Logo Header Antaranews Jateng

Pemkab Pekalongan ajak organisasi sosial memperkuat layanan CKG

Minggu, 24 Mei 2026 17:26 WIB
Image Print
Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan Sukirman. (ANTARA/Kutnadi)

Pekalongan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan, Jawa Tengah, mengajak organisasi sosial ikut memperkuat kegiatan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada masyarakat.

"Kami mendorong agar layanan pemeriksaan kesehatan gratis dapat dilaksanakan secara rutin dan menjangkau lebih banyak masyarakat di daerah," kata Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan Sukirman di Pekalongan, Minggu.

Menurut dia, keterlibatan organisasi sosial akan membantu pemerintah dalam memperluas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

"Ini menjadi bentuk kolaborasi yang sangat baik. Pemerintah tentu membutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama memberikan pelayanan terbaik terutama di bidang kesehatan," katanya.

Sukirman mengingatkan masyarakat agar tidak ragu mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis.

Kegiatan layanan kesehatan gratis ini, kata dia, merupakan hal penting sebagai upaya deteksi dini berbagai penyakit yang sering tidak disadari sejak awal oleh masyarakat.

"Pemeriksaan kesehatan ini adalah langkah pencegahan dini. Jangan takut memeriksakan diri, karena justru dengan mengetahui lebih awal maka penangananya bisa dilakukan lebih cepat," kata Sukiman.

Ia mengatakan pemerintah daerah menyiapkan berbagai layanan kesehatan mulai dari pemeriksaan umum, layanan dokter spesialis keliling, hingga konsultasi psikologi.

"Oleh karena itu warga diminta aktif memanfaatkan layanan kesehatan gratis yang disediakan pemerintah maupun organisasi sosial," kata Sukiman.

Sementara itu sebelumnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara nasional menunjukkan bahwa 4,36 juta atau 63,5 persen dari 6,8 juta lansia yang ikut CKG menderita hipertensi, sehingga diperlukan intervensi terintegrasi dan berkelanjutan guna penanganan yang lebih baik.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, pekan lalu, mengatakan secara global diperkirakan 1,4 miliar orang hidup dengan hipertensi dan hanya sekitar satu dari empat yang tekanannya terkontrol.

"Hipertensi pada lansia memiliki konsekuensi klinis dan sosial yang berat. Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronis. Bukti epidemiologis juga mengaitkan hipertensi jangka panjang dengan percepatan penurunan kognitif dan peningkatan kebutuhan perawatan jangka panjang," kata Imran.


Baca juga: Pekalongan perkuat perlindungan sosial nelayan melalui program BPJS Ketenagakerjaan



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026