Logo Header Antaranews Jateng

Bupati: 21 gunungan warnai hari jadi tiga abad Grobogan disertai harapan & doa

Selasa, 3 Maret 2026 14:05 WIB
Image Print
Tradisi 21 gunungan dalam peringatan Hari Jadi ke-300 Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menjadi simbol doa bersama serta harapan agar daerah dijauhkan dari berbagai hal negatif, Selasa (3/3/2026). (ANTARA/Gunawan.)

Grobogan (ANTARA) - Bupati Grobogan, Jawa Tengah, Setyo Hadi menyatakan tradisi 21 gunungan dalam peringatan hari jadi ke-300 kabupaten itu menjadi simbol doa bersama serta harapan agar daerah dijauhkan dari berbagai hal negatif.

"Dengan hari jadi ini, harapan saya dan teman-teman juga berdoa bersama dengan semua masyarakat agar Grobogan semakin makmur dan dijauhkan dari segala hal yang tidak baik," ujarnya di Grobogan, Selasa.

Menurut dia, momentum tiga abad perjalanan Grobogan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ajang refleksi atas capaian pembangunan serta penguat komitmen seluruh elemen masyarakat untuk terus bersatu membangun daerah.

Sebanyak 21 gunungan yang disiapkan dalam perayaan tersebut memiliki makna filosofis. Angka 21 dimaknai sebagai simbol tolak bala dan harapan agar Grobogan terhindar dari berbagai persoalan serta diberi kelancaran dalam pembangunan ke depan.

"Maknanya 21 gunungan ini sebagai simbol doa agar dijauhkan dari marabahaya dan supaya lebih makmur," ujarnya.

Gunungan tersebut disusun dari berbagai hasil panen dan komoditas pertanian lokal, mencerminkan karakter Grobogan sebagai daerah agraris. Hasil bumi itu menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas rezeki yang telah diberikan, sekaligus doa agar produksi pertanian semakin meningkat dan kesejahteraan petani semakin baik.

Setelah didoakan bersama, gunungan kemudian diperebutkan warga. Tradisi rebutan gunungan berlangsung meriah dan penuh antusiasme, karena masyarakat meyakini hasil bumi yang telah didoakan tersebut membawa berkah.

Bupati berharap peringatan hari jadi ke-300 itu menjadi momentum memperkuat kebersamaan, gotong royong, dan optimisme dalam menghadapi tantangan pembangunan.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan tiga abad perjalanan Grobogan sebagai pijakan untuk melangkah menuju daerah yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

Sejumlah warga menyambut antusias tradisi rebutan 21 gunungan tersebut. Salah seorang warga, Abror (25), mengaku sengaja datang bersama temannya untuk menyaksikan sekaligus mengikuti rebutan gunungan.

"Setiap tahun saya ikut, apalagi ini yang ke-300 tahun. Rasanya lebih istimewa. Semoga Grobogan semakin maju dan hasil panennya makin melimpah," ujarnya.

Warga lainnya, Rohmah, mengatakan isi gunungan yang berasal dari hasil panen lokal menjadi simbol berkah bagi masyarakat.

"Kami percaya ini membawa keberkahan, yang penting kebersamaannya," ujar dia.

Antusiasme masyarakat terlihat saat gunungan mulai diperebutkan. Warga dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua, berbaur dalam suasana penuh kegembiraan.

Mereka berharap peringatan tiga abad Grobogan menjadi momentum memperkuat persatuan dan semangat gotong royong demi kemajuan daerah ke depan.

Baca juga: Serapan APBD 2026 baru 4,7 persen, Pemkab Grobogan percepat realisasi



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026