Logo Header Antaranews Jateng

Tips CERDIK Cegah dan Tangani Stroke bagi KJN Abhinaya

Jumat, 1 Mei 2026 11:42 WIB
Image Print
Aktiivitas jalan nordik. (dok)

Semarang (ANTARA) - Matahari baru saja membagi kehangatan sinarnya pada pagi itu di kawasan Gajah Mungkur. Pada Jumat (1/5/2026) pagi itu puluhan lansia, setelah aktivitas jalan nordik, meriung di ruang masjid di Hotel Grasia di Jalan S. Parman Nomor 29 Kota Semarang.

Sekitar 50 lansia--mayoritas kaum hawa--itu bukan sedang menyimak tausiah ustaz. Para lansia yang berhimpun dalam Komunitas Jalan Nordik (KJN) Abhinaya itu tengah serius menyimak penjelasan spesialis darah dr. Wisnu Wardana, Sp.N.

dr. Wisnu Wardana, Sp.N. (dok)


Topik yang dibahas dokter Wisnu dalam sarasehan itu memang penyakit serius yang makin sering kita dengar dan saksikan di lingkungan dekat kita: Stroke.

Dokter Wisnu menyebut setiap tahun di dunia terjadi 12,2 juta kasus baru stroke atau satu kasus setiap 3 detik!

Bisa jadi karena saking seringnya kita lihat, dengar, bahkan membesuk pasien stroke--baik terdiagnosis karena penyumbatan maupun perdarahan--kita menganggapnya sebagai penyakit biasa.

Padahal penyakit ini memiliki implikasi fatal jika telat beberapa jam saja dalam mengambil tindakan pertama kedaruratan. Fatal bukan saja bagi yang terkena stroke, melainkan juga menjadi "penderitaan" panjang bagi keluarganya karena proses pemulihannya butuh waktu lama dengan kesabaran level dewa.

Data menunjukkan stroke menjadi penyebab utama disabilitas dan penyebab kematian nomor dua di dunia. "Kejadian stroke melonjak 50 persen dalam 17 tahun terakhir," ujarnya.

Lantas apa saja faktor risiko stroke? Dokter Wisnu membagi dua faktor. Yang pertama faktor yang tidak bisa dimodifikasi: Usia lebih dari 55 tahun; jenis kelamin pria; terutama ras hitam; genetik dan riwayat keluarga; dan riwayat stroke sebelumnya.

Faktor kedua yang bisa dikendalikan. Menurut dia, peningkatan tekanan darah sebagai penyebab utama (56 perse); obesitas (24 %); kadar gula darah tinggi (20 %); pola makan yang buruk (31 %); kolestrol LDL yang tinggi (10 %); gangguan fungsi ginjal (8 %). Selain itu juga polusi udara (20 %); kebiasaan merokok (18 %); menenggak minuman beralkohol (6 %); dan aktivitas fisik yang kurang (2 %).

Karena penyebab stroke sudah dikenali maka ada sejumlah tindakan pencegahan yang bisa dilakukan. Dokter Wisnu meringkas tindakan pencegahan dengan akronim ringkas dan mudah diingat: CERDIK

1. Cek kesehatan secara rutin
2. Enyahkan asap rokok
3. Rajin aktivitas rutin
4. Diet seimbang
5. Istirahat cukup
6. Kelola stres

Dokter Wisnu mengingatkan bahwa stroke merupakan kegawatan sehingga pengenalan segera gejala stroke oleh diri dan keluarga amat penting. "Gejala stroke pasti terjadi mendadak sehingga harus segera dibawa ke rumah sakit. Jangan ditunda!" katanya mengingatkan.

Ia memaparkan "periode emas" penanganan penderita stroke. Ketika mendapati gejala stroke, kurang dari 2 jam harus dibawa ke IGD rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dan obat.

Begitu masuk IGD, pasien harus langsung mendapatkan penanganan dokter, mulai dari CT scan, laboratoium, dan obat. Paling lama 2,5 jam harus tuntas sehingga pasien bisa diselamatkan menuju proses pemulihan di kemudian hari.

Jadi, sejak pasien dikenali terkena serangan stroke hingga penanganan kegawatdaruratan oleh paramedis, hanya tersedia waktu 4,5 jam.

"Inilah golden period untuk penyelamatan pasien dari serangan stroke," tegas dr. Wisnu.

Penanganan yang cepat dan tepat memberi pasien harapan besar untuk pulih dari serangan pertama stroke.


Maanfaat Komunitas Jalan Nordik

Di tempat sama, Penasihat KJN Abhinaya, Ir. Soehartono Soedibyo, M.Eng, menyatakan berdasarkan penelitian, sebelum aktivitas jalan nordik lebih baik didahului senam selam 20 menit lalu 40 menit berjalan kaki pakai tongkat "ski" itu.

Jalan nordik disebut memperlancar aliran darah dari kaki hingga kepala.

Hartono memberi catatan bahwa jalan nordik berdampak baik bagi jiwa raga manakala kecepatannya 2,7 kilometer/40 menit atau 1 meter/detik.

Mengutip hasil riset, Hartono mengungkapkan bahwa 84 persen manusia yang tidak bisa berdiri dalam posisi seimbanng satu kaki selama 10 detik tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari 10 tahun.

Menurut Hartono, ada lima indikator kesehatan tubuh untuk dapat berumur panjang dan tetap sehat. Kelimanya adalah kekuatan tangan, keseimbangan tubuh, kecepatan jalan kaki, kelenturan otot, dan umur psikologis.

Ia menekankan pentingnya aktivitas jalan kaki secara berkelompok (komunitas). Sekitar 85 persen orang yang olahraga sendiri akan berhenti melanjutkan setelah 3 bulan. Mengapa?

"Berolahraga secara berkelompok lebih menyenangkan, gembira. Itulah sebabnya orang yang berolahraga secara berkelompok lebih awet berlatih daripada yang sendirian," ujarnya.

Menjaga Kualitas Hidup

Ketua KJN Abhinaya, Indrawati Heru, mengharapkan anggotanya mendapatkan bekal pengetahuan yang memadai dari sarasehan tersebut.
"Itu sebagai bekal menjaga kualitas hidup kita agar tetap aman dan nyaman. Kita memang harus hati-hati di usia kita yang sudah lansia," tutur Indrawati Heru.
Nordikers KJN Abhinaya yang mengisi deret dinding masjid terlihat antusias mengikuti sarasehan itu. Begitu dr. Wisnu mengakhiri paparan slide-nya, mengalir deras pertanyaan seputar penyakit tersebut.
"Saya mohon sarasehan (kesehatan) seperti ini sering-sering diadakan. Kita jadi tahu apa yang harus dilakukan untuk mencegah stroke atau bertindak ketika serangan mendadak itu terjadi," ujar Dra. Siti Wahyuni, M.M.
Hadir dalam sarasehan kesehatan singkat namun berdampak itu, antara lain, Ketua KJN Semarang, Ir. H. Zaenal Achmad Johan, Dipl.HE beserta ibu, Penasihat KJN Abhinaya Mintasih, serta nordikers Abhinaya. ***



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026