
Kokam yang tak hanya pelengkap namun bukti nyata kekuatan Muhammadiyah

Solo (ANTARA) - Salah satu bagian paling menarik dari pidato pembukaan Tanwir II Pemuda Muhammadiyah adalah ketika peran Kokam disebut bukan sekadar sebagai pelengkap organisasi, tetapi sebagai bukti nyata kekuatan basis sosial kader Muhammadiyah.
Penyebutan Kokam dalam pidato itu terasa kuat karena tidak disampaikan secara seremonial. Ia hadir sebagai simbol kedisiplinan, militansi, dan kemampuan gerakan dalam mengorganisir kekuatan rakyat.
Ketika disebut bagaimana Apel Kokam di Solo hanya dipersiapkan dalam tujuh hari, Bandung empat hari, hingga puluhan ribu pasukan berdiri di Sleman di bawah terik matahari, publik langsung menangkap satu pesan penting bahwa Kokam bukan sekadar barisan atribut, melainkan juga barisan pengabdian terhadap persyarikatan dan bangsa.
Pidato tersebut berhasil memperlihatkan bahwa kekuatan Kokam lahir dari akar sosial yang hidup. Dari kader-kader yang dekat dengan masyarakat, terbiasa bergerak di lapangan, dan tumbuh dalam kultur loyalitas terhadap umat serta bangsa.
Di titik itu, Kokam diposisikan bukan hanya sebagai pasukan pengamanan kegiatan, tetapi sebagai representasi kesiapsiagaan sosial Muhammadiyah.
Dan memang, dalam banyak momentum kebangsaan maupun kemanusiaan, Kokam selalu hadir di garis depan, saat bencana datang, saat masyarakat membutuhkan bantuan, bahkan saat ruang-ruang sosial membutuhkan ketertiban dan pengabdian.
Yang menarik, pidato ini tidak memuji Kokam dengan bahasa berlebihan. Justru kekuatannya ada pada penggambaran yang sederhana namun nyata. Bahwa kekuatan organisasi tidak lahir dari slogan, tetapi dari kader yang siap bergerak kapan saja.
Penyebutan Kokam juga memberi pesan penting kepada generasi muda Muhammadiyah hari ini, bahwa aktivisme bukan hanya soal wacana dan media sosial. Aktivisme sejati adalah kesiapan turun ke lapangan, bekerja dalam sunyi, dan tetap setia dalam pengabdian dan menjaga soliditas.
Karena itu, bagian tentang Kokam dalam pidato tersebut menjadi salah satu titik emosional yang paling kuat. Ia membangkitkan kebanggaan kader, sekaligus memperlihatkan kepada publik bahwa Muhammadiyah memiliki tradisi kaderisasi yang melahirkan disiplin, loyalitas, dan ketahanan gerakan.
Dan mungkin di situlah makna terdalam Kokam, bukan sekadar pasukan yang pandai berbaris, tetapi kader-kader yang selalu siap hadir ketika umat, masyarakat, dan bangsa memanggil.
*Komandan KOKAM Jawa Tengah
Oleh Manshur Nurdin*/Aris Wasita
COPYRIGHT © ANTARA 2026
