Pernikahan dini kalangan pengungsi bencana Palu mulai marak

id Palu,Pengungsi,Pernikahan dini,Bencana

Pernikahan dini kalangan pengungsi bencana Palu mulai marak

Wali Kota Palu Hidayat (tengah), Kepala DP3A Irmayanti Pettalolo (pertama dari kiri) dan Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia Amanda Bissex (ke empat dari kanan) berfoto bersama usai berdialog mengenai upaya pengentasan masalah sosial yang psikososial yang dialami anak-anak korban bencana Palu di ruang kerja Wali Kota Palu Kantor Wali Kota Palu, Kamis (16/5/2019). (ANTARA/HO/Humas Pemkot Palu/Imron Nur Huda)

Palu (ANTARA) - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Palu, Sulawesi Tengah, menemukan anak-anak pengungsi di bawah umur korban bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi yang terpaksa dinikahkan.

Kepala DP3A Kota Palu Irmayanti Pettalolo menduga kuat pernikahan dini yang meningkat setelah anak-anak pengungsi di bawah umur tersebut menempati shelter atau tenda pengungsian maupun hunian sementara (huntara) akibat pergaulan bebas.

"Situasi sekarang perkawinan anak meningkat. Ada beberapa anak-anak di bawah umur yang harus dinikahkan karena kondisi pada waktu pascabencana," katanya di depan Wali Kota Palu Hidayat saat berdialog dengan perwakilan Organisasi Dana Anak-anak Dunia (UNICEF) di ruang kerja Wali Kota Palu Kantor Wali Kota Palu, Kamis (16/5).

Namun dia tidak merinci jumlah anak-anak di bawah umur yang dinikahkan tersebut.

Irmayanti juga tidak ingin mengungkap identitas mereka mengingat usianya yang masih di bawah umur.

"Kontrol orang tua yang hidup di tenda-tenda ini tidak seperti biasanya saat tinggal di rumah. Jadi, mereka tidak bisa mengetahui anaknya keluyuran ke mana. Ada beberapa shelter itu tempat yang anak-anak itu dinikahkan di bawah umur. Anak-anak usia SMP," ujarnya.

Menurutnya, peran serta pihak-pihak yang terkait yang bergerak dalam perlindungan perempuan dan anak, baik dari pemerintah maupun non pemerintah seperti UNICEF sangat penting untuk mengatasi persoalan tersebut.

Sementara itu, Wali Kota Palu Hidayat dalam pertemuan tersebut mengemukakan jika percepatan pembangunan dan penyelesaian hunian tetap (huntap) sangat penting dilakukan.

Dia yakin huntap menjadi solusi terbaik untuk mengatasi persoalan tersebut sebab hidup di tenda pengungsian selama delapan bulan lamanya dan di huntara dalam beberapa bulan ke depan menimbulkan permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapi dan dialami anak-anak dan perempuan.

"Saya berjuang agar mereka cepat dapat huntap. Kalau begini ini anak-anak dan perempuan yang sangat rentan. Boleh dibilang saya ini mengemis huntap baik kepada lembaga, yayasan atau organisasi non pemerintah dan pemerintah," ujarnya.
.
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar