
Mengenal Syamsi Ali, tokoh Muhammadiyah yang menjadi Imam Besar Islamic Center of New York

Solo (ANTARA) - Hari ini UMS kedatangan H. Muhammad Syamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D., yang menjabat sebagai imam di Islamic Cultural Center of New York, salah satu masjid terbesar dan paling terkenal di New York.
Syamsi adalah kader Muhammadiyah yang berkiprah di Amerika dan menyebarkan nilai-nilai Islami di tengah-tengah masyarakat internasional.
Salah satu kontribusi terbesar Syamsi Ali adalah membangun hubungan harmonis antara Islam, Kristen, dan Yahudi di Amerika. Ia aktif dalam kegiatan interfaith dialogue (dialog lintas agama) bersama tokoh agama lain.
Bahkan ia menulis buku bersama seorang rabi Yahudi berjudul Sons of Abraham. Perannya ini membuatnya dikenal sebagai tokoh Muslim moderat yang mempromosikan perdamaian dan toleransi.
Setelah tragedi 11 September 2001, umat Islam di Amerika menghadapi tekanan dan kecurigaan besar. Syamsi Ali tampil sebagai salah satu tokoh Muslim yang menjelaskan bahwa Islam tidak identik dengan terorisme. Ia sering tampil di media internasional untuk menyampaikan pesan damai Islam.
Ia juga aktif berkomunikasi dengan Pemerintah Kota New York, aparat keamanan, dan berbagai lembaga sosial agar hubungan dengan komunitas Muslim tetap baik. Dalam beberapa kesempatan, ia menjadi penghubung antara umat Islam dengan pihak pemerintah dan kepolisian New York.
Beliau memberikan penjelasan yang meluruskan pola berpikir yang salah. Beliau mengatakan Amerika adalah bagian dari bumi Allah yang dihuni oleh masyarakat dengan beragam latar belakang agama, budaya, dan etnis. Di tengah masyarakat yang plural tersebut, Islam terus berkembang dan menjadi salah satu agama dengan pertumbuhan yang cukup pesat.
Perkembangan Islam di Amerika tidak terjadi tanpa sebab, melainkan didukung oleh beberapa faktor penting.
Pertama, Islam merupakan agama fitrah. Ajaran Islam selaras dengan kebutuhan dasar manusia, baik secara spiritual maupun moral. Nilai tauhid, keadilan, kasih sayang, dan ketenangan hidup yang diajarkan Islam mampu menyentuh hati banyak masyarakat Amerika yang sedang mencari makna hidup dan ketenteraman batin.
Kedua, Islam dipandang sebagai agama yang logis. Banyak ajaran Islam yang sesuai dengan akal sehat dan memberikan penjelasan rasional tentang kehidupan, tujuan manusia, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Konsep ketauhidan yang sederhana dan jelas menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian masyarakat Barat.
Ketiga, hukum di Amerika memberikan jaminan kebebasan beragama. Konstitusi Amerika menjamin hak setiap warga untuk memeluk dan menjalankan agamanya. Karena itu, umat Islam memiliki ruang untuk membangun masjid, lembaga pendidikan, organisasi dakwah, dan aktivitas keagamaan lainnya secara terbuka.
Keempat, perkembangan Islam di Amerika juga didukung oleh keteladanan sebagian kaum muslimin. Sikap ramah, disiplin, menjaga keluarga, semangat berbagi, serta kontribusi positif umat Islam di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial menjadi sarana dakwah yang efektif.
Banyak masyarakat yang tertarik kepada Islam bukan hanya karena teori, tetapi juga karena melihat akhlak kaum muslimin.
Namun demikian Islam di Amerika juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah Islamophobia, yaitu rasa takut dan prasangka negatif terhadap Islam dan umat Islam.
Stigma ini sering muncul akibat kesalahpahaman, pemberitaan media yang tidak seimbang, maupun tindakan kelompok ekstrem yang tidak mewakili ajaran Islam.
Tantangan berikutnya adalah sentimen politik. Dalam situasi tertentu, isu Islam kadang digunakan sebagai alat politik untuk memperoleh dukungan publik. Akibatnya umat Islam dapat menjadi sasaran diskriminasi atau kecurigaan.
Selain itu terdapat pula ketakutan sejarah yang masih memengaruhi sebagian masyarakat Barat terhadap dunia Islam. Konflik-konflik masa lalu maupun peristiwa global tertentu sering dijadikan alasan untuk membangun citra negatif tentang Islam, meskipun tidak mencerminkan keseluruhan ajaran dan umatnya.
Di tengah kondisi tersebut, dunia Islam perlu membangun persatuan dan kerja sama yang kuat. Persatuan umat Islam bukan untuk menciptakan permusuhan dengan pihak lain, tetapi untuk memperkuat posisi umat dalam bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, diplomasi, dan kemanusiaan.
Dengan persatuan umat Islam dapat menghadirkan peradaban yang damai, berilmu, dan bermartabat, sekaligus menjadi mitra dunia dalam menciptakan keadilan dan perdamaian global.
*Dosen Fakultas Agama Islam UMS
Oleh M Ainur Rhain*/Aris Wasita
COPYRIGHT © ANTARA 2026
