Logo Header Antaranews Jateng

Tim gabungan dan warga gotong royong atasi tanggul Sungai Tuntang Demak yang jebol

Selasa, 17 Februari 2026 15:51 WIB
Image Print
Bupati Demak Eisti'anah bersama Forkopimda saat meninjau lokasi Tanggul Sungai Tuntang yang jebol di Desa Kebonagung, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Selasa (17/2/2026). ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif

Demak (ANTARA) - Lokasi tanggul Sungai Tuntang yang jebol di Desa Kebonagung, Kabupaten Demak, mulai ditangani dengan melibatkan sejumlah pihak, mulai TNI, Polri, BPBD, serta masyarakat yang bersama-sama melakukan pengoperasian alat dan pembersihan lumpur untuk membuka akses.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk penanganan darurat dan penutupan tanggul," kata Bupati Demak Eisti'anah saat meninjau lokasi tanggul jebol di Desa Kebonagung, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Selasa.

Ia mengatakan BBWS sudah melakukan langkah penanganan dan dalam waktu dekat dilakukan penutupan tanggul. Proses tersebut dibantu oleh TNI, Polri, BPBD, serta masyarakat yang bersama-sama melakukan pengoperasian alat dan pembersihan lumpur untuk membuka akses.

Tim gabungan, mulai dari BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat melakukan penyemprotan lumpur yang memenuhi jalan Raya Grobogan-Semarang di Desa Kebonagung.

Tanggul Sungai Tuntang tersebut jebol di dua titik, salah satunya memiliki panjang sekitar 40 meter dengan kedalaman mencapai 10 meter, serta berdampak pada akses jalan sepanjang 25 meter di Dukuh Wareng, Desa Kebonagung. Sedangkan lokasi kedua tanggul jebol sepanjang 25 meter di desa yang sama.

Kedua tanggul jebol terjadi pada hari yang sama, Senin (16/2) antara pukul 15.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Bupati Eisti’anah menyampaikan bahwa kejadian tanggul jebol mengulang peristiwa serupa yang terjadi setahun lalu di sisi tanggul yang berdekatan.

Ia menjelaskan tingginya debit air tahun ini menjadi salah satu penyebab jebolnya tanggul, bahkan mengakibatkan beberapa struktur beton hanyut terbawa arus.

Meski demikian, pasca-banjir masih terdapat sekitar dua hektare lahan pertanian yang belum dipanen, yang dinilai masih menjadi keberuntungan bagi masyarakat setempat.

Terkait pengungsian, sebagian warga yang masuk kategori rentan seperti lansia masih menempati tempat pengungsian di Gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Sementara warga lainnya memilih kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan dan perbaikan.

Selain Kebonagung, Pemkab Demak juga melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan lainnya, seperti Tanggul Cabean, Desa Pilangwetan, serta Kali Dombo yang sebelumnya sempat mengalami limpasan air.

"Kami terus berkoordinasi dengan BBWS dan BPWS. Mana yang bisa ditangani melalui APBD akan kami lakukan, termasuk normalisasi sungai secara masif. Untuk sungai besar seperti Kali Dombo, sudah kami anggarkan hingga tahun 2025," ujarnya.

Bupati Eisti’anah menambahkan pihaknya juga membuka kemungkinan pengusulan modifikasi cuaca apabila kondisi curah hujan masih tinggi. Namun, hal tersebut masih dalam pertimbangan, mengingat wilayah Demak berada di hilir, sehingga menghadapi kendala rob dan aliran air yang sulit langsung menuju laut.

"Kami berharap semua pihak terus bersinergi. Yang paling penting adalah keselamatan dan kepentingan masyarakat Demak, karena kejadian seperti ini terus berulang dan masyarakat yang paling terdampak," ujarnya.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026