Telaah - Kota Magelang dalam catatan kota taman berkelanjutan

id kota magelang,kota sejuta bunga,taman kota

Telaah - Kota Magelang dalam catatan kota taman berkelanjutan

Repro foto Taman Badaan dengan latar belakang panorama Gunung Sumbing dan Perbukitan Giyanti pada 1935 dikutip dari buku "Wetens waardigheden van Magelang", karya H.J. Sjouke. (ANTARA/Dokumen Bagus Priyana)

Magelang (ANTARA) - Kota Magelang selama dua periode pemerintahan di bawah Wali Kota Sigit Widyonindito (2011-2021) menyebut diri sebagai "Kota Sejuta Bunga".

Di berbagai penjuru kota secara masif dibangun taman-taman baru dan secara berkelanjutan dirawat dengan sungguh-sungguh. Begitu pula, sejumlah taman yang telah ada, dilakukan pembenahan sehingga makin tampak elok.

Sebut saja beberapa taman-taman itu, misalnya Taman Lansia di depan rumah dinas militer sepanjang Jln. Akhmad Yani, Taman Cempaka di depan SMAN 1, taman depan RSJ dr. Soerojo, jalur joging di sepanjang Saluran Kali Kota, taman tepi Kali Manggis di kaki Gunung Tidar, taman di utara Stadion Abu Bakrin di Jln. Tidar, dan taman di Bayeman Mudal.

Selain itu, Kebun Bibit Senopati, pembuatan air mancur dilengkapi taman di alun-alun, Taman Badaan sisi timur dan barat, taman di alun-alun sisi tenggara, taman di Jln. Sudirman (depan Hotel Trio dan Artos), dan taman di pinggir Kali Manggis Samban.

Hasilnya, kota yang hingga kini masih bertahan dengan hawa sejuknya itu seakan gemerlap dengan aneka taman dan sebutan "Kota Sejuta Bunga" seakan bergelora. Keindahan dan gemerlap taman kota bukan hanya terlihat pada siang hari, namun juga malam hari karena ditimpali aneka lampu hias.

Capaian berkali-kali Kota Magelang atas penghargaan Adipura, tentu saja tidak lepas dari eksistensi taman-taman kotanya yang bertebaran dan pengelolaan melibatkan berbagai elemen secara berkelanjutan itu.

Ketika beredar kabar belum lama ini bahwa Bagus Panuntun wafat di Jakarta pada 15 Agustus 2019, sebagian warga Kota Magelang barangkali membuka ingatannya tentang pembangunan taman bunga yang digagasnya pada 1981 di kawasan Bayeman. Bagus Panuntun menjabat Wali Kota Magelang periode 1979-1989. 

Dalam perkembangannya, setelah menjadi Taman Rekreasi dan Taman Flora pada 1982, taman itu secara resmi pada 3 September 1987 menjadi Taman Kyai Langgeng. Hingga saat ini, Taman Kyai Langgeng, yang seluas 27,36 hektare itu menjadi salah satu objek wisata andalan Kota Magelang. 

Taman Kyai Langgeng kiranya bisa dibilang monumental bagi perkembangan Kota Magelang, termasuk kaitannya dengan catatan-catatan taman kota di daerah yang oleh misionaris Van Den Heuvell pada 1901 disebut berada di tengah permadani hijau abadi yang terbentang di Pulau Jawa dan dikelilingi Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing.

Baca juga: Perindah hutan kota, tampilan Taman Gunung Tidar diperbarui

Di tengah permadani itu terletak Magelang. Kota itu dikelilingi deretan gunung berapi, dan Magelang lantas mendapatkan sebutan “de Tuin van Java” atau Taman Pulau Jawa. 

Burgemeester atau Wali Kota Stadgemeente Magelang Ir. Nessel van Lisaa pada 1936 menerbitkan buku "De Bergstad van Midden-Java Middelpunt van den Tuin van Java” yang artinya "Taman di Kota Pegunungan di Tengah Pulau Jawa".

Julukan "de Tuin van Java" tersebut, saat ini dipakai sebagai salah satu nama pusat kuliner Kota Magelang, di alun-alun setempat.
 
Anak-anak SD berlatih baris berbaris di Taman Badaan Kota Magelang sisi barat. (ANTARA/Bagus Priyana)


Pada era penjajahan Belanda, taman-taman kota dibangun di beberapa tempat di Kota Magelang. Salah satu yang monumental, yakni Taman Badaan, baik di sisi timur maupun barat jalan pada 1920. Taman Badaan sebagai ruang publik dan rekreasi. 

Kala itu, warga Eropa yang tinggal di kawasan tersebut menggunakan Taman Badaan dengan pemandangan Gunung Sumbing dan Perbukitan Giyanti untuk "on de zon" atau menikmati suasana matahari pagi dan sore, sambil duduk-duduk, mengobrol, dan minum kopi.

Tedy Harnawan, sejarawan UGM dalam skripsinya berjudul “Di Bawah Bayang-Bayang Modernitas: Orang-Orang Indo di Kota Magelang, 1906-1942” menuliskan kegemaran berkebun dan menanam bunga oleh masyarakat Indo --khususnya perempuan-- di Magelang.
 
Pot-pot besar ditanami bunga-bunga dan tumbuhan hijau, diletakkan di teras rumah. Para perempuan Indo harus bisa merawat bunga dengan baik karena cita rasa kebun Hindia Belanda tidak dimiliki perempuan Eropa totok. 

Berkebun menjadi kebiasaan orang Indo di dalam rumah untuk mengisi waktu luang. Sudah sangat wajar bila berkunjung ke rumah mereka akan disambut dengan banyaknya pot bunga yang besar dan terawat dengan baik.

Penanaman bunga yang paling baik pada akhir musim hujan, sedangkan benih-benih bunga bisa dipesan di toko-toko bunga di Kota Magelang saat itu, yakni Art Floral, Vanda, dan Veronica. 

Bunga-bunga yang ditanam harus berkualitas dan cepat tumbuh, seperti Phlox drummendi, Petunia, Leeuwenbekjes, Tagetes erecta, dan Cosmes bippinatus.

Bondan Eri Christanto (Fakulas Sastra UGM) dalam skripsi pada 1998, "Sejarah Kota Magelang dari Gemeente sampai Kota Madya 1906-1984" mengemukakan Pemerintah Kotapraja Magelang (Stadsgemeente Magelang) pada 1937 meminta Herman Thomas Karsten, arsitek dan ahli tata ruang kota untuk mengatur tata ruang kota setempat, meliputi perencanaan kota, rencana detail, dan peraturan bangunan. 

Kota Magelang dibagi menjadi zona wilayah berdasarkan kelas ekonomi dan kepentingan tertentu, antara lain perumahan, jalan raya, taman dan lapangan, saluran air dan saluran limbah, sekolah, rumah sakit, dan pasar.

Ekologi kota dibuat bersih, rapi, dan tertib. Wilayah di sekitar tangsi militer dan sepanjang jalan utama, pemukiman elit pamong praja, dan pengusaha ditanami berbagai macam bunga sehingga semakin asri dan elok. 

Aneka bunga, seperti bugenvil, gladiol, mawar, dan melati banyak menghiasi setiap sudut kota yang strategis. Banyak pohon kenari, beringin, asam belanda, dan flamboyan menjadi arena bermain anak-anak. Taman kota yang terkenal, antara lain Badaan, Gladiol, Keresidenan, Alun-Alun, dan Ngentak.
 
Repro foto Taman di saluran Kali Kota, depan tangsi militer Jln. Ahmad Yani kawasan Poncol, Kota Magelang pada 1950-an. (ANTARA/Dokumen Bagus Priyana)


Pada era 1960-an, pemerintah kota mengganti nama-nama jalan di kawasan Gladiol dengan nama-nama bunga, seperti gladiol, embong mawar, embong kenongo, dan embong cempaka, sedangkan pada 1981 nama-nama jalan itu berganti menjadi Jalan M.T. Haryono, Mawar, Kenanga, dan Cempaka. Di kawasan Bayeman, nama gang-gang juga berganti dengan nama bunga, seperti Gang Melati, Kantil, dan Telasih.

Ketika Kota Magelang dipimpin Wali Kota Mochammad Subroto (1966-1979), Taman Badaan sisi barat dibenahi dengan didirikan Monumen Jenderal Ahmad Yani dan dibangun kolam air berbentuk angka 8. Tempat ini lebih identik sebagai taman monumental perjuangan. 

Taman Badaan sisi timur yang identik sebagai tempat rekreasi dipercantik dengan patung-patung binatang, seperti badak, gajah, jerapah, macan, kuda nil, dan unta. Taman sisi timur ini lebih identik sebagai taman rekreasi.  

Setiap Wali Kota Magelang mencatatkan era kepemimpinannya dengan program pembangunan taman-taman kota. Tentu saja, terobosan dan kebijakan setiap wali kota disesuaikan dengan tuntutan dinamika zaman, kreasi, dan inovasi era pemerintahan masing-masing.

Kalau saat ini Kota Magelang terkesan makin kuat merengkuh julukan "Kota Sejuta Bunga", barangkali bukan sekadar karena dalam satu dekade terakhir secara masif banyak dibangun taman kota.

Akan tetapi, kiranya boleh juga hal tersebut terkait dengan taman-taman kota yang telah menempatkan dirinya dalam catatan sejarah kota yang juga pernah menjadi pusat wilayah Kedu "Lama" itu.

Kota Magelang memiliki genetika taman kota. (hms)


*) Bagus Priyana
Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang

Baca juga: Penataan Kota Magelang Dipuji Tim Penilaian Adipura
Baca juga: Wali Kota Magelang ajak warga kurangi sampah plastik


 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar