
Pemkab Kudus gencarkan patroli bersama Forkopimda cegah tawuran antarpelajar

Kudus (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat menggencarkan patroli bersama untuk mencegah tawuran antarpelajar menyusul adanya kasus pembacokan terhadap seorang siswa di Kudus, Jawa Tengah.
"Segera kita antisipasi. Kami akan rapat koordinasi dengan Forkopimda, kepolisian, TNI, dan pihak sekolah untuk melakukan patroli serta imbauan," kata Bupati Kudus Sam'ani Intakoris ditemui usai mengunjungi korban pembacokan di RSUD Loekmono Hadi di Kudus, Sabtu.
Menurut dia, patroli dan pengawasan diperkuat untuk mencegah konflik antarsiswa, terutama menjelang masa kelulusan sekolah yang rawan memicu gesekan.
Sam'ani menjelaskan pemerintah daerah setempat juga mendorong kegiatan positif bagi pelajar, seperti bakti sosial, kerja bakti lingkungan, dan kegiatan keagamaan agar momentum kelulusan tidak dirayakan dengan aksi negatif.
Selain itu, dia juga meminta orang tua lebih aktif mengawasi anak-anak mereka, terutama penggunaan media sosial dan aktivitas di luar rumah pada malam hari karena pengawasan keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat penting untuk mencegah keterlibatan pelajar dalam tawuran.
Sam'ani mengunjungi Muhammad Izzam, korban dugaan pembacokan di wilayah Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kudus. Kondisi korban disebut mulai membaik dan pihaknya berharap pelaku segera ditangkap kepolisian.
Dia juga berharap media massa dan pengelola media sosial ikut membantu menjaga situasi wilayah tetap kondusif dengan memberikan informasi apabila ada potensi gangguan keamanan.
Sementara itu, kuasa hukum korban, Yusuf Istanto, meminta kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut. Menurut dia, korban mengalami luka sayatan di bagian punggung akibat serangan menggunakan senjata tajam yang diduga dilakukan sekelompok pelajar.
Berdasarkan keterangan korban, peristiwa terjadi saat korban bersama teman-temannya pulang sekolah dan dihadang dua kendaraan yang diduga membawa kelompok pelaku di sekitar pertigaan Poh Dengkol Desa Rejosari.
Kasus tersebut diduga dipicu saling tantang di media sosial antarkelompok pelajar. Korban disebut tidak mengetahui persoalan itu dan diduga menjadi sasaran karena mengenakan seragam sekolah.
Baca juga: Bea Cukai Kudus mencermati tren baru modus peredaran rokok ilegal
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
