Polisi Brazil larang serang permukiman kumuh selama pandemi

id Rio de Janeiro, Brazil, favela,Polisi brazil

Polisi Brazil larang serang permukiman kumuh selama pandemi

Satuan polisi elite Brasil melakukan patroli di kawasan Nueva Holande favela, yang menjadi bagian dari komplek Favela da Mare shantytown di Rio De Janeiro, Brasil minggu pagi (30/3). Sekitar 1000 polisi yang didukung oleh personil militer serta kendaraan lapis baja menguasai kawasan berbahaya Mare favela yang berdekatan dengan Bandar Udara Rio. AFP PHOTO/YASUYOSHI CHIBA

Brasilia (ANTARA) - Ketua Mahkamah Agung Bazil pada Jumat melarang serangan polisi di permukiman kumuh (favela) di Rio de Janeiro selama pandemi virus corona baru, saat banyaknya kritik atas taktik brutal polisi bermunculan di bangsa terbesar Amerika Latin itu.

Dalam keputusannya, Ketua MA Edson Fachin melarang serangan-serangan di favela "kecuali dalam kasus-kasus yang sangat luar biasa." yang kebanyakan disetujui terlebih dulu oleh kantor kejaksaan negeri.

Pasukan kepolisian Rio dikenal suka melakukan kekerasan, telah membunuh lebih dari 1.800 orang pada 2019. Saksi mata yang lugu sering terjebak dalam baku tembak dan polisi umumnya dituduh melakukan penembakan terlebih dulu. Ini sikap polisi yang mengutamakan tembak dulu, soal kebenaran urusan belakangan.

Pada Mei, polisi di Rio dikecam karena satu operasi yang menewaskan anak berumur 14 tahun, sama seperti peristiwa baku tembak lain di favela yang didera corona, yang mengakibatkan ratusan orang turun ke jalan-jalan.

Protes di Amerika Serikat atas pembunuhan George Floyd, pria kulit hitam tak bersenjata, saat di tahanan polisi di Minnesota, telah memotivasi protes di Brazil.

"Ini keputusan bersejarah," kata anggota Kongres Alessandro Molon, yang partai politiknya PSB telah melayangkan tuntutan yang menghasilkan keputusan itu.

"Mungkin kemenangan terpenting adalah memerangi rasisme kelembagaan," kata Molon. "MA memutuskan berpihak pada kehidupan dan jelas bahwa nyawa orang kulit hitam berharga."

Reuters
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar