Solo (ANTARA) - Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengajak warga di Solo dan sekitarnya mencegah penyakit kronis lewat kegiatan fun run di Stadion Manahan Surakarta, Jawa Tengah, Jumat.

“Kami BPJS Kesehatan bersama Solo Runner, Muhammadiyah Runner, BPJS Runner, JKN Runner melakukan Fun Run 5 km keliling Stadion Manahan,” katanya.

Ia mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan promotif preventif yang membantu program pemerintah, program Kementerian Kesehatan, dan program BPJS Kesehatan dari sisi penguatan promotif preventif. 

“Dengan berlari jantung berdetak, aliran cepat, menggesek pembuluh darah, pembuluh darah lentur sampai tua, tidak perlu hipertensi pada usia muda. Insulin yang terperangkap di otot rilis menurunkan kencing manis atau gula darah, tidak perlu kencing manis di usia muda,” katanya.

Ia mengatakan saat ini biaya perawatan yang paling besar yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan adalah di rumah sakit untuk keperluan penanganan penyakit kronis.

“Kalau masyarakat kita ajak promotif preventif maka biaya kesehatan jauh lebih murah. Untuk kasusnya data tertinggi yakni hipertensi, prevalensinya mencapai 34 persen, di bawahnya ada kencing manis. Untuk hipertensi ini dari sepuluh orang, 3-4 di antaranya menderita hipertensi,” katanya.

Sementara itu, penyakit jantung merupakan penyakit yang menelan biaya terbesar dari deretan penyakit berbiaya mahal yang dijamin BPJS Kesehatan. Pada tahun 2025, tercatat BPJS Kesehatan mengeluarkan biaya Rp17,3 triliun untuk membiayai 29,7 juta kasus penyakit jantung. 

Selain jantung, BPJS Kesehatan juga menghabiskan biaya besar untuk penyakit lain, seperti Rp13,3 triliun untuk membiayai 12,6 juta kasus gagal ginjal, Rp10,3 triliun untuk menjamin 7,1 juta kasus kanker, dan Rp7,2 triliun untuk menjamin 9,5 juta kasus stroke. 

“Padahal, penyakit-penyakit kronis tersebut dapat dicegah sejak dini dengan menerapkan pola hidup sehat,” katanya.
 
Pujo menambahkan, penyakit kronis bukan lagi persoalan usia lanjut, tetapi juga menjadi tantangan generasi produktif. Masyarakat usia di bawah 45 tahun, kini mulai banyak yang harus berjuang melawan penyakit kronis seperti hipertensi, jantung dan diabetes mellitus. Untuk itu, BPJS Kesehatan mengembangkan Program Prolanis Muda yang diharapkan mampu mendorong generasi muda lebih memperhatikan gaya hidup sehat.

Prolanis Muda merupakan pelayanan kesehatan dengan pendekatan proaktif untuk mencapai kualitas hidup yang optimal, dilaksanakan secara terintegrasi dengan melibatkan peserta, fasilitas kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan peserta penderita penyakit kronis, khususnya yang berusia kurang dari 45 tahun.

“Saat ini kami telah mengembangkan strategi Implementasi Prolanis Muda menggunakan intervensi berbasis digital yakni melalui Aplikasi Mobile JKN. Harapannya para peserta JKN dengan kategori Prolanis Muda ini dapat meningkatkan kepedulian untuk memantau kondisi kesehatannya, lebih patuh dalam meminum obat, serta dapat mengatur aktivitas fisiknya dengan lebih seimbang melalui Aplikasi Mobile JKN pada fitur Bugar,” ujar Pujo.

Dia berharap kesadaran masyarakat untuk hidup sehat terus meningkat. Konsep gotong royong dalam penyelenggaraan Program JKN menjadi semangat bersama agar program ini terus berkelanjutan dan menambah manfaat kesehatan bagi masyarakat Indonesia.

“Dengan rajin berolah raga dan menjaga pola hidup sehat, maka kita sudah bergotong royong mendukung keberlanjutan Program JKN. Program ini milik kita bersama dan wajib kita jaga bersama,” ujarnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan,m Abdi Kurniawan Purba, Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal Budi Yulianto, dan jajaran civitas kesehatan Holding RS Muhammadiyah Delanggu.

Pada hari yang sama, Pujo juga melakukan audiensi bersama jajaran manajemen RS Aisyiyah Jawa Tengah dan DIY serta Holding RS Muhammadiyah Delanggu. Ia juga berkesempatan meninjau dan memastikan layanan JKN berjalan dengan baik.