Logo Header Antaranews Jateng

Budayawan: Hari Peradaban Desa ajak warga belajar antar-desa

Kamis, 21 Mei 2026 20:18 WIB
Image Print
Para penari Peguyuban Kesenian Sekar Wahyu Manunggal Dusun Susukan, Desa Sukorejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang menyajikan tarian soreng pada peringatan Hari Peradaban Desa 2026 diselenggarakan Komunitas Lima Gunung di dusun itu di Magelang, Kamis (21/5/2026) sore. ANTARA/Hari Atmoko

Magelang (ANTARA) - Peringatan Hari Peradaban Desa diselenggarakan setiap tahun oleh Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang mengajak warga terus bertekun dalam pelestarian nilai-nilai budaya desa, namun juga belajar tentang kehidupan desa-desa lainnya, kata budayawan Magelang Sutanto Mendut.

"Lestarikan budaya desa masing-masing, tetapi juga belajar 'lakuking kanthi laku' (belajar melalui perjalanan kehidupan) kepada desa-desa yang lain, bahkan dengan desa-desa di seluruh dunia," katanya dalam pidato kebudayaan peringatan Hari Peradaban Desa 2026 di Dusun Susukan, Desa Sukorejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang di Magelang, Kamis sore.

Komunitas Lima Gunung yang dirintis pendiriannya oleh Sutanto Mendut pada 1997, mulai menggelar agenda tahunan berupa peringatan Hari Peradaban Desa, sejak 2022 dengan lokasi berbeda-beda, terutama di dusun-dusun di kawasan lima gunung yang mengelilingi Kabupaten Magelang (Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh). Peringatan tersebut dilaksanakan setiap 21 Mei.

Komunitas tersebut juga memiliki agenda tahunan secara mandiri berupa Festival Lima Gunung yang tahun ini sebagai penyelenggaraan ke-25, direncanakan pada pertengahan Juli mendatang di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.

Ia mengemukakan warga desa-desa setempat saat ini bisa dengan mudah belajar tentang peradaban desa-desa di dunia karena dukungan kemajuan teknologi komunikasi pada era digital saat ini.

"Sinau (belajar) desa sedunia di era digital," ujarnya dalam acara yang ditandai dengan pemotongan tumpeng dan pementasan sejumlah kesenian, terutama para seniman petani Peguyuban Kesenian Sekar Wahyu Manunggal Dusun Susukan pimpinan Anto Setyo Nugroho.

Ia juga menyebut bahwa pada masa lalu masyarakat pedesaan memiliki peranan penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ketika Jenderal Sudirman bersama pasukan bergerilya dalam masa perang kemerdekaan dan saat Pangerang Diponegoro memimpin Perang Jawa melawan penjajahan Belanda, ujar dia mencontohkan, perjuangan mereka mendapat dukungan penting dari warga desa-desa.

Ia juga menyebut kekayaan desa, baik secara material, spiritual, alam, dan manusianya, sebagai rahmatan lil alamin yang harus selalu disyukuri masyarakat karena menjadi kekuatan penting mereka menjalani kehidupan dalam semangat kebersamaan, gotong royong, kekeluargaan, dan bersyukur.

Suasana peringatan Hari Peradaban Desa 2026 di lokasi itu menjadi ajang keramaian warga karena mereka berkumpul untuk menyaksikan berbagai pementasan kesenian. Selain itu, para pedagang membuka lapak-lapak dagangan mereka, seperti aneka makanan, minuman, jajanan, dan permainan anak-anak.

Sejumlah pementasan kesenian di tempat terbuka di pekarangan rumah warga dengan properti berbagai bahan alam pada acara itu, antara lain tarian soreng, topeng ireng, warok, musik truntung, musik gamelan, dan pembacaan puisi.

Pada kesempatan itu, sesepuh dusun setempat, Sumaryono, bercerita menggunakan bahasa Jawa tentang sosok cikal bakal pendiri dusun setempat yang disebut sebagai Kiai Susuk dan Nyai Susuk, berasal dari Kerajaan Mataram yang dimakamkan di pekuburan dusun setempat.

Seorang pemuka warga yang juga dalang wayang di kawasan itu, Triyono, mengapresiasi peringatan Hari Peradaban Desa diselenggarakan Komunitas Lima Gunung karena bermanfaat menjaga semangat guyup warga dan menjadi ajang memperkuat nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat desa.

"Peringatan ini penting untuk menjaga etika masyarakat desa, warga tetap guyup," katanya dalam bahasa Jawa.



Pewarta:
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026