
DLH Banyumas imbau untuk membatasi pemanfaatan air sungai pascabanjir bandang

Purwokerto (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah mengimbau masyarakat untuk membatasi sementara pemanfaatan air sungai menyusul penurunan kualitas air akibat banjir bandang dari sejumlah sungai yang berhulu di lereng Gunung Slamet pada Sabtu (24/1).
Kepala DLH Kabupaten Banyumas Widodo Sugiri di Purwokerto, Banyumas, Rabu, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan sejumlah parameter pencemar berada jauh di atas ambang batas baku mutu air, sehingga air sungai belum layak dimanfaatkan secara optimal, khususnya untuk budi daya perikanan, peternakan, dan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan air.
"Berdasarkan kajian kualitas air, beberapa parameter seperti kekeruhan, Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) berada di atas ambang batas. Untuk sementara, kami imbau masyarakat agar tidak memanfaatkan air sungai secara penuh dan melakukan pembatasan penggunaan," katanya.
Lebih lanjut, dia mengatakan hasil pemantauan DLH melalui sistem Online Monitoring Mutu Air (Onlimo) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kondisi paling terdampak berada di Sungai Pelus bagian tengah.
Menurut dia, pada Stasiun Onlimo KLHK253 di Bendung Pandak Raden, Desa Pandak, Kecamatan Baturraden, nilai Total Suspended Solid (TSS) tercatat mencapai 427,11 miligram per liter pada 25 Januari 2026, jauh melampaui baku mutu air kelas II sebesar 50 miligram per liter.
Selain itu, BOD terpantau 356,93 miligram per liter dan COD 613,62 miligram per liter, masing-masing jauh di atas baku mutu air kelas II, yakni 3 miligram per liter untuk BOD dan 25 miligram per liter untuk COD.
Ia mengatakan tingginya nilai parameter tersebut dipengaruhi material lumpur dari lereng Gunung Slamet yang terbawa arus sungai, menyebabkan kekeruhan meningkat dan pendangkalan di beberapa titik.
"Kondisi ini berdampak pada pertanian, perikanan, serta permukiman warga di bantaran sungai. Kami meminta masyarakat lebih waspada," katanya.
Menurut dia, hasil pemantauan kualitas air bersih tersebut telah disampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas untuk disosialisasikan secara efektif dan seragam kepada masyarakat.
Terkait layanan air bersih, dia mengatakan perusahaan daerah air minum masih dapat mengolah air melalui sistem yang ada, namun masyarakat yang mengambil air langsung dari sungai atau sumber mata air di dekat sungai diminta berhati-hati karena potensi masuknya air berlumpur masih tinggi.
"Kami akan terus memantau kualitas air secara berkala serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menentukan langkah lanjutan sesuai perkembangan kondisi lingkungan," kata Sugiri.
Baca juga: Bupati Banyumas: UHC Award wujud komitmen melindungi kesehatan warga
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
