Purwokerto (ANTARA) - Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Adi Budiarso menekankan pentingnya sinergi pentahelix dalam mendorong penguatan sektor jasa keuangan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Banyumas Raya yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.
"Kita semua adalah satu tim untuk membangun mimpi Banyumas naik kelas. OJK dan sektor jasa keuangan siap mendukung penguatan kontribusi sektor jasa keuangan terhadap pembangunan ekonomi daerah," kata Adi Budiarso saat memberikan sambutan dalam acara Pengukuhan Kepala Kantor OJK Purwokerto di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.
Ia mengatakan penguatan sektor jasa keuangan di daerah membutuhkan kolaborasi lima unsur atau pentahelix, yakni pemerintah daerah, regulator dan otoritas sektor keuangan, akademisi, pelaku industri jasa keuangan, serta masyarakat sebagai konsumen.
Menurut dia, kantor OJK di daerah memiliki posisi strategis bukan sekadar sebagai perpanjangan tangan kebijakan pusat, juga menjadi penghubung antara kebijakan sektor jasa keuangan dengan karakteristik ekonomi lokal.
"OJK kantor daerah harus menjadi orkestrator sinergi yang mencakup pemerintah daerah, industri jasa keuangan, pelaku usaha, UMKM, akademisi, dan komunitas masyarakat luas," kata dia yang juga Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK.
Adi mengatakan tugas OJK saat ini semakin kompleks setelah terbitnya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), karena lembaga tersebut tidak hanya menjaga stabilitas sistem keuangan, juga mengawal pengembangan industri jasa keuangan.
Menurut dia, berbagai instrumen baru yang kini berada dalam pengawasan OJK, mulai dari perdagangan karbon, aset kripto, transaksi derivatif, bullion banking, hingga berbagai inovasi keuangan digital.
Dalam kesempatan tersebut, ia menilai wilayah kerja OJK Purwokerto yang meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara memiliki potensi ekonomi besar dengan karakteristik yang beragam, mulai dari sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hingga ekspor produk manufaktur.
"Purwokerto dan sekitarnya memiliki kombinasi pertanian, industri, pelabuhan, manufaktur, padat karya, dan pariwisata yang perlu terus didukung oleh sektor jasa keuangan yang kuat," katanya.
Ia menegaskan sektor jasa keuangan harus hadir sebagai katalis untuk mengubah potensi ekonomi daerah menjadi pertumbuhan yang nyata melalui pembiayaan yang inklusif dan berdaya saing.
Menurut dia, OJK juga terus mendorong digitalisasi pembiayaan melalui pemanfaatan innovative credit scoring atau penilaian kredit berbasis data alternatif guna memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Banyak UMKM di daerah sebenarnya memiliki usaha yang bagus, pasar jelas, produk kompetitif, tetapi belum memiliki pencatatan keuangan atau dokumen usaha yang memadai. Di sinilah digitalisasi dan inovasi pembiayaan harus hadir," katanya.
Selain penguatan inovasi keuangan digital, ia juga menekankan pentingnya literasi keuangan berbasis budaya lokal Banyumas agar transformasi digital dapat diterima masyarakat secara lebih dekat dan mudah dipahami.
Pada kesempatan itu, Adi juga menyampaikan selamat kepada Dinavia Tri Riandari yang resmi menerima amanah sebagai Kepala Kantor OJK Purwokerto, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada Haramain Billady atas pengabdian selama memimpin kantor tersebut.
Dalam hal ini, Dinavia Tri Riandari sebelumnya menjabat Kepala Divisi Pengawas Berlaku Usaha Jasa Keuangan Edukasi Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis Kantor OJK Daerah Istimewa Yogyakarta, sementara Haramain Billady mengemban amanah baru sebagai Kepala Kantor OJK Maluku.
"Kehadiran OJK di daerah harus semakin bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya pelaku ekonomi di daerah, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan," katanya.