Purwokerto (ANTARA) - Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menilai penguatan resiliensi bencana menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga ketahanan pangan, stabilitas ekonomi dan keberlanjutan pembangunan di kawasan Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi.
Wakil Ketua MDMC Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Naibul Umam di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat, mengatakan kawasan Barlingmascakeb yang meliputi Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen merupakan wilayah strategis di Jateng selatan.
Akan tetapi, pada saat yang sama, kawasan tersebut menghadapi ancaman bencana yang kompleks. Mulai dari gempa megathrust, tsunami, banjir tahunan, tanah longsor, hingga kekeringan akibat fenomena El Nino.
"Jawa Tengah selatan adalah supermarket bencana Indonesia. Pertumbuhan ekonomi tanpa mitigasi risiko merupakan langkah berbahaya, karena setiap bencana mengancam pangan dan ekonomi secara langsung," katanya.
Ia mengatakan ancaman pertama berasal dari potensi gempa megathrust dan tsunami di wilayah pesisir Cilacap dan Kebumen yang berada pada zona subduksi lempeng dengan potensi magnitudo mencapai 8,7 hingga 8,9.
Menurut dia, ancaman tersebut tidak hanya berdampak terhadap masyarakat pesisir, tetapi juga berisiko mengganggu infrastruktur strategis nasional dan sentra produksi pangan.
"Ancaman megathrust dan tsunami di kawasan ini merupakan ancaman eksistensial bagi ekonomi dan pangan nasional. Intrusi air laut dapat menyebabkan salinisasi lahan pertanian di wilayah pesisir, sehingga sawah tidak produktif selama bertahun-tahun," katanya.
Selain itu, kata dia, banjir tahunan yang sering terjadi di Cilacap, Banyumas dan Kebumen pada Januari hingga Maret juga menjadi ancaman serius, karena bertepatan dengan masa tanam maupun panen raya.
Ia mengatakan kondisi tersebut dapat menyebabkan puso massal, mengganggu distribusi logistik pangan, hingga memicu kenaikan harga bahan pokok.
"Banjir dapat memutus jalur distribusi, menyebabkan hasil panen rusak, dan membuat petani kehilangan modal untuk musim tanam berikutnya. Pada akhirnya, masyarakat ikut terdampak, karena harga pangan naik," katanya.
Ia mengatakan ancaman tanah longsor di kawasan dataran tinggi, seperti Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas bagian utara juga berpotensi merusak sentra hortikultura, menutup akses transportasi, serta meningkatkan biaya logistik antarwilayah.
Menurut dia, penguatan resiliensi kawasan harus menjadi bagian dari strategi pembangunan melalui pengembangan varietas tanaman tahan bencana, optimalisasi waduk dan bendung, pembangunan sistem peringatan dini, penguatan asuransi usaha tani, diversifikasi tanaman, hingga penerapan agroforestry di kawasan lereng.
"Biaya mitigasi mungkin terlihat mahal di awal, tetapi jauh lebih murah dibandingkan biaya pemulihan pascabencana. Resiliensi bencana bukan pilihan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan pangan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah selatan," kata Naibul Umam.
Sementara itu, kekeringan akibat El Nino disebut sebagai bencana sunyi yang dampaknya terjadi secara perlahan, namun luas terhadap pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat.