Solo, Jateng (ANTARA) - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah,  menciptakan celana apung untuk mitigasi kondisi darurat banjir.

"Produk celana apung ini memiliki kelebihan tersendiri, yakni bersifat tahan air dan tahan angin," kata Ketua Tim PKM-K FKIP Andian Hidayat di Solo, Kamis.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Geografi ini mengatakan celana tersebut dapat digunakan sebagai celana pada umumnya dan bisa dikembangkan dalam keadaan darurat.

Baca juga: UNS kembangkan pertanian urban untuk angkat perekonomian masyarakat
Baca juga: Bantu petani, alumnus UNS bangun bisnis Desa Organik

"Sehingga sifatnya fleksibel. Selain itu juga mempunyai katup udara untuk memudahkan penggembungan dan mempunyai sistem 'double layer' dan mempunyai corak batik khas nusantara," katanya.

Langkah pertama agar celana apung dapat bekerja, dikatakannya, adalah dengan membuka katup udara yang terdapat di samping badan celana. Selanjutnya adalah meniup beberapa kali hingga gelembung pelampung benar-benar menggelembung secara optimal mengisi seluruh ruang kosong di dalam celana apung.

"Ketiga, setelah gelembung pelampung terisi udara, segera tutup katup udara dengan rapat. Terakhir, celana apung dapat digunakan untuk mengapung di atas air," katanya.

Ia berharap inovasi yang dikembangkan oleh tim program kreativitas mahasiswa kewirausahaan dengan anggota Ajeng Pangesti dan Toni Pranada dari Prodi Pendidikan Geografi, serta Ava Ananda Gitaloka dan Rahma Surya Kusuma Putri dari Prodi Pendidikan Bahasa Jawa ini dapat menyumbang medali emas untuk UNS.

"Pada bulan Agustus diagendakan sudah bisa dirilis produk celana apung dan semoga karya PKM-K ini bisa menyumbang medali emas di pagelaran Pimnas 34 mendatang," katanya.

Sementara itu, Kepala Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Geografi FKIP UNS Yasin Yusup menyambut baik ide tersebut.

Menurut dia, celana apung menjadi ide yang cemerlang terkait mitigasi bencana banjir di Indonesia karena merupakan bencana yang paling sering terjadi.

"Pada tahun 2020, ada 1.518 kejadian dengan cakupan wilayah yang luas dan korban yang terdampak juga banyak. Adanya inovasi celana apung bukan hanya berpotensi untuk mengurangi risiko banjir tetapi juga menjadi peluang untuk variasi baru pariwisata air," demikian Yasin Yusup.


 

Pewarta : Aris Wasita
Editor : Antarajateng
Copyright © ANTARA 2024