Tradisi larung sesaji jadi atraksi wisata Kaltara

id tradisi sesaji, melarung

Tradisi larung sesaji jadi atraksi wisata Kaltara

Para pengawal mengangkat perahu Padau Tujuh Dulung menuju laut pada Festival Iraw Tengkayu 2015 di Pantai Amal Tarakan, Kalimantan Utara, Minggu (27/12). Festival Iraw Tengkayu merupakan upacara adat khas suku Tidung yang dilaksanakan untuk memperingati HUT Kota Tarakan yang ke-18 tahun ini. (ANTARA FOTO/Fadlansyah)

Malinau, Kalimantan Utara (Antaranews Jateng) - Tradisi adat suku Tidung melarung sesaji ke laut, Irau, mulai dilirik wisatawan dan pemerintah Indonesia sebagai atraksi wisata di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, kata Bupati Malinau Yansen T.P.

"Pelaksanaan tradisi Irau yang rencananya besar-besaran itu masuk Wonderful Event atau acara unggulan wisata Indonesia 2018, dan telah mendapatkan persetujuan DPRD," katanya dalam siaran pers yang diterima di Malinau.

Yansen mengutarakan tradisi Irau dinilai Kementerian Pariwisata memiliki keunggulan dan keunikan sehingga dapat dijadikan atraksi wisata di daerah itu.

Terpilihnya tradisi Irau menjadi bagian dari Wonderful Event Indonesia 2018, katanya, tidak terlepas dari pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah selama ini, termasuk di sektor kepariwisataan.

"Dengan menata diri sehingga dianggap layak menjadi kabupaten destinasi wisata nasional," katanya.

Ia mengatakan sebenarnya masih banyak kegiatan atau tradisi masyarakat Suku Dayak di daerah itu yang lebih layak dijadikan bagian dari Wonderful Event akan tetapi belum terkelola dengan baik.

Oleh karena itu, katanya, masuknya tradisi Irau menjadi bagian dari 100 acara yang indah di Indonesia sebagai momentum kebangkitan kegiatan budaya lainnya di daerah itu.

Ia mengatakan tradisi Irau dijadikan momentum silaturahim antarmasyarakat, ajang promosi produk-produk lokal, menciptakan produk-produk daerah, dan ajang mempromosikan Kabupaten Malinau ke dunia luar atau internasional.

Yansen mengatakan demi menjadikan Kabupaten Malinau sebagai cerminan Indonesia dan dunia maka tradisi Irau harus disukseskan. (Editor : Gilang Giliarta).



Pewarta :
Editor: Totok Marwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar