Logo Header Antaranews Jateng

DPRD Blora dorong penanganan kasus Snapboost dipercepat dan transparan

Jumat, 1 Mei 2026 19:08 WIB
Image Print
Ketua Komisi B DPRD Blora Yuyus Waluyo saat menerima audiensi puluhan orang yang diduga menjadi korban di Blora, Jawa Tengah, Jumat (1/5/2026). (ANTARA/Gunawan.)

Blora (ANTARA) - DPRD Kabupaten Blora, Jawa Tengah, meminta percepatan dan transparansi penanganan kasus dugaan aplikasi Snapboost yang diduga merugikan ratusan korban dengan nilai mencapai miliaran rupiah.

"Penanganan kasus tidak cukup hanya difokuskan pada aspek digital, tetapi juga perlu menelusuri jaringan offline yang diduga melibatkan pihak-pihak di daerah, termasuk pemiliknya," kata Ketua Komisi B DPRD Blora Yuyus Waluyo saat menerima audiensi puluhan orang yang diduga menjadi korban di Blora, Jumat.

Menurut dia, aliran dana pada praktiknya tetap bermuara ke jaringan offline sebelum disetor ke tingkat yang lebih atas.

Ia menegaskan DPRD tidak boleh berhenti pada diskusi semata, melainkan perlu langkah konkret mengingat kasus tersebut telah masuk ranah hukum dan ditangani kepolisian.

"DPRD perlu memberikan dukungan moral sekaligus tindakan nyata. Ini bukan kasus baru, jadi jangan hanya berhenti pada pengiriman surat atau menunggu informasi dari Polres," ujarnya.

Yuyus juga mendorong agar DPRD mengundang seluruh pihak terkait dalam forum resmi, termasuk unsur teknis ekonomi digital, bagian hukum, kepolisian, serta perwakilan korban.

"Kalau Polres dihadirkan dalam forum DPRD, akan ada tekanan moral sekaligus dorongan konkret agar penanganan kasus ini maksimal. DPRD berperan sebagai fasilitator yang menjembatani semua pihak," ujarnya.

Salah satu peserta audiensi, Johan Adi Saputro mengaku tertarik bergabung karena iming-iming keuntungan besar untuk memperbaiki ekonomi.

Ia menyetor dana secara bertahap hingga Rp49,5 juta, namun tidak pernah berhasil melakukan penarikan.

Hanya saja, kata dia, sejak awal April 2026 proses penarikan mulai bermasalah, dan sejak 12 April aplikasi tidak dapat diakses.

"Saya mengalami kerugian hingga Rp150 juta," ujarnya.

Ia menyebut hingga kini sekitar 35 orang telah melapor dengan total kerugian mencapai Rp650 juta.

"Diduga masih banyak korban lain yang belum melapor serta berharap ada tanggung jawab dari pihak penyelenggara," ujarnya.

Korban lainnya, Yunia Riris, warga Karangjati, Blora, melalui suaminya mengaku bergabung pada Ramadhan tahun ini setelah diajak oknum guru di salah satu SMA di Blora.

Ia menyebut jaringan perekrutan berada di daerah dan melibatkan banyak warga dengan nominal investasi bervariasi.

"Istri saya sempat investasi Rp3,8 juta selama sekitar dua bulan. Uang tersebut sempat dikembalikan utuh oleh terduga pelaku," ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya dugaan pihak yang berperan sebagai pelaku namun memposisikan diri sebagai korban dalam kasus tersebut.

Sebagai informasi tambahan, secara keseluruhan jumlah korban diperkirakan mencapai sekitar 725 orang dengan total kerugian mencapai Rp3,5 miliar.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026