Unsoed bantu korban bencana Tsunami Selat Sunda
Senin, 31 Desember 2018 19:30 WIB
Koordinator Pusat Mitigasi Bencana LPPM Unsoed Purwokerto Endang Hilmi (kanan) saat menyusuri lokasi bencana tsunami Selat Sunda di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. (Foto: Dok. LPPM Unsoed)
Purwokerto (Antaranews Jateng) - Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mencanangkan Unsoed Peduli Tsunami Selat Sunda untuk membantu korban bencana tersebut khususnya yang berada di Kabupaten Pandeglang, Banten.
"Segera setelah bencana, Unsoed telah melakukan aksi cepat dengan mengirimkan bantuan bagi korban bencana tsunami Selat Sunda," kata Koordinator Pusat Mitigasi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed Endang Hilmi di Purwokerto, Senin.
Dalam hal ini, kata dia, tim dari Unsoed melakukan kegiatan penanggulangan dan pengurangan risiko bencana tsunami Selat Sunda di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, dan daerah wisata Carita.
Menurut dia, kegiatan tersebut dilakukan selama masa tanggap darurat yang ditetapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan memperhatikan status Gunung Api Anak Krakatau, yakni untuk sementara berlangsung hingga tanggal 9 Januari 2019.
"Kegiatan yang dilakukan Pusat Mitigasi Bencana LPPM Unsoed di antaranya pemberian bantuan kebutuhan makanan bagi pengungsi dan warga terdampak, kebutuhan selimut, kebutuhan dapur umum, 'trauma healing', dan pendataan kerusakan infrastruktur, kapal rusak, serta korban hilang dan meninggal. Saat ini, kami membantu membuat lima dapur umum di Desa Teluk," katanya.
Dia mengatakan pihaknya hanya memberikan informasi kepada Posko BNPB terkait dengan pendataan korban hilang dan meninggal.
Menurut dia, pihaknya juga berkoordinasi dengan Balai Pelabuhan Perikanan Pantai (BP3) Labuan untuk mendata kapal yang rusak.
"Kegiatan PRB (Pengurangan Risiko Bencana) Tsunami Selat Sunda dibuat dalam empat tahapan, yakni tahapan koordinasi serta pengumpulan dana dan bantuan serta koordinasi dengan pihak terkait," katanya.
Selain itu, tahapan ketanggapdaruratan melalui pemberian bantuan, dapur umum, dan "trauma healing" pengungsi, tahapan pascabencana melalui rencana kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mitigasi Bencana, dan tahapan rencana relokasi penduduk sebagai narasumber bagi kegiatan tersebut.
"Saat ini kami bekerja sama dengan ACT (Aksi Cepat Tanggap) dan berencana membuat 'talkshow' tentang penataan kawasan pesisir yang bebas dari bencana. Kami tidak menerjunkan sukarelawan karena keterbatasan civitas akademika yang memiliki sertifikasi sukarelawan," katanya.
Lebih lanjut, Endang mengatakan sumber dana yang digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut di antaranya berasal dari Pusat Pengembangan LPPM Unsoed, Keluarga Alumni Unsoed (KAUnsoed), civitas akademika Unsoed, dan donatur yang dikoordinasi LPPM Unsoed.
"Khusus bantuan dari KAUnsoed yang dipimpin oleh Pak Haiban Hadjid ditujukan untuk membantu kebutuhan pengungsi dan warga terdampak," katanya.
"Segera setelah bencana, Unsoed telah melakukan aksi cepat dengan mengirimkan bantuan bagi korban bencana tsunami Selat Sunda," kata Koordinator Pusat Mitigasi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed Endang Hilmi di Purwokerto, Senin.
Dalam hal ini, kata dia, tim dari Unsoed melakukan kegiatan penanggulangan dan pengurangan risiko bencana tsunami Selat Sunda di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, dan daerah wisata Carita.
Menurut dia, kegiatan tersebut dilakukan selama masa tanggap darurat yang ditetapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan memperhatikan status Gunung Api Anak Krakatau, yakni untuk sementara berlangsung hingga tanggal 9 Januari 2019.
"Kegiatan yang dilakukan Pusat Mitigasi Bencana LPPM Unsoed di antaranya pemberian bantuan kebutuhan makanan bagi pengungsi dan warga terdampak, kebutuhan selimut, kebutuhan dapur umum, 'trauma healing', dan pendataan kerusakan infrastruktur, kapal rusak, serta korban hilang dan meninggal. Saat ini, kami membantu membuat lima dapur umum di Desa Teluk," katanya.
Dia mengatakan pihaknya hanya memberikan informasi kepada Posko BNPB terkait dengan pendataan korban hilang dan meninggal.
Menurut dia, pihaknya juga berkoordinasi dengan Balai Pelabuhan Perikanan Pantai (BP3) Labuan untuk mendata kapal yang rusak.
"Kegiatan PRB (Pengurangan Risiko Bencana) Tsunami Selat Sunda dibuat dalam empat tahapan, yakni tahapan koordinasi serta pengumpulan dana dan bantuan serta koordinasi dengan pihak terkait," katanya.
Selain itu, tahapan ketanggapdaruratan melalui pemberian bantuan, dapur umum, dan "trauma healing" pengungsi, tahapan pascabencana melalui rencana kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mitigasi Bencana, dan tahapan rencana relokasi penduduk sebagai narasumber bagi kegiatan tersebut.
"Saat ini kami bekerja sama dengan ACT (Aksi Cepat Tanggap) dan berencana membuat 'talkshow' tentang penataan kawasan pesisir yang bebas dari bencana. Kami tidak menerjunkan sukarelawan karena keterbatasan civitas akademika yang memiliki sertifikasi sukarelawan," katanya.
Lebih lanjut, Endang mengatakan sumber dana yang digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut di antaranya berasal dari Pusat Pengembangan LPPM Unsoed, Keluarga Alumni Unsoed (KAUnsoed), civitas akademika Unsoed, dan donatur yang dikoordinasi LPPM Unsoed.
"Khusus bantuan dari KAUnsoed yang dipimpin oleh Pak Haiban Hadjid ditujukan untuk membantu kebutuhan pengungsi dan warga terdampak," katanya.
Pewarta : Sumarwoto
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Anggota DPR RI mengajak kader PMII untuk peduli terhadap kesehatan mental remaja
05 March 2026 8:41 WIB
BRI Peduli Yok Kita Gas, wujud komitmen Astacita lingkungan tangani sampah
21 February 2026 22:59 WIB
Terpopuler - Bencana Alam
Lihat Juga
PLN UID Jateng salurkan bantuan sembako untuk warga Demak yang terdampak banjir
11 April 2026 6:02 WIB