Ketika Asian Games 2018 di Jakarta baru sehari dibuka, empat pemain basket Jepang dipulangkan ke negaranya. Kepala Delegasi Asian Games Jepang, Yasuhiro Yamashita, mengungkapkan kesalahan empat pebasket Jepang, yakni menginap bersama perempuan bayaran dan mabuk-mabukan.

"Pesta" yang dilakukan oleh empat atlet Jepang setelah timnya menang atas Qatar 82-71 tersebut memang konyol karena saat itu mereka masih mengenakan kaus berlogo Timnas Jepang.

Terhadap "kenakalan" empat atlet Jepang itu, Komite Olimpiade Jepang menilai mereka telah melanggar kode etik tim yang mengharuskan setiap atlet bertindak sebagai teladan.

Perkara etik memang bukan hal yang sepele bagi bangsa Jepang. Apalagi bila sudah menyangkut harga diri dan martabat bangsa Jepang. Jepang adalah model negara modern yang hingga hari ini masih memelihara dengan sangat baik tradisi dan nilai-nilai luhur yang menjadi modal bangsa tersebut dalam meraih kemajuan.

Sikap tegas Kepala Delegasi Asian Games Jepang memulangkan empat atlet yang bertindak di luar disiplin dan menodai keteladanan tersebut bisa dibaca sebagai penerapan atas nilai-nilai luhur bangsa Jepang. Tidak ada kompromi terhadap penodaan martabat bangsa kendati tim basket Jepang di Asian Games 2018 kini hanya menyisakan delapan pemain. 

Konsekuensinya, pilihan dan rotasi pemain makin terbatas. Delapan pemain yang tersisa masing-masing dituntut menjadi samurai, perwira yang mengabdi kepada majikannya, dalam hal ini negara. Mereka ini dituntut bekerja dengan etik Bushido yang menekankan pentingnya kemenangan atas pihak lawan dengan terlebih dulu menaklukkan ego pribadi.

Sebagai tuan rumah, kita sungguh respek dengan apa yang diputuskan Kontingen Asian Games Jepang karena mereka begitu terbuka dan secepat kilat mengambil keputusan. Sebenarya, bisa saja Kontingen Jepang menutupi atau minta maaf kemudian membiarkan keempat pemain nakal tersebut tetap bergabung dalam tim.

Namun, semangat Bushido mengharamkan tindakan setengah-setengah seperti itu. Diperlukan totalitas untuk mencapai tujuan. Dan itu terbukti. Jepang hanya butuh waktu belasan tahun untuk kembali bangkit setelah kalah dalam Perang Dunia II. Tidak lama kemudian Jepang menjadi kekuatan ekonomi dunia bersama AS dan negara-negara maju Eropa hingga hari ini.

Salah satu etik penting dalam Bushido adalah Meiyo, yakni menjaga nama baik dan kehormatan. Samurai akan menghormati etika, bukan talenta. Dan, mereka menghormati perbuatan, bukan pengetahuan. Salah satu cara mereka menjaga kehormatan, seperti diulas dalam Horison Budaya, adalah tidak menyia-nyiakan waktu dan menghindari perilaku yang tidak berguna. 

Dalam konteks etik itulah kita bisa memahami keputusan Kontingen Asian Games Jepang memulangkan empat atletnya yang gagal menjaga nama baik dan kehormatan bangsa.

Sementara itu, kita sering menyaksikan pembiaran-pembiaran atas pelanggaran yang dilakukan pejabat publik dengan dalih demi menjaga stabilitas koalisi atau agar citra tidak ternoda.

Bagi bangsa Jepang, nama baik dan kehormatan sama bermaknanya dengan pencapaian prestasi puncak. Dari sini kita bisa bercermin, betapa nilai-nilai etik bisa bekerja efektif dalam memandu perilaku setiap anak bangsa. ***
 

Pewarta : Achmad Zaenal M
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2024