Jurnalis Antara dianiaya, Polda: Oknum anggota akan diproses
Selasa, 24 September 2019 18:11 WIB
Wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara (LKBN) Antara, Muh Darwin Fatir menjadi salah seorang korban kekerasan dari aparat keamanan saat meliput demo mahasiswa di Makassar, Selasa (24/9/2019). ANTARA Foto/Suriani Mappong
Makassar (ANTARA) - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menegaskan akan melakukan penyelidikan dan evaluasi serta memberikan sanksi tegas kepada oknum anggota yang melakukan penganiayaan terhadap sejumlah wartawan, termasuk jurnalis Kantor Berita Antara, Darwin Fatir, saat peliputan demo mahasiwa di daerah itu.
"Saat ini semua anggota di lapangan masih bertugas dan nanti langsung kita lakukan evaluasi setelah unjuk rasa selesai," ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani di Makassar, Selasa.
Ia mengatakan pada saat bentrokan terjadi banyak anggota terkadang tidak mengenali wartawan karena kurangnya identitas yang melekat pada diri wartawan.
Dicky berharap semua wartawan yang meliput di lapangan, apalagi unjuk rasa besar-besaran hendaknya memakai atribut lengkap.
Baca juga: Wartawan Antara jadi korban kekerasan aparat
Terkait dengan cukup banyaknya wartawan menjadi korban penganiayaan termasuk wartawan LKBN ANTARA, Darwin yang dihajar menggunakan pentungan hingga kepalanya berlumuran darah tetap akan diselidiki.
"Yang pertama sekali kami meminta maaf atas kejadian itu dan selanjutnya melakukan penyelidikan. Kami pastikan tindakan penganiayaan itu akan diproses sesuai dengan aturan," jelasnya.
Sebelumnya, Wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara (LKBN) Antara, Muh Darwin Fatir menjadi salah seorang korban kekerasan dari aparat keamanan saat meliput demo mahasiswa di Makassar.
Menurut salah seorang wartawan, Ishak dari Makassar Today yang turut meliput bersama Darwin di sekitar Kantor DPRD Sulsel, Selasa, aksi pemukulan terhadap Darwin tidak dilihat karena dia juga sempat kena pukul aparat yang memukul mundur mahasiswa dari depan Gedung DPRD Sulsel.
Baca juga: Kunjungan Menkumham di Nusakambangan diwarnai "walk out" wartawan
Tak lama berselang, baru terlihat dari lorong samping Show room NV Hadji Kalla yang berada di dekat fly over, diseret beberapa petugas kepolisian.
Kondisi kepalanya berdarah dan di bagian perutnya terlihat bekas sepatu laras. Baju yang dikenakan berwarna putih motif juga terlihat jelas bekas tapak sepatu laras.
Selain Darwin yang mendapat perlakuan represif dari aparat kepolisian, wartawan ini, kata Ishak, juga mendapat kekerasan. Sementara mahasiswa yang demo juga banyak yang luka-luka setelah bentrok dengan aparat keamanan.
Wartawan dan mahasiswa yang luka-luka dilarikan ke rumah sakit terdekat yakni RS Awal Bros. Lobi rumah sakit juga dimanfaatkan untuk menampung mahasiswa yang luka-luka dengan menggunakan tandu seadanya, karena ruangan UGD sudah penuh dengan pasien.
"Saat ini semua anggota di lapangan masih bertugas dan nanti langsung kita lakukan evaluasi setelah unjuk rasa selesai," ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani di Makassar, Selasa.
Ia mengatakan pada saat bentrokan terjadi banyak anggota terkadang tidak mengenali wartawan karena kurangnya identitas yang melekat pada diri wartawan.
Dicky berharap semua wartawan yang meliput di lapangan, apalagi unjuk rasa besar-besaran hendaknya memakai atribut lengkap.
Baca juga: Wartawan Antara jadi korban kekerasan aparat
Terkait dengan cukup banyaknya wartawan menjadi korban penganiayaan termasuk wartawan LKBN ANTARA, Darwin yang dihajar menggunakan pentungan hingga kepalanya berlumuran darah tetap akan diselidiki.
"Yang pertama sekali kami meminta maaf atas kejadian itu dan selanjutnya melakukan penyelidikan. Kami pastikan tindakan penganiayaan itu akan diproses sesuai dengan aturan," jelasnya.
Sebelumnya, Wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara (LKBN) Antara, Muh Darwin Fatir menjadi salah seorang korban kekerasan dari aparat keamanan saat meliput demo mahasiswa di Makassar.
Menurut salah seorang wartawan, Ishak dari Makassar Today yang turut meliput bersama Darwin di sekitar Kantor DPRD Sulsel, Selasa, aksi pemukulan terhadap Darwin tidak dilihat karena dia juga sempat kena pukul aparat yang memukul mundur mahasiswa dari depan Gedung DPRD Sulsel.
Baca juga: Kunjungan Menkumham di Nusakambangan diwarnai "walk out" wartawan
Tak lama berselang, baru terlihat dari lorong samping Show room NV Hadji Kalla yang berada di dekat fly over, diseret beberapa petugas kepolisian.
Kondisi kepalanya berdarah dan di bagian perutnya terlihat bekas sepatu laras. Baju yang dikenakan berwarna putih motif juga terlihat jelas bekas tapak sepatu laras.
Selain Darwin yang mendapat perlakuan represif dari aparat kepolisian, wartawan ini, kata Ishak, juga mendapat kekerasan. Sementara mahasiswa yang demo juga banyak yang luka-luka setelah bentrok dengan aparat keamanan.
Wartawan dan mahasiswa yang luka-luka dilarikan ke rumah sakit terdekat yakni RS Awal Bros. Lobi rumah sakit juga dimanfaatkan untuk menampung mahasiswa yang luka-luka dengan menggunakan tandu seadanya, karena ruangan UGD sudah penuh dengan pasien.
Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PG-PAUD UMS gelar Outbound Ceria, latih mahasiswa hadapi dunia nyata pendidikan anak
09 May 2026 12:47 WIB
Peminat UMS 2026 meningkat, orang tua dan calon mahasiswa ungkap alasan pilih UMS
02 May 2026 14:47 WIB
Atasi minimnya monitoring pascastroke, mahasiswa UMS sabet Silver Award di MTE 2026
30 April 2026 14:37 WIB
Ratusan mahasiswa UIN Walisongo Semarang kunjungi Semen Gresik pabrik Rembang
27 April 2026 20:34 WIB
Terpopuler - Hukum dan Kriminal
Lihat Juga
Kemenag Pati cabut izin Ponpes Ndolo Kusumo buntut kekerasan seksual terhadap santriwati
07 May 2026 20:41 WIB
Polresta Pati : Dugaan pelecehan Ustadz AS pengasuh ponpes pada santri sejak 2020-2024
07 May 2026 19:18 WIB
Mantan Direktur Syariah Bank Jateng didakwa kasus dugaan korupsi Rp27,7 miliar
07 May 2026 19:13 WIB