
Literasi teknologi dalam praktik: refleksi dari pengalaman di negara maju

Solo (ANTARA) - Literasi pada awalnya merujuk pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi maknanya telah berkembang secara signifikan dari waktu ke waktu. Saat ini literasi mencakup berbagai kompetensi yang lebih luas, termasuk dimensi kognitif, sosial, dan budaya.
Dengan demikian kompleksitas makna literasi menjadi semakin luas seiring perjalanan waktu dan kebutuhan dalam dunia global. Definisi modern dari literasi juga juga menekankan sifat kontekstual dan situasional dari literasi, mengaitkannya dengan lingkungan dan praktik tertentu (Jesson, 2020).
UNESCO menyatakan bahwa literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup berbagai bentuk literasi yang relevan
dengan konteks sosial, budaya, dan teknologi. Di samping itu, UNESCO mencatat bahwa literasi sebagai konsep multidimensi yang mencakup berbagai kategori, mulai dari literasi dasar hingga literasi digital dan transversal. Pendekatan berupa konsep multidimensi ini mencerminkan kebutuhan untuk mengembangkan kompetensi yang relevan dengan tantangan abad ke-21, baik di tingkat individu maupun komunitas (Sivri, 2022).
Berikut adalah kategori literasi yang diidentifikasi oleh UNESCO.
Pertama, literasi dasar, mencakup kemampuan membaca dan menulis dalam bentuk paling mendasar, sering kali menjadi fokus dalam program pendidikan dasar. Kedua, literasi fungsional mencakup kemampuan menggunakan keterampilan membaca dan menulis untuk berfungsi secara efektif dalam masyarakat modern. Ketiga, literasi media dan informasi yakni gabungan antara literasi media dan literasi informasi, yang mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi, dan menciptakan informasi melalui berbagai media.
Keempat, literasi digital mencakup kemampuan menggunakan teknologi digital secara efektif, termasuk keamanan digital, inovasi teknologi, dan penciptaan konten digital. Kelima, literasi komunikasi mencakup kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain, termasuk komunikasi intrapersonal, interpersonal, kelompok, dan massa. Keenam, literasi transversal mencakup keterampilan lintas bidang seperti berpikir kritis, kesadaran antarbudaya, dan ketahanan dalam menghadapi perubahan.
Penguasaan mendasar dari keenam jenis literasi tersebut bukan lagi pelengkap kebutuhan melainkan merupakan sebuah kebutuhan yang tidak terelakkan di abad 21, sebab dunia saat ini berada dalam arus informasi yang cepat, perkembangan teknologi yang masif serta kompleksitas tantangan global yang salah satu solusinya dapat dijembatani dengan penguasaan keenam literasi tersebut.
Salah satu contoh nyata yang dapat diamati adalah pentingnya penguasaan literasi teknologi, mengingat dalam kehidupan sehari-hari individu memiliki intensitas tinggi untuk terus bersentuhan dengan berbagai bentuk teknologi. Dalam konteks yang lebih luas, urgensi akan penguasaan literasi teknologi semakin terasa ketika seseorang berada di negara maju dengan tingkat perkembangan teknologi yang tinggi.
Salah satu gambaran konkret dapat dilihat dari penggunaan fasilitas umum berbasis teknologi, seperti toilet umum di Jepang. Berbeda dengan toilet konvensional, fasilitas ini dilengkapi dengan sistem digital canggih yang memuat berbagai tombol, simbol, serta petunjuk penggunaan dalam Bahasa Inggris. Situasi ini bisa jadi pada awalnya dapat menimbulkan kebingungan, terutama bagi pengguna yang belum familiar dengan sistem tersebut.
Namun, kondisi tersebut justru menegaskan bahwa kemampuan membaca dan memahami informasi secara cepat dan akurat merupakan keterampilan yang sangat esensial.
Contoh lain pentingnya kita menguasai literasi teknologi adalah penggunaan aplikasi penerjemahan seperti Google Translate. Mengingat tidak semua orang di mana kita berada, paham akan bahasa yang kita kuasai (dalam hal ini Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).
Dalam situasi demikian, aplikasi Google Translate menjadi jembatan berkomunikasi dengan penduduk setempat. Fitur-fitur Google Translate seperti input suara, terjemahan teks, dan bahkan terjemahan kamera untuk membaca rambu dan menu menjadi jembatan komunikasi saat itu.
Gambaran ini menunjukkan bahwa literasi teknologi bukan hanya tentang mengetahui alatnya, tetapi juga tentang menggunakannya secara efektif dalam situasi kehidupan nyata.
Hal ini menunjukkan bahwa literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca teks semata, melainkan lebih multidimensi mencakup kemampuan untuk menavigasi situasi kehidupan, menafsirkan informasi berbasis teknologi, serta berkomunikasi secara efektif dalam konteks lintas budaya.
Dengan demikian, literasi teknologi menjadi bagian penting dari kompetensi yang harus dimiliki individu agar mampu beradaptasi dan berfungsi secara optimal di era global yang semakin terdigitalisasi.
Pada akhirnya, penguatan literasi teknologi bukan lagi pilihan tapi menjadi kebutuhan. Upaya ini seyogyanya tidak hanya menjadi tanggung jawab individu tapi juga instutusi pendidikan yang wajib membekali peserta didik dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan jaman.
*Dosen PGSD Universitas Muhammadiyah Surakarta
Oleh Honest Ummi Kaltsum*/Aris Wasita
COPYRIGHT © ANTARA 2026
