Logo Header Antaranews Jateng

Digital Twin: Solusi Masa Depan atauIlusi Teknologi?

Rabu, 6 Mei 2026 16:07 WIB
Image Print
Aris Rakhmadi, Dosen UMS. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Di Korea Selatan, arah baru dalam pendidikan mulai tampak jelas. Dalam sebuah forum internasional yang mempertemukan para pendidik Asia Tenggara untuk membahas kecerdasan buatan dan transformasi digital, muncul gagasan yang mengubah cara pandang terhadap proses belajar: Digital Twin.

Konsep yang sebelumnya terdengar jauh dan futuristik kini dibicarakan sebagai bagian dari praktik pendidikan yang nyata. Diskusi di forum tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi dipahami sebagai aktivitas yang berlangsung secara tetap dan berulang. Ia mulai dilihat sebagai sistem yang hidup, yang dapat dipetakan, dianalisis, dan disimulasikan untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih efektif.

Perubahan ini menandai pergeseran besar dari sekadar memindahkan materi ke ranah digital menjadi upaya membangun ekosistem belajar yang benar-benar adaptif dan cerdas.

Konsep Digital Twin hadir sebagai bagian dari arus besar transformasi pendidikan berbasis kecerdasan buatan. Ia memungkinkan terciptanya representasi digital dari proses belajar, mulai dari perilaku peserta didik hingga efektivitas metode pengajaran. Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di ruang virtual yang mampu memprediksi, menguji, dan mengoptimalkan berbagai skenario pendidikan.

Ini menandai pergeseran mendasar: dari pendidikan yang reaktif menjadi pendidikan yang prediktif.
Apa yang tampak dalam forum tersebut menunjukkan satu hal yang sulit diabaikan, perubahan telah terjadi pada skala global. Negara-negara mulai memandang pendidikan sebagai sistem yang dapat direkayasa secara cerdas melalui data dan teknologi. Bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi membangun ekosistem belajar yang adaptif dan terukur. Dalam lanskap seperti ini, pertanyaannya bukan apakah perubahan akan datang, melainkan seberapa cepat dunia pendidikan mampu mengejar dan memaknainya.

Istilah Digital Twin sering terdengar rumit, seolah hanya milik dunia industri atau teknologi tinggi. Padahal, secara sederhana, Digital Twin adalah “kembaran digital” dari sesuatu di dunia nyata yang terus diperbarui dengan data. Dalam konteks pendidikan, ini bisa berarti representasi digital dari proses belajar yang mencerminkan bagaimana peserta didik memahami materi, berinteraksi, dan berkembang.

Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak lagi bersifat umum untuk semua, tetapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Penerapannya mulai terlihat dalam berbagai bentuk: profil digital siswa yang merekam gaya belajar dan perkembangan akademik, simulasi pembelajaran untuk menguji metode pengajaran sebelum diterapkan, hingga laboratorium virtual yang memungkinkan eksperimen tanpa batasan ruang dan tanpa risiko.

Semua ini mengarah pada satu perubahan mendasar, pendidikan bergerak dari pola seragam menuju pendekatan yang lebih adaptif dan personal. Di sinilah letak kekuatan sebenarnya: teknologi bukan sekadar alat canggih, melainkan sarana untuk memahami manusia sebagai pembelajar yang unik.

Di balik potensi besar yang ditawarkan, Digital Twin tidak lepas dari risiko yang perlu dicermati secara kritis. Kesenjangan digital masih menjadi persoalan nyata, tidak semua institusi pendidikan memiliki infrastruktur, akses data, atau kesiapan teknologi yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, adopsi teknologi canggih justru berpotensi memperlebar jurang antara pihak yang siap dan pihak yang tertinggal.

Selain itu, ketergantungan yang tinggi pada data menimbulkan persoalan lain: sejauh mana data tersebut akurat, representatif, dan digunakan secara bertanggung jawab? Teknologi tidak selalu netral; ia membawa nilai, bias, dan kepentingan yang menyertainya.

Lebih jauh, isu privasi dan etika menjadi tantangan serius ketika proses belajar direkam, dianalisis, dan diprediksi secara digital. Profil digital siswa yang terlalu detail berisiko disalahgunakan atau mengurangi ruang kebebasan individu dalam belajar. Ada pula kekhawatiran bahwa pendidikan akan kehilangan sentuhan manusiawinya, ketika interaksi digantikan oleh algoritma dan relasi pedagogis direduksi menjadi data.

Dalam konteks ini, Digital Twin dapat menjadi solusi yang memperkuat kualitas pendidikan, tetapi juga bisa berubah menjadi ilusi teknologi yang justru menjauhkan pendidikan dari hakikatnya sebagai proses memanusiakan manusia.
Di tengah derasnya arus inovasi, Digital Twin perlu ditempatkan dalam kerangka nilai yang jelas. Teknologi tidak boleh berjalan tanpa arah, apalagi menggantikan makna dasar pendidikan itu sendiri. Peran guru tetap menjadi pusat, bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing yang menanamkan makna, etika, dan kebijaksanaan dalam proses belajar. Dalam posisi ini, teknologi seharusnya hadir sebagai alat pemberdayaan yang memperkuat relasi manusia, bukan menggantikannya.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar mengikuti trenglobal, tetapi menempatkan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan karakter pendidikan nasional. Transformasi tidak boleh berhenti pada adopsi, melainkan harus disertai refleksi kritis dan keberanian untuk menentukan arah. Teknologi boleh canggih, tetapi pendidikan tetap tentang manusia.

*Dosen UMS S3 DIFA-UAD



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026