Beradu kreativitas dalam festival penjor di Borobudur

id indro kimpling

Beradu kreativitas dalam festival penjor di Borobudur

Koordinator Pelaksana Borobudur Cultural Feast Indro Kimpling. (Heru Suyitno)

Magelang (Antaranews Jateng) - Festival kreasi penjor tradisional Nusantara bakal meramaikan Borobudur Cultural Feast di kawasan Candi Borobudur, kata Koordinator Pelaksana Borobudur Cultural Feast Indro Kimpling.

"Festival penjor merupakan ajang lomba kreativitas seni untuk membuat rancangan penjor dengan ciri khas tradisi Nusantara," katanya di Magelang, Rabu.

 Ia menuturkan peserta lomba dibagi dalam dua kategori, yakni peserta desa sekecamatan Borobudur terdiri atas 20 desa dan peserta umum bisa sekolah, komunitas, instansi pemerintah, instansi swasta, dan perseorangan.

Ia mengatakan dalam lomba ini peserta merancang kreasi penjor dengan standar ukuran bambu penjor pada umumnya. Penilaian penjor meliputi kriteria penampilan desain, artistik, dan kreativitas penggunaan bahan.

Bahan penjor dapat menggunakan kain bahan alam (kering, kayu, aksesoris, bahan bekas daur ulang). Penjor boleh menggunakan lampu penerangan mandiri atau tanpa sambungan sumber daya listrik.

Bagi peserta desa masing-masing minimal membuat 10 penjor kreasi untuk dipasang dan dinilai. Kreasi desain penjor harus berbeda untuk setiap penjornya. Bahan materi pembuatan penjor diwajibkan untuk menggunakan bahan yang tahan lama.

Indro mengatakan penjor terpasang mulai 13-21 Desember 2018.

Bregada
Selain festival penjor, katanya dalam Borobudur Cultural Feast juga digelar festival bregada keprajuritan. Peserta festival bregada dari semua desa di Kecamatan Borobudur. Masing-masing peserta minimal 20 orang plus satu komandan.

Ia menuturkan peserta mengenakan kostum tradisi khas Borobudur. Rute kirab lomba di seputaran Taman Lumbini Candi Borobudur. 

Menurut dia pada Borobudur Cultural Feast ketiga ini 90 persen ditangani oleh masyarakat borobudur.

"Tema Borobudur Cultural Feast ketiga adalah Hamemayu Haruming Borobudur, yaitu kesyukuran tiada henti untuk Borobudur. Sebuah doa perenungan permohonan kepada Tuhan YME agar kisah kejayaan masa lampau dapat senantiasa terwujud pada masa sekarang sampai nanti," katanya.

Ia mengatakan pesona tontonan yang atraktif penuh kejutan akan menumbuhkan kesan mendalam bagi para penonton untuk selalu mencintai warisan kekayaan budaya leluhur bangsa Indonesia. 
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar