Kampung sayur organik Mojosongo targetkan mandiri pangan

id Kampung sayur Mojosongo

Kampung sayur organik Mojosongo targetkan mandiri pangan

Salah satu warga sedang merawat tanaman cabai yang dibudidayakan di depan rumah (Foto: Aris Wasita)

sedangkan perikanan harapannya setiap rumah punya kolam sederhana untuk memelihara ikan konsumsi
Solo (ANTARA) -
Kampung sayur organik di Ngemplak Sutan, Kelurahan Mojosongo, Kota Solo menargetkan sebagai kampung mandiri pangan.

"Saat ini kami sudah menuju ke sana," kata Koordinator kampung sayur organik Mojosongo Paryanto di Solo, Minggu.

Meski demikian, katanya, saat ini hasil kebun yang diperoleh masyarakat di wilayah Kecamatan Jebres itu, masih sebatas untuk keperluan konsumsi rumah tangga sendiri.

"Masih konsumsi sendiri dengan memanfaatkan pekarangan yang ada. Jadi kami belum melakukan promosi keluar karena fokusnya di pemberdayaan masyarakat," katanya.

Ia mengatakan untuk lahan yang ditanami masyarakat pun bukan lahan khusus, melainkan hanya memanfaatkan pekarangan yang luasnya relatif terbatas.

"Di pinggir-pinggir rumah, depan dan pinggir jalan. Kami menanamnya di polybag dan pot," katanya.

Baca juga: Toko Swalayan Kesulitan Pasokan Sayuran Organik

Untuk beberapa jenis tanaman yang ditanam juga terbatas mengingat Kota Solo bukan daerah dengan iklim dingin.

Ia mengatakan beberapa sayuran yang ditanam, di antaranya cabai, terong, tomat, kangkung, selada, dan stroberi.

Sejauh ini, sudah sekitar 50 rumah yang melakukan budi daya tersebut atau sekitar 60 persen dari total rumah di kampung tersebut.

Untuk merealisasikan program kampung mandiri pangan, saat ini ia mengajak masyarakat setempat membudidayakan ternak dan ikan dalam skala kecil.

"Kalau ternak paling tidak setiap rumah tangga punya 5-10 ekor ayam petelur, sedangkan perikanan harapannya setiap rumah punya kolam sederhana untuk memelihara ikan konsumsi," katanya.

Baca juga: Setiaji sulap loteng jadi kebun sayuran hidroponik
Baca juga: Petani Lereng Merbabu Beralih ke Tanaman Organik
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar