Jakarta (ANTARA) - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membukukan kinerja positif hingga akhir triwulan IV 2025 dengan perolehan laba bersih sepanjang tahun 2025 sebesar Rp57,13 triliun, ditopang oleh perbaikan fundamental dan inisiatif transformasi yang dilakukan perseroan.

“Dengan berbagai inisiatif transformasi yang telah berjalan dengan baik, kinerja keuangan BRI hingga akhir 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan,” kata Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam konferensi pers Paparan Kinerja Keuangan Triwulan IV 2025 secara daring di Jakarta, Kamis.

Total aset BRI per akhir 2025 tumbuh sebesar 7,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp2.135 triliun. Adapun penyaluran kredit tumbuh sebesar 12,3 persen yoy menjadi Rp1.521 triliun dengan fokus penyaluran pada segmen UMKM.

Hery menyampaikan, pencapaian kredit BRI tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan nasional yang sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 9,6 persen.

Selanjutnya, dana pihak ketiga (DPK) BRI juga menunjukkan peningkatan yang solid dengan pertumbuhan sebesar 7,4 persen yoy menjadi sebesar Rp1.467 triliun dengan dana murah atau CASA tumbuh mencapai 12,7 persen yoy.

Dana murah yang kuat terlihat dari pertumbuhan giro yang mencapai 19,7 persen yoy dan tabungan 7,9 persen yoy. Hal ini mendorong rasio CASA meningkat hingga 70,6 persen, menandakan biaya dana yang semakin efisien.

Tercatat biaya dana (cost of fund) DPK BRI pada akhir 2025 mengalami penurunan menjadi sebesar 2,9 persen atau membaik dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024 yang sebesar 3,1 persen.

Direktur Treasury and International Banking BRI Farida Thamrin menambahkan bahwa kinerja keuangan dan profitabilitas positif BRI didukung oleh kondisi likuiditas yang memadai.

Hal tersebut tercemin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) yang berada di level ample sebesar 91,4 persen. Angka ini memberikan ruang bagi BRI untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, liquidity coverage ratio (LCR) juga terjaga di level 136,9 persen dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 117,7 persen atau jauh di atas ketentuan regulator yaitu 100 persen.

“Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas terus menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur dana pihak ketiga atau pendanaan yang lebih optimal,” kata Farida.

Dari sisi permodalan, saat ini kondisi permodalan BRI cukup kuat dengan rasio capital adequacy ratio (CAR) berada di level 23,52 persen atau di atas ketentuan minimum regulator.

Posisi ini, ujar Farida, menunjukkan kapasitas permodalan BRI yang memadai untuk menopang ekspansi bisnis secara prudent, menyerap potensi resiko, serta menjaga stabilitas dan ketahanan perseroan.

Dengan struktur permodalan yang kokoh, BRI masih memiliki ruang yang cukup untuk terus mendorong pertumbuhan kredit, khususnya segmen UMKM dan pembiayaan produktif sejalan dengan komitmen mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Dari sisi indikator kualitas kredit, perseroan berhasil menurunkan loan at risk (LAR) dari semula dari sebesar 10,7 persen pada akhir 2024 menjadi 9,6 persen pada akhir 2025.

Hingga akhir tahun 2025, rasio non-performing loan (NPL) BRI juga terkendali di level 3,07 persen. Hal ini, ujar Farida, menjadi semakin relevan mengingat portofolio BRI yang mayoritas disalurkan ke segmen UMKM yang secara karakteristik memiliki risiko yang lebih granular.

“Sehingga NPL yang rendah ini menunjukkan efektivitas strategi manajemen risiko yang solid dan penerapan prinsip kehati-hatian secara konsisten,” ujar dia.

Dengan kualitas kredit yang terjaga tersebut, BRI juga tetap menyediakan pencadangan yang sangat memadai dengan NPL coverage sebesar 178,1 persen.

Dengan coverage ratio yang memadai, Farida mengatakan bahwa BRI tidak hanya mampu menjaga stabilitas neraca secara berkelanjutan. Lebih dari itu, juga memberikan keyakinan kepada investor, regulator, dan seluruh pemangku kepentingan bahwa perseroan memiliki fundamental yang kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi dan tantangan pasar.