkan.

     Beragam kegiatan berlangsung, seperti festival batik, festival jamu, kampoeng dolanan, workshop oleh Komunitas Kampoeng Hompimpa, dan talkshow bersama Hanny Nurmalita, Duta Jamu Jateng.

     Pada festival itu, terpilih tiga komunitas penggerak budaya sebagai nominasi Komukino Award, yakni Wayang Beber Tani, Rumah Aksara Wilis Bersaudara, dan Angklung Academy.

     Rumah Aksara Wilis Bersaudara yang menyebarkan virus budaya melalui dongeng, diskusi, dan workshop pembuatan wayang rotan akhirnya terpilih sebagai pemenang Komukino Award.
Pewarta :
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar