"Sektor industri saat ini belum punya daya saing yang kuat sehingga perlu ada dorongan, tidak hanya kontribusi pada sektor perdagangan," katanya di Semarang, Rabu.

Hal tersebut disampaikan Aviliani saat menjadi salah satu pembicara pada seminar bertema "Meneropong Ekonomi Jateng 2014" di kantor perwakilan Bank Indonesia Wilayah Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta di Jalan Imam Bardjo Semarang.

Untuk memacu pertumbuhan industri regional, ia mengharapkan pemerintah kabupaten/kota menerapkan kebijakan pengembangan kawasan sub-urban sebagai antisipasi titik jenuh lonjakan penduduk.

"Disisi lain pengembangan kawasan industri maupun ekonomi yang ada hingga kini belum optimal," ujar Komisaris Independen Bank Rakyat Indonesia itu.

Wakil Ketua DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Jateng Rio Rianto mengatakan bahwa pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi perlu bersinergi untuk meningkatan perekonomian di provinsi setempat pada 2014.

"Sinergi tiga pihak itu dilakukan dengan meningkatkan ekspor nonmigas, mengurangi impor nonmigas, meningkatkan akses pasar ekspor," katanya.

Ia mengungkapkan, ada tiga langkah strategis yang perlu dilakukan yaitu penguatan daya saing global, pengamanan pasar domestik, dan penguatan pasar ekspor," katanya.

Kendati demikian, kata dia, ada permasalahan yang menghambat pertumbuhan ekonomi di Jateng dan harus segera dicari solusinya.

"Beberapa permasalahan itu menyangkut energi, infrastruktur, keterbatasan lahan, serta tenaga kerja," ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan kelompok komoditas ekspor Jateng pada 2013 tercatat ekspor tekstil dan produk tekstil mencapai 40,4 persen, ekspor kayu dan barang dari kayu 15,3 persen, serta ekspor bermacam barang hasil pabrik 13,6 persen dengan negara tujuan Amerika Serikat, China, dan Jepang.

"Untuk impor mineral atau migas di Jateng 2013 tercatat 67,9 persen, tekstil dan barang tekstil 7,3 persen, serta mesin dan pesawat mekanik 6,5 persen," katanya.

Tiga negara pemasok utama impor ke Indonesia, katanya, adalah Saudi Arabia, China, dan Singapura.

"Ketiga negara itu menyumbang sekitar 56,9 persen dari total impor ke Jateng," ujarnya.