Logo Header Antaranews Jateng

Pemkot Semarang Ganti 90 Kontainer Sampah Tak Layak

Jumat, 10 Maret 2017 20:14 WIB
Image Print
Ilustrasi - Sejumlah pemulung mengais sisa-sisa sampah di tempt pembuangan akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo. FOTO ANTARA/Akbar Nugroho Gumay/ss/pd/10 ()

Semarang, ANTARA JATENG - Pemerintah Kota Semarang segera mengganti kontainer truk sampah yang kondisinya sudah tidak layak agar tidak mengganggu pengguna jalan.

"Dinas Lingkungan Hidup sudah menganggarkan kontainer baru untuk sampah sebanyak 90 unit. Itu fokus utama," kata Kepala Bagian Humas Setda Kota Semarang Achyani di Semarang, Jumat.

Dengan diperbaruinya kontainer truk sampah, kata dia, masyarakat selaku pengguna jalan kini tak perlu khawatir dengan bau sampah yang diangkut dan ceceran sampah akibat kontainer yang berlubang.

Wali Kota semarang Hendrar Prihadi mengakui sampah merupakan persoalan yang sangat serius di Kota Semarang, sebagaimana kota-kota besar lainnya, termasuk menjadi salah satu penyebab banjir.

"Banjir yang kerap terjadi di beberapa wilayah, salah satunya disebabkan sampah yang menyumbat saluran dan drainase. Kalau hujan dan air laut pasang atau rob, menimbulkan persoalan baru," katanya.

Ia mengatakan sampah juga menyumbat pompa-pompa air yang dioperasikan, padahal saat ini sudah ada 97 pompa air yang disiagakan untuk mengantisipasi jika terjadi hujan beras yang berpotensi banjir.

Maka dari itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk peduli dengan lingkungan sekitar, terutama tidak membiasakan membuang sampah secara sembarangan, apalagi di sungai atau saluran air.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 2015, kata dia, potensi sampah plastik di lautan di wilayah Indonesia mencapai 187,2 juta ton/tahun dan berada di urutan kedua setelah Tiongkok.

Bahkan, kata dia, dalam kurun lima tahun terakhir ada kecenderungan peningkatan volume sampah plastik di 22 kota metropolitan dari semula 400 ribu meter kubik/tahun menjadi 1,2 juta meter kubik/tahun.

"Di Semarang, dengan jumlah penduduk mencapai 1,6 juta jiwa yang tersebar di 16 kecamatan, setiap harinya dihasilkan 1.000 ton sampah, dan yang masuk TPA Jatibarang mencapai 850 ton," katanya.

Sisanya, kata Hendi, yakni 15 persen dikelola oleh kurang lebih 50 bank sampah yang tersebar di berbagai wilayah di Kota Semarang untuk diolah menjadi pupuk dan gas metana.

Untuk itulah, ia mengharapkan kepedulian dan partisipasi masyarakat terhadap kebersihan lingkungan semakin tinggi, seperti peran serta komunitas untuk membersihkan sampah.

"Seperti Komunitas Peduli Lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip, beberapa waktu lalu membersihkan sampah di Tambaklorok. Harapan kami, semakin banyak komunitas yang peduli," pungkasnya.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026