Logo Header Antaranews Jateng

Kemenkes tingkatkan jumlah dokter spesialis di tanah air

Kamis, 29 Januari 2026 20:38 WIB
Image Print
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin didampingi oleh Sekda Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyaksikan penandatanganan perjanjian kerja sama antara RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto-RSUD Dr Moewardi Solo dengan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di Solo, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026). ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meningkatkan jumlah dokter spesialis di tanah air menyusul tingginya kebutuhan di berbagai daerah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada penandatanganan perjanjian kerja sama antara RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto-RSUD Dr Moewardi Solo dengan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di Solo, Jawa Tengah, Kamis mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan program penyelenggara pendidikan di Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) di Jawa Tengah.

Dalam hal ini, RSPPU berperan strategis dalam mendukung peningkatan kualitas dan ketersediaan sumber daya manusia kesehatan, khususnya dokter dan dokter spesialis, melalui penyelenggaraan pendidikan berbasis pelayanan kesehatan yang bermutu dan berorientasi pada keselamatan pasien.

RSPPU merupakan rumah sakit yang berfungsi sebagai wahana utama pendidikan klinik kedokteran dan pendidikan dokter spesialis melalui kerja sama dengan institusi pendidikan.

“Saya terima kasih sama Pak Rektor (Undip) karena sudah tanda tangan perjanjian dengan RSUD Margono sama RSUD Dr Moewardi untuk membuka pendidikan dokter spesialis bedah anak dan mikrobiologi klinik,” katanya.

Menurut dia, penyelenggara pendidikan di RSPPU bertujuan meningkatkan produksi dokter spesialis yang nantinya ditempatkan di rumah sakit Jawa Tengah yang belum memiliki dokter spesialis.

“Tujuannya supaya lebih banyak lagi kita bisa produksi dokter spesialis khususnya nanti yang akan ditempatkan di rumah sakit-rumah sakit yang belum punya dokter spesialis,” katanya.

Ia mengatakan anggaran pendidikan dokter spesialis pada program tersebut berasal dari Kemenkes, Kemdiktisaintek, dan rumah sakit pendidikan.

“Anggaran (pendidikan dokter spesialis) nanti gabungan dari Kemenkes, dari Dikti dan rumah sakitnya,” katanya.

Sementara itu, pada paparannya Menkes menyampaikan Kementerian Kesehatan telah melakukan perencanaan kebutuhan dokter spesialis hingga 2032 dengan proyeksi kekurangan sekitar 70.000 dokter spesialis.

Menurut dia, dibandingkan dengan negara-negara maju, Indonesia perlu mencetak 16.000-49.000 dokter spesialis/tahun untuk populasi 280 juta penduduk.

“Makanya ini kami lagi mikir gimana caranya mempercepat itu, setiap tahun yang meninggal tercatat setengah juta orang. Kasihan kalau tidak selamat. Ini Indonesia sudah 80 tahun merdeka masa sih nggak selesai-selesai,” katanya.

Oleh karena itu, program tersebut menjadi salah satu upaya mempercepat pengadaan dokter spesialis.

“Selama ini kita setiap tahun kan nambahnya 2.700 (dokter spesialis). Nantinya kami targetkan 20.000, jadi sepuluh kali lipat,” katanya.



Pewarta:
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026