Solo (ANTARA) - Selama lebih dari dua dekade terakhir, dunia pendidikan bergerak sangat cepat menuju digitalisasi. Sekolah membangun Learning Management System (LMS), universitas mengembangkan platform pembelajaran daring, pemerintah berinvestasi pada infrastruktur teknologi pendidikan, sementara guru dan dosen mulai mengintegrasikan berbagai aplikasi digital ke dalam proses pembelajaran. 

Di Indonesia, percepatan transformasi tersebut semakin terasa sejak pandemi COVID-19 ketika hampir seluruh aktivitas belajar harus berpindah ke ruang digital.
 
Banyak pihak menganggap transformasi ini sebagai tanda kemajuan. Ruang kelas menjadi lebih fleksibel. Materi dapat diakses kapan saja. Video pembelajaran tersedia dalam jumlah hampir tak terbatas. Komunikasi antara guru dan siswa dapat dilakukan tanpa batas ruang dan waktu. Teknologi tampak berhasil menjawab berbagai keterbatasan yang selama puluhan tahun dihadapi dunia pendidikan.
 
Namun setelah berbagai sistem digital dibangun dan berbagai platform pendidikan diterapkan, muncul sebuah pertanyaan yang semakin sulit untuk diabaikan: apakah pendidikan benar-benar menjadi lebih manusiawi? Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Sebab di tengah melimpahnya teknologi pendidikan, banyak siswa masih mengalami tekanan belajar, kecemasan akademik, kehilangan motivasi, bahkan merasa sendirian dalam perjalanan pendidikannya. Di sisi lain, guru justru semakin dibebani berbagai administrasi digital, pelaporan elektronik, dashboard monitoring, dan tuntutan produktivitas yang terus meningkat.
 
Teknologi berhasil membuat pendidikan menjadi lebih cepat, tetapi belum tentu lebih dekat.
 
Fenomena menjadi kritik utama dan diangkat sebagai salah satu materi dalam kegiatan Capacity-Building Workshop on “AI and DX in TVET” for ASEAN TVET Educators and Policy Makers dengan tema Human Resource Development for an AI-Driven World pada April 2026 di Jeju, Korea Selatan. Transformasi digital dan perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah paradigma pendidikan dan pelatihan vokasi (TVET/Technical and Vocational Education and Training) di berbagai negara. Dunia pendidikan dituntut untuk mampu mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan memiliki kompetensi digital yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Workshop ini diselenggarakan oleh Cheju Halla University bersama SEAMEO TED sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas global di bidang AI dan transformasi digital pada sektor TVET.

Berbeda dengan sebagian besar narasi tentang AI yang berpusat pada otomatisasi, produktivitas, dan efisiensi, The Companion mengajukan pertanyaan yang jauh lebih manusiawi: bagaimana jika AI tidak dirancang untuk menggantikan manusia, tetapi untuk mendampingi manusia?
 
Pertanyaan tersebut membawa pada refleksi yang lebih luas tentang kondisi pendidikan saat ini. Selama ini digitalisasi pendidikan lebih banyak berfokus pada infrastruktur dan sistem, bukan pada relasi pembelajaran. Sekolah berhasil membangun platform digital, tetapi gagal menghadirkan kehadiran emosional dan pendampingan personal bagi siswa maupun guru.

Padahal hakikat pendidikan sesungguhnya bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan proses pendampingan manusia untuk tumbuh, memahami diri, membangun makna hidup, dan menghadapi masa depan. Salah satu hal yang ironis dalam dunia pendidikan modern adalah bahwa kita hidup pada masa dengan akses informasi paling luas dalam sejarah manusia, tetapi pada saat yang sama banyak peserta didik merasa semakin sendirian.
 
Hari ini seorang siswa dapat mengakses ribuan video pembelajaran hanya melalui telepon genggamnya. Mereka dapat mengikuti kursus dari universitas terbaik dunia, memperoleh materi dari berbagai sumber, dan bertanya kepada AI kapan saja. Jika pendidikan hanya dipahami sebagai akses terhadap informasi, seharusnya generasi saat ini menjadi generasi paling beruntung sepanjang sejarah.
 
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
 
Informasi ternyata bukanlah satu-satunya kebutuhan manusia dalam belajar. Belajar sesungguhnya bukan hanya aktivitas kognitif. Belajar juga merupakan proses emosional, sosial, bahkan eksistensial. Seseorang tidak hanya membutuhkan jawaban atas pertanyaan akademik, tetapi juga membutuhkan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar, mampu berkembang, dan mampu menghadapi masa depan.Sayangnya, banyak sistem pendidikan modern terlalu fokus pada distribusi pengetahuan dan kurang memperhatikan kualitas relasi pembelajaran. Digitalisasi berhasil membangun sistem. Akan tetapi, sistem tidak selalu mampu menghadirkan kehadiran.
 
Inilah yang kemudian melahirkan kondisi yang dapat disebut sebagai digital loneliness atau kesepian digital dalam pendidikan. Siswa terkoneksi dengan berbagai platform, tetapi tidak selalu merasadipahami. Mereka terhubung dengan jaringan informasi global, tetapi kehilangan ruang untuk berbicara tentang kecemasan, kebingungan, dan ketidakpastian yang mereka hadapi. 

Pada saat yang sama, guru juga menghadapi persoalan serupa. Mereka memiliki lebih banyak perangkat digital dibandingkan generasi sebelumnya, tetapi tidak selalu memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi peserta didik. Banyak guru justru merasa semakin jauh dari esensi profesinya karena terseret ke dalam berbagai pekerjaan administratif yang menyita energi. Teknologi telah membantu pendidikan menjadi lebih efisien. Namun efisiensi tidak selalu identik dengan kemanusiaan.
 
Minjun dan Jiyoung adalah kita

Salah satu bagian paling menarik dari konsep The Companion bukanlah teknologinya, melainkan cara gagasan tersebut berbicara tentang manusia. Alih-alih memulai dari penjelasan tentang AI, materi tersebut memperkenalkan dua tokoh sederhana: Minjun dan Jiyoung.
 
Minjun digambarkan sebagai siswa SMA kelas 12 di Korea Selatan yang sedang menghadapi CSAT (College Scholastic Ability Test), ujian nasional yang sangat menentukan masa depan akademik siswa Korea. Dalam budaya pendidikan Korea Selatan yang sangat kompetitif, ujian ini bukan sekadar tes biasa. CSAT menjadi simbol pertarungan sosial, tekanan keluarga, dan masa depan karier. Minjun memiliki cita-cita masuk bidang Artificial Intelligence dan Computer Science. 

Ia tertarik pada teknologi dan ingin menjadi bagian dari masa depan digital. Namun di balik impian tersebut, Minjun menghadapi persoalan yang sangat manusiawi, ia kesulitan memahami matematika dan fisika.
Minjun sebenarnya bukan siswa yang malas. Ia memiliki akses internet, perangkat digital, video pembelajaran, bahkan kemungkinan besar memiliki LMS sekolah yang lengkap. Secara teknologi, Minjun hidup di era pendidikan paling maju dalam sejarah manusia. Tetapi semua teknologi itu ternyata belum cukup membantu dirinya. 

Mengapa? Karena masalah Minjun bukan sekadar kurang materi belajar. Masalahnya adalah ia membutuhkan seseorang yang memahami dirinya secara personal. Ketika Minjun gagal memahami konsep matematika tertentu, sistem pendidikan konvensional sering kali hanya memberinya nilai rendah atau tugas tambahan. Padahal bisa jadi yang sebenarnya terjadi adalah ia memiliki pola miskonsepsi tertentu yang tidak pernah terdeteksi. 

Bisa juga ia mengalami kecemasan akademik yang membuat proses berpikirnya terganggu. Bahkan mungkin ia mulai kehilangan rasa percaya diri karena terus membandingkan dirinya dengan siswa lain.

Minjun menjadi simbol generasi muda modern yang hidup dalam tekanan besar. Mereka tumbuh di tengah budaya kompetisi, ekspektasi sosial, dan ledakan informasi digital. Mereka dapat mengakses ribuan video pembelajaran hanya dalam hitungan detik, tetapi tetap merasa bingung menentukan arah belajar dan  kesulitan memahami dirinya sendiri. 

Fenomena ini sangat relevan dengan kondisi generasi saat ini di banyak negara, termasuk Indonesia. Banyak siswa memiliki smartphone dan internet, tetapi tetap mengalami kesulitan belajar secara mendalam. Mereka terbiasa mengonsumsi informasi cepat, tetapi kehilangan pendampingan yang membantu memahami proses belajar secara bertahap. Mereka hidup di era konektivitas digital, tetapi kehilangan relasi pembelajaran yang personal.
 
Jika Minjun merepresentasikan kesepian siswa, maka Jiyoung merepresentasikan kelelahan guru modern. Jiyoung digambarkan sebagai guru wali kelas yang menangani 32 siswa sekaligus harus mengurus berbagai pekerjaan administratif dan akademik. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga membuat laporan perkembangan siswa, menyusun lesson plan, melakukan monitoring kelas, menangani konseling siswa, hingga memenuhi berbagai kebutuhan dokumentasi sekolah. 

Karakter Jiyoung sebenarnya sangat realistis. Di banyak negara, termasuk Indonesia, guru semakin dibebani pekerjaan administratif yang besar. Teknologi pendidikan yang seharusnya membantu justru kadang menambah kompleksitas pekerjaan. Guru harus mengisi berbagai platform, mengunggah laporan digital, membuat evaluasi elektronik, serta memonitor dashboard pembelajaran. Akibatnya, banyak guru kehilangan waktu untuk melakukan hal paling penting dalam pendidikan: mendampingi manusia.

Kita sering membicarakan kelelahan siswa. Tetapi jarang membicarakan kesepian guru. Padahal dalam banyak kasus, guru juga mengalami apa yang dapat disebut sebagai professional loneliness.Mereka dituntut menjadi mentor, fasilitator, inovator, administrator, sekaligus konselor, tetapi sering kali tidak memperoleh dukungan yang memadai. Melalui Minjun dan Jiyoung, dapat ditarik satu pesan penting bahwa yang sedang hilang dari pendidikan modern bukan teknologi. Yang sedang hilang adalah pendampingan.
 
The Gap DX Left: ruang kosong yang ditinggalkan transformasi digital
 
Selama bertahun-tahun dunia pendidikan berbicara tentang Digital Transformation (DX). Kita percaya bahwa digitalisasi akan menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan. Dalam banyak aspek, keyakinan tersebut memang terbukti benar. Digitalisasi memperluas akses. Digitalisasi meningkatkan efisiensi. Digitalisasi mempercepat distribusi pengetahuan. Namun transformasi digital juga meninggalkan sebuah ruang kosong yang sering tidak disadari The Gap DX Left.
 
Digitalisasi mampu menyimpan ribuan materi pembelajaran dalam satu platform. Akan tetapi, digitalisasi tidak mampu memahami mengapa seorang siswa terus gagal memahami konsep tertentu. Sistem dapat mencatat kehadiran siswa dengan sangat akurat. Namun sistem tidak mengetahui kapan motivasi belajar mulai menurun. Dashboard dapat menampilkan nilai secara real-time. Tetapi dashboard tidak mampu mengenali kecemasan, ketakutan, dan tekanan yang sedang dialami peserta didik. Dengan kata lain, transformasi digital berhasil mendigitalisasi tindakan, tetapi belum berhasil mendigitalisasi kepedulian. Kita membangun jalan raya pendidikan yang sangat modern, tetapi belum menyediakan pendamping yang membantu peserta didik mencapai tujuan mereka. 

Inilah kesenjangan yang selama ini luput dari perhatian. Selama bertahun-tahun, fokus utama pendidikan adalah bagaimana membuat sistem bekerja lebih cepat. Jarang ada yang bertanya bagaimana membuat pendidikan terasa lebih manusiawi.
 
Sebagai respons terhadap kesenjangan yang ditinggalkan transformasi digital (The Gap DX Left), The Companion menawarkan pendekatan yang berbeda. Jika selama ini teknologi pendidikan lebih banyak berfungsi sebagai penyedia informasi, sistem ini berupaya menjadi pendamping dalam proses belajar dan mengajar. Bagi siswa seperti Minjun, AI tidak sekadar menyajikan materi atau menjawab pertanyaan. 

Sejak awal hari, AI membantu menyusun prioritas belajar, mengelola tugas harian, menganalisis kesalahan untuk mengidentifikasi pola miskonsepsi, serta memberikan penjelasan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan ritme belajar individu. Lebih dari itu, AI juga membantu menjaga keseimbangan proses belajar dengan memantau beban belajar agar siswa tidak mengalami kelelahan (burnout). Dalam perspektif ini, pendidikan tidak lagi dipahami semata-mata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses pendampingan yang membantu manusia berkembang secara utuh.
 
Pada saat yang sama, The Companion juga hadir untuk mendukung guru, bukan menggantikannya. Melalui dashboard analitik, AI membantu guru seperti Jiyoung mengidentifikasi siswa yang membutuhkan perhatian khusus, menyusun rancangan pembelajaran (lesson plan), hingga menyiapkan laporan perkembangan dan konseling berdasarkan data yang telah terkumpul. 

Berbagai pekerjaan administratif dan teknis yang selama ini menyita waktu guru dapat diselesaikan lebih efisien oleh AI. Pendekatan ini dikenal sebagai role elevation, yaitu ketika AI mengambil sebagian besar tugas rutin dan administratif sehingga guru dapat kembali memfokuskan energi pada aspek-aspek yang paling manusiawi dalam pendidikan: membangun empati, memperkuat relasi sosial, membentuk karakter, serta mengambil keputusan pedagogis yang bijaksana. 

Dengan demikian, masa depan pendidikan bukanlah tentang menggantikan guru dengan mesin, melainkan membebaskan guru dari pekerjaan teknis agar mereka dapat kembali hadir sebagai pendamping yang memahami peserta didik. Sebab pada akhirnya, siswa mungkin dapat memperoleh informasi dari AI, tetapi mereka tetap membutuhkan manusia untuk menemukan makna, empati, inspirasi, dan arah dalam kehidupannya.“Not a lecture-making machine. An AI that stays next to a human.”Filosofi ini menandai pergeseran penting dalam dunia pendidikan, dari paradigma penyampaian informasi menuju paradigma pendampingan manusia.
 
Dari DX menuju AX: ketika AI masuk ke dalam relasi

Perubahan menarik mulai muncul ketika dunia memasuki era Artificial Intelligence Transformation (AX). AX membawa AI masuk ke dalam hubungan (bringing AI into relationships). Fokusnya bukan lagi pada digitalisasi aktivitas, melainkan pada bagaimana AI dapat memahami, mendukung, dan mendampingi manusia secara lebih personal. Dalam pendekatan ini, materi pembelajaran dapat dihasilkan oleh AI dan kemudian dikurasi oleh manusia agar tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran. Konten multibahasa tidak lagi perlu diproduksi ulang karena dapat diterjemahkan secara otomatis. 

Pada aspek manajemen pembelajaran, AI mampu memprediksi risiko putus sekolah (dropout prediction), mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa, serta membantu merancang jalur pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik individu. Sementara itu, pengukuran tidak lagi hanya dilakukan pada akhir semester, tetapi melalui dashboard analitik secara real-time yang memungkinkan guru memahami perkembangan siswa secara berkelanjutan.

Perubahan ini menunjukkan bahwa AX bukan sekadar tahap lanjutan dari digitalisasi. AX merepresentasikan perubahan paradigma dari sistem yang berfokus pada proses menuju sistem yang berfokus pada manusia. Jika DX membantu institusi pendidikan bekerja lebih cepat dan efisien, maka AX berupaya menjadikan pendidikan lebih adaptif, personal, dan manusiawi. 

The Companion hadir, sehingga AI tidak lagi diposisikan sebagai alat untuk mengotomatisasi pekerjaan, tetapi sebagai pendamping yang membantu siswa belajar, membantu guru memahami peserta didik, serta membangun hubungan yang lebih bermakna antara manusia dan teknologi. Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.
 
Companion Ecosystem dan masa depan pendidikan
 
Perkembangan AI beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kita sedang memasuki fase baru, konvergensi teknologi. Teknologi pertama adalah Large Language Models (LLM). Jika pada tahun 2022 model seperti GPT-3 hanya mampu menghasilkan paragraf sederhana, maka pada tahun 2025 model generasi terbaru sudah mampu menyusun rancangan perkuliahan lengkap, mulai dari tujuan pembelajaran, materi, contoh kasus, hingga rubrik penilaian. AI tidak lagi sekadar menjadi chatbot, melainkan mulai berfungsi sebagai mitra berpikir dan mitra mengajar.

Teknologi kedua adalah AI Voice. Kemajuan pada bidang ini memungkinkan materi yang sama disampaikan dalam berbagai bahasa dengan kualitas suara yang semakin mendekati manusia. Satu materi yang dibuat dalam bahasa Korea, misalnya, dapat secara otomatis diubah ke dalam bahasa Indonesia, Vietnam, Thailand, Khmer, dan berbagai bahasa lainnya tanpa perlu proses rekaman ulang. Hal ini membuka peluang besar untuk pemerataan akses pendidikan lintas negara dan lintas budaya.

Teknologi ketiga adalah AI Video. Jika sebelumnya produksi video pembelajaran memerlukan studio, kamera, pencahayaan, dan proses editing yang panjang, kini AI mampu menghasilkan video pembelajaran lengkap menggunakan avatar digital dan teknologi lipsync otomatis. Materi yang dibuat oleh seorang dosen dapat dengan cepat dikonversi menjadi video pembelajaran berdurasi panjang tanpa memerlukan proses produksi konvensional.

Teknologi keempat adalah diffusion model yang memungkinkan pembuatan ilustrasi, gambar, dan visualisasi pembelajaran secara otomatis. Teknologi ini mempercepat produksi materi visual yang sebelumnya memerlukan tenaga desainer profesional. Teknologi yang paling penting adalah teknologi kelima, yaitu AI Agent atau Orchestrator. 

Dalam sistem ini, AI tidak lagi bekerja sebagai satu model tunggal, tetapi sebagai ekosistem yang mengoordinasikan berbagai kemampuan AI sekaligus. AI Agent bertindak seperti konduktor orkestra yang mengatur berbagai komponen seperti LLM, text-to-speech, retrieval system, diffusion model, dan mekanisme adaptif lainnya agar bekerja bersama secara harmonis. 

Konsep ini diprediksi menjadi arah utama perkembangan AI global. AI-Driven World ditandai dengan hadirnya companion ecosystem berbasis AI yang mampu terus belajar memahami manusia dan memberikan dukungan yang semakin personal dalam berbagai aspek kehidupan.
 
Di era digital, masalah utama bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi. Minjun yang kesulitan dalam pata pelajaran matematika ingin mempelajari probabilitas dapat menemukan ribuan video, ratusan artikel, dan puluhan modul pembelajaran hanya dalam beberapa detik. Namun banyaknya pilihan tersebut justru sering membuat siswa kebingungan. 

Mereka tidak tahu materi mana yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, mana yang terlalu sulit, atau mana yang benar-benar relevan dengan kebutuhan belajar saat itu.

Di sinilah AI Curator bekerja. AI tidak sekadar mencari informasi, tetapi melakukan kurasi. Setelah menganalisis kesalahan-kesalahan yang dilakukan Minjun pada tahap sebelumnya, AI mengetahui bahwa kelemahan utama Minjun terletak pada konsep conditional probability. Berdasarkan informasi tersebut, AI tidak langsung memberikan materi lanjutan yang lebih kompleks. Sebaliknya, AI memilihkan sumber belajar yang sesuai dengan tingkat pemahaman Minjun saat itu. 

Jika Minjun lebih mudah belajar melalui video, AI akan memilihkan video. Jika ia lebih memahami melalui simulasi atau latihan soal, AI akan menyediakan bentuk pembelajaran tersebut. Dengan kata lain, AI Curator bertindak seperti seorang pustakawan, mentor akademik, dan konsultan pembelajaran yang memahami kebutuhan unik setiap siswa.
 
Guru tidak digantikan, tetapi ditinggikan
 
Salah satu ketakutan terbesar dalam perkembangan AI adalah hilangnya peran guru. Kekhawatiran tersebut muncul karena kita masih memandang AI sebagai pengganti manusia. Konsep AI Companion menawarkan perspektif berbeda. AI tidak menggantikan guru, namun membantu mengembalikan guru pada esensi profesinya. 

Jika AI mampu mengambil sebagian pekerjaan administratif yang selama ini menyita energi guru, maka guru dapat kembali fokus pada aktivitas yang benar-benar membutuhkan sentuhan manusia: empati, pembentukan karakter, pengambilan keputusan pedagogis, dan pendampingan emosional. Inilah yang disebut sebagai role elevation. Peran guru bukan dihapus, tetapi ditinggikan. Sehingga pertanyaan masa depan bukan lagi apakah AI akan menggantikan guru, namun yang lebih penting adalah bagaimana AI dapat membantu guru kembali menjadi guru.
 
Tantangan etika dan risiko dehumanisasi

Meskipun AI Companion menawarkan banyak peluang, ada pula tantangan besar yang tidak boleh diabaikan. Semakin AI memahami manusia, semakin besar pula risiko terkait privasi dan keamanan data. Sistem AI Companion kemungkinan membutuhkan akses terhadap data perilaku belajar, pola interaksi, kondisi psikologis, bahkan kebiasaan personal pengguna.
Pertanyaannya, siapa yang mengontrol data tersebut?

Selain itu, AI juga tidak sepenuhnya netral. Algoritma dapat mengandung bias berdasarkan data pelatihan yang digunakan. Jika tidak diawasi dengan baik, AI dapat menghasilkan rekomendasi yang tidak adil atau memperkuat ketimpangan sosial tertentu. Ada pula risiko ketergantungan emosional terhadap AI. Ketika AI menjadi companion yang selalu tersedia, sebagian manusia mungkin mulai menggantikan interaksi sosial nyata dengan relasi digital. Karena itu, pendidikan tidak boleh menyerahkan seluruh proses pendampingan kepada mesin. AI harus tetap diposisikan sebagai alat pendukung manusia, bukan pengganti relasi manusia. 

Konsep human-centered AI menjadi sangat penting dalam konteks ini. AI harus dirancang untuk memperkuat kapasitas manusia, menjaga martabat manusia, dan memperluas kesempatan belajar manusia.

Computational Thinking dan kemampuan menjadi manusia

Dalam konteks Indonesia, konsep AI Companion memiliki tantangan sekaligus peluang yang besar. Indonesia masih menghadapi ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah. Banyak sekolah di daerah 3T menghadapi keterbatasan guru, internet, dan fasilitas pembelajaran. Dalam kondisi tersebut, AI sebenarnya berpotensi membantu pemerataan akses pendampingan belajar. AI dapat menjadi tutor adaptif bagi siswa di daerah yang kekurangan tenaga pengajar. AI juga dapat membantu guru mengurangi beban administratif sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi siswa. 

Namun implementasi AI di Indonesia tidak dapat dilakukan secara instan. Kesiapan infrastruktur, literasi digital, regulasi AI governance, pelatihan guru, hingga keamanan data menjadi faktor yang sangat menentukan. Selain itu, pendidikan Indonesia juga perlu mempersiapkan kemampuan baru bagi generasi muda agar mampu hidup berdampingan dengan AI secara kritis dan produktif.

Semakin canggih AI, semakin penting kemampuan manusia untuk berpikir kritis. Di sinilah Computational Thinking menjadi relevansebagai kompetenssi yang semakin pening. Banyak orang masih menganggap Computational Thinking hanya berkaitan dengan pemrograman. Padahal esensinya jauh lebih luas. Manusia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu memahami, mengevaluasi, dan mengendalikan bagaimana teknologi tersebut bekerja. 

CT bukan sekadar kemampuan melakukan dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan penyusunan algoritma, melainkan sebuah cara berpikir sistematis untuk memahami masalah, menganalisis informasi, serta mengambil keputusan secara logis dan bertanggung jawab.

Dalam konteks AI, Computational Thinking membantu seseorang memahami bahwa hasil yang diberikan AI bukanlah kebenaran mutlak, melainkan rekomendasi yang perlu dianalisis dan diverifikasi. CT juga mendorong kemampuan untuk berpikir kritis terhadap data, memahami cara kerja sistem cerdas, serta mempertimbangkan dampak dan konsekuensi dari keputusan yang dihasilkan teknologi. Dengan demikian, manusia tidak hanya menjadi pengguna pasif AI, tetapi mampu berkolaborasi secara cerdas dengan AI sebagai mitra belajar, bekerja, dan menyelesaikan masalah.

Computational Thinking berperan sebagai fondasi literasi AI karena membantu individu memahami kapan harus memanfaatkan AI, kapan harus mempertanyakan hasilnya, dan kapan keputusan akhir harus tetap berada di tangan manusia. Oleh karena itu, di era AI Companion, CT tidak lagi dipandang sebagai keterampilan teknis untuk pemrograman semata, tetapi sebagai kemampuan berpikir strategis yang memungkinkan manusia memanfaatkan AI secara kritis, etis, dan bermakna dalam kehidupan serta pembelajaran sepanjang hayat.Kemampuan ini bukan hanya penting untuk coding, tetapi juga untuk membangun relasi sehat antara manusia dan AI.

Memuliakan martabat manusia di era AI-Driven World
 
Pada akhirnya, seluruh diskusi tentang AI, digitalisasi, dan masa depan pendidikan membawa kita pada satu pertanyaan mendasar, untuk siapa teknologi dikembangkan? Jika teknologi hanya membuat manusia bekerja lebih cepat, maka kita baru memperoleh sebagian kecil manfaatnya. Nilai terbesar teknologi seharusnya terletak pada kemampuannya membantu manusia menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Dalam konteks pendidikan, tujuan akhir bukanlah menciptakan sistem yang semakin otomatis. Tujuan akhirnya adalah membantu manusia bertumbuh.
 
Siswa tidak hanya membutuhkan pengetahuan. Mereka membutuhkan seseorang yang membantu memahami ketakutan, potensi, dan masa depan mereka. Guru tidak hanya membutuhkan teknologi produktivitas. Mereka membutuhkan dukungan yang memungkinkan mereka kembali fokus pada sisi kemanusiaan pendidikan. Karena itu, masa depan pendidikan tidak akan ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih, platform paling modern, atau infrastruktur digital paling mahal. Masa depan pendidikan akan ditentukan oleh siapa yang mampu menghadirkan pengalaman belajar yang paling manusiawi.

Kehadiran AI tidak untuk menggantikan manusia, melainkan untuk memperkuat kapasitas dan memuliakan martabat manusia melalui berbagai peluang baru dalam belajar, bekerja, dan berkarya. Dengan mengurangi beban pekerjaan yang bersifat rutin, AI memungkinkan manusia lebih fokus pada aktivitas yang membutuhkan kreativitas, empati, dan kebijaksanaan.
 
Jika abad ke-20 dikenang sebagai era industrialisasi dan awal abad ke-21 sebagai era digitalisasi, maka dekade mendatang mungkin akan dikenang sebagai masa ketika manusia kembali mencari makna di tengah kecerdasan mesin. Pada titik itulah pendidikan harus menentukan arah. Apakah AI hanya akan membuat kita lebih efisien? Ataukah AI akan membantu kita menjadi lebih manusiawi?
 
Jawaban atas pertanyaan tersebut berpotensi menentukan wajah pendidikan di masa depan. Dalam sejarah perkembangan teknologi, ukuran keberhasilan bukan lagi seberapa cerdas mesin yang kita bangun, melainkan seberapa besar teknologi membantu manusia memahami manusia lainnya.
 
Sebab pada akhirnya, pendidikan selalu tentang manusia.

*Dosen Pendidikan Teknik Informatika FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
Bebras Biro UMS
Mata Garuda PK-134