
Ketika guru tidak bisa lagi mengajar dengan cara lama

Solo (ANTARA) - Perubahan dunia pendidikan hari ini tidak hanya terjadi pada teknologi pembelajaran, tetapi juga pada cara manusiamemandang pengetahuan, relasi sosial, dan otoritas guru.
Jika dahulu guru menjadi satu-satunya pusat informasi di ruangkelas, kini posisi itu telah berubah secara drastis. Peserta didikdapat memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber digital hanya melalui layar telepon genggam. Kecerdasan buatanbahkan mampu menjelaskan materi pelajaran dalam hitungandetik dengan berbagai variasi pendekatan.
Dalam situasi seperti ini, sebenarnya yang sedang diuji bukansekadar kemampuan guru menggunakan teknologi, melainkanetika profesional guru dalam menghadapi perubahan zaman.
Masalah terbesar pendidikan saat ini bukan hanya guru yang belum menguasai perangkat digital, tetapi masih adanya polapikir lama dalam mengelola pembelajaran.
Sebagian guru masihmemandang dirinya sebagai pusat utama pengetahuan yang harus selalu didengar tanpa ruang dialog. Akibatnya, pembelajaran sering berjalan satu arah, kaku, dan kurangmemberi ruang tumbuh bagi peserta didik.
Padahal generasi hari ini tumbuh dalam budaya komunikasiyang berbeda. Mereka terbiasa bertanya, membandingkan informasi, berdiskusi, bahkan mengkritisi sesuatu secara terbuka. Ketika ruang kelas tetap dipertahankan dengan pola lama yang terlalu menekankan kepatuhan tanpa partisipasi, maka sekolah perlahan kehilangan relevansinya.
Di sinilah pentingnya etika guru dalam pendidikan modern.
Etika mengajar hari ini tidak cukup hanya dimaknai sebagai sopan santun atau kedisiplinan kerja. Etika guru harus dipahami sebagai kesadaran moral untuk terus belajar, menghargai perubahan, dan menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Guru yang beretika bukan guru yang merasa paling benar, melainkan guru yang memiliki kerendahan hati intelektual untuk terus bertumbuh bersama perkembangan zaman.
Dunia pendidikan abad ke-21 membutuhkan guru yang adaptif. Namun adaptif tidak berarti meninggalkan nilai-nilai dasar pendidikan. Justru di tengah arus digital yang sangat cepat, guru perlu menjadi penjaga nilai kemanusiaan di ruang kelas. Teknologi boleh berkembang, tetapi penghargaan terhadap karakter, empati, kejujuran, dan tanggung jawab tetap harus menjadi fondasi pendidikan.
Karena itu, perubahan metode mengajar seharusnya bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan bagian dari tanggung jawab etik seorang pendidik. Ketika guru tetap menggunakan cara lama yang membuat siswa pasif, takut bertanya, atau kehilangan semangat belajar, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas pembelajaran, tetapi juga masa depan peserta didik.
Dalam perspektif manajemen pendidikan, perubahan pola mengajar guru berkaitan erat dengan budaya organisasi sekolah. Sekolah yang sehat bukan sekolah yang sekadar mengejar nilai akademik tinggi, melainkan sekolah yang memiliki budaya belajar. Budaya belajar hanya akan tumbuh ketika guru juga menjadi pembelajar.
Sayangnya, di banyak sekolah masih ditemukan budaya kerja yang administratif.
Guru sering disibukkan oleh laporan, dokumen, dan target formal, sementara proses refleksi pedagogis kurang mendapatkan ruang. Akibatnya, inovasi pembelajaran berjalan lambat. Banyak guru akhirnya mengajar sekadar menyelesaikan kurikulum, bukan membangun pengalaman belajar yang bermakna.
Kondisi ini semakin terasa ketika peserta didik menunjukkan perubahan perilaku belajar. Anak-anak sekarang lebih mudah kehilangan fokus terhadap pembelajaran monoton. Mereka lebih tertarik pada pembelajaran yang interaktif, visual, kolaboratif, dan dekat dengan kehidupan nyata.
Jika guru tidak melakukan penyesuaian, maka jarak psikologis antara guru dan siswa akan semakin lebar.
Persoalan ini sebenarnya bukan tentang generasi muda yang sulit diatur, melainkan dunia pendidikan yang belum sepenuhnya memahami perubahan karakter belajar mereka.
Guru tidak dapat lagi mengandalkan otoritas formal semata. Pengaruh guru hari ini lebih banyak dibangun melalui keteladanan, komunikasi, dan kemampuan menciptakan pembelajaran yang relevan. Peserta didik akan menghormati guru bukan hanya karena jabatan sosialnya, tetapi karenaintegritas dan kemampuannya membimbing proses belajarsecara manusiawi.
Di tengah perubahan digital, etika guru juga diuji dalampenggunaan teknologi. Tidak sedikit guru yang mulaimenggunakan kecerdasan buatan untuk membantu menyusunmateri pembelajaran. Hal ini sebenarnya bukan masalah selama teknologi digunakan secara bijak dan tetap menempatkan guru sebagai pengarah nilai.
Yang berbahaya adalah ketika teknologi membuat guru berhenti berpikir kritis dan kehilangan sentuhan personal dalam pendidikan. Pendidikan tidak boleh berubah menjadi proses mekanis tanpa hubungan emosional. Sebab pada akhirnya, siswa belajar bukan hanya dari apa yang dijelaskan guru, tetapi dari bagaimana guru memperlakukan mereka.
Karena itu, sekolah perlu membangun manajemen pendidikan yang mendukung transformasi budaya mengajar. Kepala sekolah tidak cukup hanya menjadi administrator, tetapi juga pemimpin pembelajaran yang mendorong guru terus berkembang.
Pelatihan guru seharusnya tidak hanya berisi penguasaan aplikasi digital, tetapi juga penguatan etika profesi, komunikasi pembelajaran, dan kemampuan memahami psikologi generasi digital.
Pendidikan masa depan membutuhkan guru yang mampu memadukan teknologi dengan nilai kemanusiaan. Guru bukan sekadar operator kurikulum, melainkan pemimpin moral di ruang kelas. Mereka dituntut mampu menghadirkan pembelajaran yang adaptif tanpa kehilangan arah etik pendidikan.
Ketika guru tidak lagi bisa mengajar dengan cara lama, sesungguhnya yang sedang berubah bukan hanya metode pembelajaran, tetapi paradigma pendidikan itu sendiri. Sekolah tidak lagi cukup menjadi tempat transfer pengetahuan, melainkan ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kesadaran sosial.
Dan dalam perubahan besar itu, etika guru menjadi penentu apakah pendidikan akan tetap menjadi proses memanusiakan manusia, atau justru berubah menjadi rutinitas teknis yang kehilangan makna.
*Dosen MAP dan Pendidikan Akuntansi FKIP UMS
Oleh Harsono*/Aris Wasita
COPYRIGHT © ANTARA 2026
