Purwokerto (ANTARA) - Dosen Fakultas Kedokteran dr Raditya Bagas Wicaksono mengusung konsep perawatan paliatif rumah berbasis kearifan lokal saat menempuh dan menyelesaikan studi doktoralnya di Amsterdam, Belanda.
Perawatan paliatif merupakan pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi penyakit berat dengan meringankan beban fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, sebagaimana dirujuk dari World Health Organization (WHO).
Dokter Bagas menawarkan perspektif baru berupa layanan paliatif berbasis rumah atau keluarga melalui pendekatan etnografi yang menempatkan keluarga sebagai aktor utama dalam pengambilan keputusan medis.
“Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan musyawarah keluarga, pendekatan ini adalah perspektif baru dalam layanan kesehatan yang tidak bisa dilepaskan dari nilai sosial dan kearifan lokal,” katanya.
Perspektif tersebut merupakan hasil studi doktoralnya di pusat medis akademik yang terafiliasi dengan University of Amsterdam (UoA), Belanda. Ia mempertahankan disertasi berjudul “Home Palliative Care in Indonesia: An Ethnographic Study of Family Involvement and Local Values” pada akhir 2025.
Riset itu dinilai para penguji internasional memberi kontribusi penting bagi pengembangan layanan paliatif di negara berkembang, khususnya pada masyarakat dengan keterbatasan sumber daya namun memiliki jejaring keluarga yang kuat.
Sebagai penerima beasiswa LPDP, dr Bagas menyatakan komitmennya untuk mengembangkan program pelayanan paliatif rumah berbasis komunitas yang sensitif terhadap budaya lokal serta menyusun panduan komunikasi bagi pasien penyakit serius.
Dekan Fakultas Kedokteran target="_blank">