Logo Header Antaranews Jateng

Dari Titen ke TikTok: Menjembatani Bahasa Kebencanaan untuk Semua Generasi

Sabtu, 9 Mei 2026 18:52 WIB
Image Print
Kuswaji Dwi Priyono. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Kuswaji Dwi Priyono

Guru Besar Bidang Geografi UMS

Pertemuan ilmiah tahunan atau Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-9 Ikatan Ahli Bencana Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 06–08 Mei 2026, bukan sekadar forum akademik biasa.

Dengan mengusung tema “Strengthening Disaster Risk Governance for Resilience” atau Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Ketangguhan, forum ini menghadirkan refleksi mendalam tentang arah pengelolaan kebencanaan Indonesia di tengah meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi, geologi, maupun bencana nonalam.

Bahwa Indonesia adalah negara yang hidup di atas cincin api dunia, berada pada pertemuan tiga lempeng besar, dan memiliki kompleksitas geografis yang menjadikannya salah satu negara paling rawan bencana di dunia.

Namun demikian, satu hal penting yang turut mengemuka dalam berbagai diskusi PIT kali ini adalah persoalan komunikasi kebencanaan kepada masyarakat luas. Sebab di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi mitigasi, dan sistem tata kelola risiko yang semakin maju, tantangan terbesar sesungguhnya terletak pada bagaimana ilmu tersebut dapat dipahami, diterima, dan dijalankan oleh masyarakat secara nyata.

Tidak semua masyarakat Indonesia memiliki tingkat pendidikan, literasi, maupun akses informasi yang sama. Di banyak wilayah, terutama pada komunitas akar rumput, bahasa-bahasa teknis kebencanaan sering kali terasa terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, generasi milenial dan Gen Z justru hidup dalam budaya digital yang cepat, visual, interaktif, dan ringkas. Mereka lebih dekat dengan konten media sosial, video pendek, infografik, maupun pendekatan komunikasi yang kreatif dan emosional dibandingkan dengan narasi formal yang panjang dan kaku. Kondisi ini menunjukkan bahwa komunikasi kebencanaan Indonesia tidak lagi dapat menggunakan pendekatan tunggal. Bahasa akademik yang sangat penting di ruang ilmiah perlu diterjemahkan menjadi bahasa publik yang membumi, mudah dipahami, serta relevan dengan karakter sosial masyarakat Indonesia yang beragam.

Karena itu, PIT ke-9 IABI menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa penguatan tata kelola risiko bencana tidak cukup hanya membangun sistem, regulasi, dan teknologi, tetapi juga harus memperkuat strategi komunikasi publik yang inklusif. Ilmu kebencanaan harusbmampu “turun gunung” menjadi pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat. Mitigasi tidak boleh berhenti sebagai istilah ilmiah, tetapi harus hadir sebagai kebiasaan, kesadaran, dan budaya kolektif masyarakat Indonesia.

Dalam konteks inilah, Ikatan Ahli Bencana Indonesia memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara sains kebencanaan dan bahasa masyarakat. IABI bukan hanya dituntut melahirkan rekomendasi akademik, tetapi juga membangun model komunikasi kebencanaan yang adaptif terhadap perubahan zaman, peka terhadap budaya lokal, dan mampu menjangkau lintas generasi. Sebab pada akhirnya, ketangguhan bangsa menghadapi bencana bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi mitigasi, melainkan juga oleh sejauh mana masyarakat memahami, mempercayai, dan mampu bertindak atas informasi yang disampaikan.

Menariknya, penyelenggaraan PIT ke-9 IABI di Yogyakarta seakan mengingatkan kembali bahwa masyarakat Indonesia sesungguhnya telah lama memiliki kearifan mitigasi berbasis pengalaman hidup. Dalam budaya masyarakat Yogyakarta dikenal istilah titen atau titeni, yakni kemampuan membaca tanda-tanda alam melalui pengamatan yang terus-menerus.

Masyarakat dahulu mengenali perubahan perilaku hewan, arah angin, suara alam, perubahan debit air, hingga tanda-tanda gunung melalui pengalaman kolektif yang diwariskan lintas generasi.

Ilmu titeni menunjukkan mitigasi bencana sejatinya bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Bedanya, dahulu mitigasi hidup dalam budaya dan keseharian masyarakat, bukan hanya dalam dokumen atau ruang seminar. Karena itu, penguatan tata kelola risiko bencana di era modern seharusnya tidak memutus hubungan dengan kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Justru di sinilah pentingnya membangun komunikasi kebencanaan yang mampu menghubungkan sains modern dengan budaya lokal.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, tantangan kebencanaan Indonesia bukan hanya soal membangun teknologi peringatan dini, tetapi juga bagaimana menghidupkan kembali kesadaran kolektif masyarakat dengan bahasa yang akrab bagi zamannya. Jika dahulu masyarakat belajar mitigasi melalui titeni, maka generasi hari ini mungkin belajar melalui video pendek, media sosial, animasi, dan konten digital yang mereka konsumsi setiap hari.

Esensinya tetap sama: bagaimana pengetahuan tentang keselamatan dapat dipahami, diingat, dan dilakukan bersama. Karena itu, masa depan komunikasi kebencanaan Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan data dan teknologi, tetapi juga membutuhkan kemampuan menerjemahkan ilmu menjadi bahasa kehidupan. Dari budaya titen hingga era TikTok, tujuan utamanya tetap satu: menyelamatkan manusia dan membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.



Pewarta:
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026