Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan mampu mengurangi angka kebutuhan rumah atau backlog di wilayah tersebut sebanyak 274.514 unit pada 2026.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jateng Boedyo Dharmawan, di Semarang, Kamis, mengatakan bahwa angka itu merupakan capaian yang berhasil diraih selama 2025.

"Kami berharap dapat mencapai angka-angka tersebut sehingga beban backlog perumahan benar-benar bisa terselesaikan pada masa kepemimpinan kepala daerah," katanya.

Ia menjelaskan bahwa pengurangan angka backlog selama 2025 itu berkat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan, Baznas, dan partisipasi berbagai masyarakat.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi terus mengupayakan agar backlog di wilayah tersebut berkurang secara signifikan. Di antaranya, dengan menggandeng seluruh elemen masyarakat, pengusaha melalui CSR, Baznas, hingga organisasi pengembang perumahan.

Di sisi lain, ia juga terus memperjuangkan agar masyarakat terdampak bencana yang membutuhkan relokasi bisa segera mendapatkan hunian, baik hunian sementara maupun hunian tetap.

Untuk itu, mantan Kapolda Jateng itu menegaskan bahwa kolaborasi semua pihak sangat penting.

Sebelumnya, Gubernur Ahmad Luthfi, didampingi Kepala Disperakim Jateng juga menghadiri rapat koordinasi bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP) Maruarar Sirait di Jakarta, Rabu (25/2).

Terkait percepatan pemenuhan perumahan dan rumah layak huni, Menteri PKP Maruarar Sirait mengapresiasi Pemprov Jateng yang sudah menganggarkan dalam Angga Pendapatan dan Belanja daerah (APBD).

Selama 2025, Pemprov Jateng mengalokasikan anggaran perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) sebanyak 17 ribu unit.

"Saya berterima kasih kepada pemerintah daerah yang sudah menganggarkan untuk rumah layak huni, seperti yang dilakukan di Jawa Tengah," katanya.


Baca juga: Pemprov Jateng: Backlog rumah berkurang 274.514 unit selama 2025