Pekalongan optimalkan kolaborasi lintas sektor tangani stunting
Sabtu, 21 Oktober 2023 19:35 WIB
Tim percepatan penurunan stunting Kota Pekalongan Jawa Tengah sedang melakukan penanganan dan pemberian bantuan pada balita dan ibu hamil di Pekalongan. (ANTARA/HO-Humas Kota Pekalongan).
Pekalongan (ANTARA) - Pemerintah Kota Pekalongan Jawa Tengah terus mengoptimalkan kolaborasi lintas sektoral dan lintas program dalam upaya penuntasan penanganan stunting (gangguan pertumbuhan pada anak) di daerah itu.
Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kota Pekalongan Yos Rosyidi di Pekalongan Sabtu mengatakan bahwa intervensi permasalahan kesehatan masyarakat termasuk stunting memerlukan kolaborasi lintas program dan lintas sektor.
Dia menjelaskan, kolaborasi lintas program dan lintas sektor itu meliputi intervensi spesifik yang menjadi tanggung jawab sektor kesehatan dan intervensi sensitif yang merupakan tanggung jawab lintas sektor.
"Ya, Penanganan kasus stunting memang harus secara serius dituntaskan dan hal ini tentunya akan melibatkan banyak pihak," katanya.
Misalnya, kata Yos Rosyidi, dari BKKBN melalui pendampingan dan sosialisasi pada masyarakat dan upaya pencegahan perilaku.
Kemudian dari DPUPR akan ada kegiatan untuk jambanisasi dan sanitasi lingkungan, serta dari Dinas Pertanian dan Pangan juga sudah memberikan pelatihan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan bantuan bahan pangan seperti sayur-mayur, telur, susu, dan daging.
Selanjutnya, Dinas Kelautan dan Perikanan sudah memberikan bantuan ikan segar untuk bisa diolah pada keluarga yang memiliki anak berisiko stunting, dan Dinas Kesehatan memfasilitasi layanan "Rumah Singgah Gizi" dan pemeriksaan kesehatan secara rutin pada remaja, calon pengantin, dan ibu hamil.
Menurut dia, kasus stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor multi dimensi dan tidak hanya akibat kekurangan energi kronis yang dialami oleh ibu hamil maupun gizi buruk pada balita.
"Stunting juga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti ekonomi, ketahanan pangan keluarga, pola asuh, dan buruknya sanitasi lingkungan," katanya.
Dikatakan pula bahwa berdasarkan data, di daerah itu saat ini masih ada 206 bayi di bawah dua tahun (baduta) dan 1.038 balita yang menderita stunting.
Kemudian, katanya, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2022 disebutkan Kota Pekalongan berada di posisi 23,1 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 21,6 persen.
"Akan tetapi berdasarkan data pencacatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat elektronik 2021 sebesar 7,8 persen dan tahun 2022 sebesar 6,8 persen. Oleh karena itu, sejumlah upaya terus kami lakukan berkolaborasi bersama pemangku kepentingan, di antaranya membentuk tim percepatan penurunan stunting mulai tingkat kota hingga kelurahan," katanya.
Baca juga: Program dapur sehat, cara Temanggung turunkan stunting
Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kota Pekalongan Yos Rosyidi di Pekalongan Sabtu mengatakan bahwa intervensi permasalahan kesehatan masyarakat termasuk stunting memerlukan kolaborasi lintas program dan lintas sektor.
Dia menjelaskan, kolaborasi lintas program dan lintas sektor itu meliputi intervensi spesifik yang menjadi tanggung jawab sektor kesehatan dan intervensi sensitif yang merupakan tanggung jawab lintas sektor.
"Ya, Penanganan kasus stunting memang harus secara serius dituntaskan dan hal ini tentunya akan melibatkan banyak pihak," katanya.
Misalnya, kata Yos Rosyidi, dari BKKBN melalui pendampingan dan sosialisasi pada masyarakat dan upaya pencegahan perilaku.
Kemudian dari DPUPR akan ada kegiatan untuk jambanisasi dan sanitasi lingkungan, serta dari Dinas Pertanian dan Pangan juga sudah memberikan pelatihan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan bantuan bahan pangan seperti sayur-mayur, telur, susu, dan daging.
Selanjutnya, Dinas Kelautan dan Perikanan sudah memberikan bantuan ikan segar untuk bisa diolah pada keluarga yang memiliki anak berisiko stunting, dan Dinas Kesehatan memfasilitasi layanan "Rumah Singgah Gizi" dan pemeriksaan kesehatan secara rutin pada remaja, calon pengantin, dan ibu hamil.
Menurut dia, kasus stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor multi dimensi dan tidak hanya akibat kekurangan energi kronis yang dialami oleh ibu hamil maupun gizi buruk pada balita.
"Stunting juga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti ekonomi, ketahanan pangan keluarga, pola asuh, dan buruknya sanitasi lingkungan," katanya.
Dikatakan pula bahwa berdasarkan data, di daerah itu saat ini masih ada 206 bayi di bawah dua tahun (baduta) dan 1.038 balita yang menderita stunting.
Kemudian, katanya, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2022 disebutkan Kota Pekalongan berada di posisi 23,1 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 21,6 persen.
"Akan tetapi berdasarkan data pencacatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat elektronik 2021 sebesar 7,8 persen dan tahun 2022 sebesar 6,8 persen. Oleh karena itu, sejumlah upaya terus kami lakukan berkolaborasi bersama pemangku kepentingan, di antaranya membentuk tim percepatan penurunan stunting mulai tingkat kota hingga kelurahan," katanya.
Baca juga: Program dapur sehat, cara Temanggung turunkan stunting
Pewarta : Kutnadi
Editor : Edhy Susilo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Jateng pastikan kelayakan fasilitas di posko pengungsi bagi korban banjir
30 January 2026 9:05 WIB
Pemkot Pekalongan bersama empat daerah sepakat kelola sampah dengan investor China
29 January 2026 16:39 WIB
Pemkot Pekalongan bentuk satgas percepatan penanganan sampah jadi permasalan masyarakat
27 January 2026 18:53 WIB
Pemkab catat 30 kali terjadi longsor susulan di Bukit Gunung Beser Pekalongan
23 January 2026 17:47 WIB
Pekalongan terdampak banjir, PLN gerak cepat amankan listrik dan salurkan bantuan bagi pengungsi
22 January 2026 13:34 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Penyakit jantung dan kanker masih jadi penyebab kematian tertinggi, gaya hidup disebut faktor utama
02 February 2026 16:03 WIB
Dinkes: Mayoritas siswa SMAN 2 Kudus yang rawat inap sudah sembuh dan diperbolehkan pulang
02 February 2026 9:35 WIB
BPJS Kesehatan Surakarta jalin kerja sama dengan Kejaksaan Negeri Karanganyar
27 January 2026 18:31 WIB
FK UMS gelar diskusi penyakit kusta ajak masyarakat ubah stigma menuju empati
27 January 2026 9:50 WIB