Logo Header Antaranews Jateng

Pemkab Kudus siap fasilitasi perkembangan ponpes peduli autis

Jumat, 1 Mei 2026 15:05 WIB
Image Print
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris saat berkunjung ke Pondok Pesantren Autis yang dikelola Yayasan Autisme Islamic Boarding School Al-Achsaniyyah di Kudus, Jawa Tengah, Jumat (1/5/2026). (ANTARA/HO. Pemkab Kudus.)

Kudus (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi dan mendukung penuh keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Achsaniyyah di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, karena satu-satunya pesantren yang memberikan pendidikan bagi penyandang autisme.

"Pemerintah daerah juga akan melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk bersama-sama membantu kebutuhan pondok pesantren tersebut. Kami juga menyerahkan bantuan dari Baznas sebesar Rp10 juta," kata Bupati Kudus Sam’ani Intakoris usai penyerahan bantuan dalam kegiatan Safari Jum'at di Masjid Ustman Bin Affan, Yayasan Autisme Islamic Boarding School Al-Achsaniyyah di Kudus, Jumat.

Ia berharap semua OPD "sengkuyung" bareng membantu, minimal meringankan kebutuhan ponpes yang santrinya merupakan penyandang autis.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati hadir didampingi Sekretaris Daerah Kudus beserta jajaran, serta pimpinan Yayasan Al-Achsaniyyah, Moh. Faiq Afthoni. Kehadiran pemerintah daerah ini menjadi bentuk perhatian terhadap lembaga pendidikan yang fokus pada anak-anak berkebutuhan khusus.

Menurut Bupati pengelolaan ponpes yang dilakukan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk turut hadir dan memberikan dukungan.

Ia menegaskan berbagai pihak, termasuk aparat setempat, siap bersinergi dalam mendukung kegiatan sosial dan pendidikan bagi anak-anak autis.

Saat ini, jumlah santri di Ponpes Al-Achsaniyyah mencapai 121 orang, dengan dukungan 135 tenaga pengajar. Rasio pengajar yang cukup besar ini diperlukan mengingat setiap santri membutuhkan perhatian khusus dan pendampingan intensif.

Kepala Desa Pedawang Sofian Alfianto menambahkan para santri berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, sebelumnya ponpes ini sempat ada pendaftar santri dari luar negeri, namun belum bisa diterima karena kendala bahasa.

"Ke depan, rencananya akan kembali menerima santri dari luar negeri dengan menjalin kerja sama dengan pihak lain yang nantinya bisa mengatasi permasalahan komunikasi tersebut," ujarnya.

Ia mengungkapkan setiap santri bisa didampingi dua hingga tiga tenaga pengajar, mengingat kebutuhan khusus yang dimiliki penyandang autisme memerlukan pendekatan yang lebih intensif dan personal.

Dengan dukungan dari pemerintah daerah dan berbagai pihak, diharapkan Ponpes Al-Achsaniyyah dapat terus berkembang dan memberikan layanan pendidikan yang optimal bagi penyandang autisme.



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026