Kudus (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berupaya melestarikan kerajinan caping kalo melalui Festival Tari Lajur Caping Kalo 2026 tingkat kabupaten yang digelar di Alun-alun Kudus, Minggu.
"Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi kerajinan caping kalo sekaligus memperkenalkan tari khas daerah kepada generasi muda," kata Pelaksana Harian Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Teguh Riyanto di Alun-alun Kudus, Jawa Tengah, Minggu.
Ia mengatakan festival tersebut menjadi wadah apresiasi, edukasi, serta pengembangan kreativitas seni tari tradisional bagi pelajar maupun masyarakat umum.
"Festival ini bertujuan melestarikan dan memperkenalkan Tari Lajur Caping Kalo, khususnya caping kalo sebagai warisan budaya tak benda Kabupaten Kudus kepada generasi muda dan masyarakat luas," ujarnya.
Festival tari tersebut terselenggara atas kerja sama Pemerintah Kabupaten Kudus dengan Yayasan Karya Bakti Nojorono. Sedangkan perlombaan dibagi dalam tiga kategori, yakni SMP/sederajat, SMA/sederajat, dan umum.
Tercatat sebanyak 92 tim mengikuti tahap seleksi yang berlangsung sejak 23 Februari hingga 11 Mei 2026. Rinciannya, 24 tim kategori SMP, 19 tim kategori SMA, dan 49 tim kategori umum.
Dari proses seleksi melalui pengiriman video penampilan tari, dipilih masing-masing empat tim terbaik untuk tampil pada babak final.
Sebanyak 12 finalis kemudian tampil langsung di hadapan dewan juri dan masyarakat. Untuk kategori SMP diikuti SMPN 2 Gebog, SMPN 1 Jati, SMPN 2 Kudus, dan SMPN 2 Kaliwungu. Kategori SMA diikuti SMAN 1 Kudus, SMAN 1 Mejobo, SMAN 2 Bae, serta SMKN 1 Kudus.
Sedangkan kategori umum diikuti PKK Kecamatan Kota, Dinas PKPLH, UKM Seni Kampus UMK, dan Itekes Cendekia Utama.
Bupati Kudus Sam'ani Intakoris menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelestarian budaya caping kalo melalui festival tersebut.
Ia berharap caping kalo semakin dikenal masyarakat dan mampu menjadi identitas budaya Kudus yang membanggakan. Bahkan, pada peringatan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus nanti, pihaknya menargetkan caping kalo bisa masuk dalam pemecahan Rekor MURI.
"Caping kalo ini diharapkan nanti menjadi rekor MURI. Masyarakat walaupun tidak ikut menari, paling tidak memakai caping kalo sebagai bentuk nguri-uri budaya Kudus," ujarnya.
Menurut Sam'ani caping kalo merupakan hasil kreativitas masyarakat yang dibuat dari bambu dan tali aren dengan tingkat ketelitian tinggi. Karena itu, dia mengajak masyarakat terus mendukung produk budaya lokal agar tetap lestari sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Ia juga mengajak masyarakat menjaga integritas dan semangat toleransi di Kabupaten Kudus.
"Mari kita jujur, hindari korupsi, dan bersama-sama menjaga Kudus sebagai kota yang toleran dan harmonis," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Sam'ani juga mendorong penggunaan caping kalo dalam berbagai kegiatan masyarakat sebagai simbol kecintaan terhadap budaya daerah.